
Erick dalam keadaan tak berdaya dengan perutnya yang berdarah, berjalan gotai terhuyung-huyung menahan rasa sakit wajahnya pucat bagaikan mayat keringat keluar dari sela-sela rambut didahi. Dia ulurkan tangannya meraih sesuatu yang ada didepannya, dia paksakan bibirnya bergerak supaya suaranya bisa keluar dan terdengar.
"Chibi" ucapnya lirih dan ambruk tak sadarkan diri membuat Karin tersentak kaget dari tidurnya yang lelap.
"Erchan!!" katanya lirih mengubah posisinya menjadi duduk memegangi kepalanya.
"apa yang terjadi? Beberapa hari ini aku selalu memimpikan dirinya" batin Karin melihat cincin yang masih melekat dijari manisnya menyentuhnya mengingat waktu dia bertukar cincin ditaman hiburan.
Jam baker diatas meja menunjukkan pukul 2:10 pagi Karin tidak bisa memejamkan matanya walau ingin, akhirnya dia keluar kamar berniat menyalahkan TV dia berjalan malas kebawah pikirannya melayang entah kemana yang jelas kekasihnya itu selalu berada difikiran, sampai kakinya tak menyadari ada tangga didepannya.
Badannya kurang keseimbangan ketika kakinya menyentuh anak tangga karena dikira rata membuatnya bergulat sama anak tangga hingga kebawah.
pandangannya menjadi redup sakit dibadan tak dia rasakan tanpa sadar mulutnya memanggil nama Erick kekasihnya, sampai seseorang mengangkatnya dan membaringkannya disofa.
RS Amerika keadaan Erick semakin memburuk membuat mereka bingung sekaligu resah.
"ah menyebalkan sekali kau bocah kalo aku jadi dirimu aku akan mengejarnya sampai dapat dan langsung menikah saja, dengarkan aku bocah cepatlah sembuh dan bawa calon istrimu itu apa kau tidak kasian sama orang tuamu apalagi bundamu badannya semakin kurus mikirin kamu dengar tidak hah" teriak Carline didekat Erick.
Walau diam Erick bisa mendengar apa yang dikatakan Carline tantenya, dia ingin sekali melakukan apa yang diucapkan tantenya tapi dia harus memulihkan badannya dulu, dalam hati dia bertekad akan membawa Karin kembali.
Karin mendapati dirinya berada disofa bawah saat menggerakkan badannya dia merasakan sakit disekujur tubuhnya.
"sakit sekali aku kenapa?" kata Karin bingung mendapati dirinya disofa.
"kamu jatuh dari tangga" jawab Ran Ran sambil membawa segelas air putih.
"terima kasih, aku ingat semuanya" Karin meraih segelas air putih itu dan diteguknya hingga habis.
"kenapa menyiksa diri sendiri jika kau masih menyukainya" mendengar ucapan Ran Ran Karin hanya diam dia tidak menyangka hal yang dia lakukan tak semudah yang dibayangkan.
"tadinya aku berfikir mungkin itu lebih baik daripada membuatnya menjadi target mereka"
"tapi apa yang kau lakukan justru memperburuk keadaan, apa kau tahu kondisinya semakin buruk tiap hari"
"sabarlah ada yang harus kulakukan saat ini"
__ADS_1
"yakin!!"
"tidak tahu" Karin menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan cemberut sementara Ran Ran mendesah kesal mendengar jawaban yang keluar dari mulut Karin.
"tinggal sedikit lagi aku bisa mengorek semuanya, tapi untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi aku harus menemukan Lauran semoga dia masih hidup hingga sekarang" batin Karin.
Hari terus berganti Erick mulai membaik tapi dia buru-buru mencabut jarum infus yang masih melekat ditangannya dan kabur dari rumah sakit. Setelah keluar dari rumah sakit dia langsung menuju bandara tujuannya adalah keIndo rumah Karin.
"apa!! Tadi kau bilang apa kabur dari rumah sakit" kata Karin terkejut begitu mendengar kabar tentang Erick yang kabur.
Dia yang saat ini berada diruang kerja sedang mengumpulkan semua data tentang penelusurannya selama ini dan mencoba mengurutkannya harus menundanya lagi.
"ikuti kemana tujuannya?" titah Karin tegas sama anak buahnya setelah itu mematikan telfonnya.
Karin menyatukan kedua tangannya bertumpu diatas meja dia gunakan tangan itu menjadi sandaran dahinya.
"kemana tujuannya saat ini" gumam Karin lirih.
dia membereskan semua berkas yang ada dimeja dan keluar ruangan mengambil hp yang ada disaku hendak menelfon keJohan.
"Jo aku ingin kau mencari seseorang" ucapnya setelah panggilan terhubung.
"tangan kanan Mateo, untuk orang ini terjunkan tim cerberus dan bebas bertindak" jawab Karin sambil terus berjalan keluar rumah.
"baiklah" kata Johan pendek.
"waktunya berburu dan diburu" batin Karin serius.
Erick kabur dengan memakai jaket Hoodie ninja warna hitam celana pensil jeans menuju bandara. Dia berniat pergi kerumah Karin yang berada diJakarta.
Setibanya diJakarta dia memesan taksi online menuju kerumah Karin, dia ingin memastikan juga butuh penjelasan yang logis kenapa kekasihnya memutuskan dia begitu saja.
"nona sedang diJepang sekarang saya tidak tahu kapan pulangnya" kata pak Aldo begitu ditanya oleh Erick.
"begitu, baiklah aku permisi dulu" balas Erick dengan raut wajahnya kecewa berbalik badan meninggalkan rumah Karin.
__ADS_1
Dari dalam taksi yang dia tumpangi dia melihat gerbang rumah Karin dengan kecewa, dia melihat mobil Johan baru tiba segera dia turun dari taksi dan menghadang mobilnya.
"bukannya dia belum sembuh" batin Johan yang terkejut melihat Erick berdiri tepat didepannya.
"hei jangan bilang kamu kabur dari rumah sakit" kata Johan menghampiri Erick.
"Han kumohon padamu jangan sembunyikan dia, katakan padaku dia ada dimana saat ini?" tanya Erick menggenggam erat lengan Johan.
Johan menghela nafas sejenak dia mengajak Erick untuk ngobrol berdua disebuah caffe.
"seharusnya kamu tahu dia mengajak pisah ada alasannya" kata Johan memulai.
"kalo dia mengajak pisah hanya untuk melindungiku aku tak bisa menerimanya" kata Erick.
"kau tahu posisinya kaya gimana selain itu dia memiliki sesuatu yang harus diselesaikan secepat mungkin" tutur Johan Erick hanya diam dia tak mengerti jalan pikiran Karin kekasihnya.
Dulu dia berfikir jika orang saling menyukai maka mereka akan melewati suka duka bersama, tapi dipikiran Karin berbeda dia justru tidak mau Erick terlibat masalah karena dirinya yang seorang Mafia, Erick dijaga juga diawasi tanpa sepengetahuan dirinya mencoba sebisa mungkin agar musuhnya tidak memanfaatkannya.
Erick memandang Johan serius dia menetapkan hati kali ini apapun yang terjadi dia ingin menemui Karin kekasihnya.
"dimana dia biarkan aku bertemu dengannya Han" kata Erick serius.
"baiklah jika itu yang kau inginkan tapi rasanya sulit karena dia orangnya jarang ada dirumah"
"tak masalah aku akan menunnggunya"
"dia berada dirumah pribadinya sendiri lima kilometer dari gedung MIG arah timur laut tempat ini melewati hutan, dia sengaja memilih tempat seperti ini untuk menenangkan diri" tutur Johan menjelaskan.
"terima kasih sudah memberi tahu"
Begitu mendapat lokasi rumah pribadinya dia segera meluncur kesana, Karin memiliki rumah pribadi sendiri untuk menenangkan pikirannya jika dia sedang buntu mencari jalan dalam mengulas masalahnya.
Rumah ini melewati hutan tidak ada penjagaan hanya ada kamera tersembunyi disetiap sudut jalan, dirumahpun juga tidak ada pengawal karena dia tidak suka banyak orang dirumah pribadinya. Karena tidak ada penghalang Erick bisa tiba dengan aman tanpa halangan.
Rumah besar bagaikan istana tapi nampak sunyi tanpa penghuni Erick berdiri memandang rumah itu dengan harapan bisa bertemu sama kekasihnya. Jika dia tidak ada maka dia akan menunggunya hingga datang.
__ADS_1
*****
Penasaran kelanjutan ceritanya jangan lewatkan episod selanjutnya dan dukungannya.🤗🥰🤩