THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
MENJENGUK BUNDA


__ADS_3

Karin ditemani Erick memasuki rumah sakit ternama diJogja, mereka berdua berlari menyusuri koridor menuju ruang rawat bunda, sementara Johan dan Felix menyusul dibelakang, Ersya tidak ikut karena dia ingin bersama paman dan bibinya dirumah Karin sekaligus melihat butiknya karena sudah lama tidak kesana.


Seorang pria paruh baya masih setia nenunggu disamping istrinya, dia menatap nanar wajah sang istri berharap dia membuka mata dan menyapa dirinya.


Cklek...


Suara pintu terbuka terlihat Karin tersengal-senggal dan menelan salivanya dengan berat, dia berjalan berlahan mendekat keseorang pria paruh baya yang sudah berdiri menatap dirinya.


Karin langsung memeluk pria itu. "romo maafkan aku, harusnya aku menghubungimu lebih dulu" kata Karin sambil tetap memeluk pria paruh baya yang dipanggil romo itu.


"kalo begitu lain kali jangan diulangi lagi terima kasih sudah mau datang" balas romo sambil mengusap punggung Karin.


Karin melepas pelukannya lalu melihat bunda yang terbaring lemah dirumah sakit. Dia memeluk bunda membisikan sedikit kata ditelinga bunda.


"bunda cepatlah bangun aku menunggumu, aku kangen bicara denganmu" bisiknya ditelinga sang bunda. Dia meraih tangan bunda dan menaruhnya dipipi.


"bagaimana keadaan bunda romo?" tanya Erick.


"tidak ada kemajuan" jawab romo menggelengkan kepalanya.


"romo izinkan aku menjaga bunda romo pulang istirahat besok kesini lagi" sahut Karin tanpa melihat kearah keduanya.


"baiklah kalo itu yang kamu inginkan tapi jangan lupa istirahat" balas romo.


"jangan kawatir aku tak akan kenapa-napa percaya sama aku" Karin berkata sambil tersenyum seolah tanpa beban membuat romo tanpa sadar ikut tersenyum juga.


Karin meraih hp menelfon seseorang. "Lix antar romo pulang pastikan dia selamat sampai tujuan" titahnya sama supir bernama Felix.


"ok siap bos" balasnya dari seberang.


Tak berapa lama Felix tiba menjemput romo dengan senyum khasnya.


"mari tuan saya antar dengan selamat sampai dirumah" kata Felix tersenyum ramah.


terima kasih" kata romo lalu masuk kemobil dia membuka kaca melihat kearah Karin.


"kalo ada apa-apa cepat hubungi aku" ucap romo.


"iya romo" balas Karin. "hati-hati dijalan jangan lupa makan yang banyak dan segera istirahat" lanjutnya karena dia melihat sang romo kurang tidur dan wajahnya terlihat tirus.

__ADS_1


"ya, terima kasih sudah peduli sama romo" romo berkata sambil tersenyum kecil terlihat jelas kalo senyuman itu dipaksakan, walau bagaimanapun dia tak akan bisa berhenti memikirkan istrinya yang terbaring lemah dirumah sakit.


"hati-hati romo, aku yakin bunda pasti akan segera sembuh" sahut Erick dari samping.


"emm kalian berdua hati-hati romo pulang dulu ya sampai ketemu besok" setelah berkata romo menaikan kaca mobilnya. Berlahan mobil yang ditumpangi romo meninggalkan rumah sakit.


"ayo Bi kita juga harus balik kekamar bunda" ajak Erick sama Karin.


"sepertinya aku harus melakukan sesuatu sama bunda" batin Karin yang terus berjalan bersama Erick menuju kamar rawat bunda.


"Erchan aku kepingin makan lupis katanya enak, tolong belikan dong Erchan" Karin sengaja menyuruh Erick membeli makanan yang jarang ada diJogja.


Lupis merupakan makanan khas Indonesia terutama daerah Jawa. Ada dua bentuk lupis yang umum ditemui: segitiga atau bulat memanjang seperti lontong[1]. Lupis dibuat dari beras ketan yang dimasak lalu dibungkus dengan daun pisang. Dimakan bersama parutan kelapa dan gula merah yang dimasak kental.


"itu makanan jarang ada kalo tidak pesan dulu, kamu ini lagi ngidam atau apa sih" gerutu Erick.


"Erchan apa kau tahu..." belum selesai Karin bicara ucapannya sudah dipotong lebih dulu sama Erick.


"aku gak tahu!!!" ketusnya membuat Karin berwajah cemberut tak suka.


"ya sudah aku cari sendiri saja sampai ketemu gak usah temenin aku" Karin berkata dengan nada marah lalu berbalik badan hendak berjalan keluar.


Erick segera meraih tangan Karin. "tunggu Bi aku cuma bercanda" katanya.


"ya allah ya robbi sayangku, cintaku, lope-lope, my honey cuma segitu saja marah, kamu lama-lama marahnya kaya wanita Bi" kata Erick.


Karin mendekatkan wajahnya. "kalo iya kenapa?" katanya.


"entah kenapa dia lebih menakutkan daripada bunda" batin Erick berkeringat dingin.


"g g g gak usah ditanya kau pastinya sudah tahu kan" kata Erick terbata. Karin diam dan berwajah serius.


"mau jalan apa tidak"


"iya jalan kamu tunggu diruang bunda saja, kamu mau yang segitiga atau bulat memanjang seperti lontong" tanya Erick.


"apanya!!?"


"ya lupisnya, kamu pikir apaan"

__ADS_1


"dua-duanya kamu bawa kesini pokoknya sampai dapat, cek out"


"astogfhirlloh untung aku padamu kalo tidak tak akan kupenuhi keinginanmu itu" Erick berjalan sambil ngedumel hingga dipandang aneh sama orang-orang rumah sakit.


Johan hanya bergeleng kepala saja melihat drakor didepannya.


"dari awal ketemu sampai sekarang mereka berdua tak berubah sama sekali, apa ini yang disebut pasangan romantis" batin Johan.


Setelah Erick sudah pergi dan tak terlihat Karin berjalan mendekati Johan.


"buat dia susah mendapatnya sampai urusanku selesai" katanya.


"cuma itu saja" balas Johan singkat.


"ya" cukup singkat jawaban Karin lalu berjalan menuju kamar inap bunda bersama Johan.


"dia itu sebenarnya terlalu bucin apa terlalu bodoh ya, aku tidak tahu harus memberi julukan apa untuknya" kata Johan.


"bukannya sebutan babi sudah cocok untuknya ya"


"kalian pasangan yang sangat romantis dinovel manapun rasanya gak ada pasangan yang seperti kamu dan dia"


"kamu memuji atau menghinaku"


"terserah kamu saja mau mengartikan gimana"


"apa kau tahu yang serba terlalu kadang gak enak hmm"


"tergantung saja"


Sesampainya dikamar bunda. Karin masuk sendirian sedangkan Johan menunggu diluar seperti penjaga pintu. Didalam Karin segera melakukan kewajibannya supaya bunda cepet sadar, dia yang pernah belajar kedokteran diluar negri bahkan melakukan penelitian secara rinci berharap apa yang dia lakukan bisa membuat bunda lebih baim dari sebelumnya.


"ya tuhan tolong bantulah hambamu" doa Karin dalam hati.


Sementara itu sang kakek dan nenek Karin yang belum mengetahui kebenarannya masih melakukan pencariannya. Fay sang kakek terus marah-marah frustasi membuat sang istri ikut stres juga.


"kenapa kamu gak kirim seseorang kekediaman cucu kita, memastikan apa dia sudah pulang apa belum" teriak Louris tanpa sadar saking kesalnya terhadap Fay suaminya.


Mendengar perkataan istrinya Fay segera menurutinya dan mengirim seseorang pergi kerumah Karin yang berada diJakarta.

__ADS_1


*****


Jangan lupa like, come😘😍


__ADS_2