
"Bi kamu tidak apa?" sebuah suara dan guncangan badannya membuat dia tersentak dari lamunannya.
Dia melihat kesamping dengan keringat dingin yang keluar dari sela-sela rambut didahinya.
"kamu tidak apa dari tadi ngelamun terus" suara itu membuatnya tersadar akan keberadaannya saat ini.
Setelah kedua orang tua itu keluar dari rumahnya dia sendiri langsung mengemudikan mobilnya menuju apartemen Erick berharap dia mendapat ketenangan disana.
Kebetulan Erick sendiri baru selesai mandi dan sangat senang sama kedatangan Karin keapartemen.
Karin yang tiba duduk disofa menyandarkan badannya kebelakang menghela nafas panjang, begitu rumit kehidupan yang dia jalani bagaikan berjalan diatas kerikil yang tajam dan harus menahan rasa sakit itu.
"maaf Erchan aku tak apa" kata Karin memegangi dahinya.
Erick memegang wajah Karin menghadapkan kedirinya.
"ceritakan masalahmu padaku jangan kau pendam sendiri, walau seandainya aku tak punya solusi paling nggak kau bisa mencurahkan semua isi hatimu padaku itu jauh lebih baik daripada harus dipendam sendirian. Aku tak menganggapmu sebagai kekasihku semata kita bisa menjadi seorang teman atau sahabat dekat" kata Erick panjang lebar membuat Karin memandang wajahnya dengan intens dan tak bisa mengalihkan tatapan matanya dari mata hitam lekat didepannya.
"terima kasih, apa kamu mau menemaniku jalan-jalan?" tanya Karin.
"dengan senang hati, aku akan menemanimu seharian penuh bila perlu" jawab Erick tersenyum tanpa menunjukkan giginya.
Mereka berdua tidak menggunakan mobil melainkan jalan kaki berdua menyusuri jalan trotoar Jakarta. Mereka berdua terus berjalan tanpa arah dan tujuan mengikuti langkah kaki dan sesekali berhenti membeli cemilan.
Erick menemani kekasihnya ngobrol sepanjang kaki berjalan tanpa protes asal itu bisa mengurangi beban dipundaknya.
Mereka berdua berhenti disebuah taman yang selalu ramai akan pengunjung, disana mereka tidak punya niatan untuk duduk melainkan mengintari taman dan kebetulan pengunjung taman hari ini rata-rata satu keluarga atau cuma ibu dan anak saja membuat Karin tersentuh mengerutkan dahinya.
"Bi kita pindah ketempat lain yuk" Erick yang mengerti menggenggam tangan Karin berniat mengajaknya pergi dari sana.
Tapi Karin menahannya dan membalas genggaman itu dengan erat. "ini semua mengingatkan aku saat jalan-jalan sama kak Aoi, dia tak pernah sedikitpun melepas genggaman tangannya, saat itu aku menangis dan bilang "aku ingin seperti mereka bersama papa dan mama, kenapa mereka gak pernah pulang?"
"dengan santainya kak Aoi menjawab jika papa mama pulang saat aku tidur dan pergi sebelum aku bangun karena perkerjaan tanpa kusadari aku sudah membuatnya sedih, pertanyaan itu aku ucapkan hampir setiap hari hingga aku lelah sendiri dan berhenti sendiri, setiap hari pula dia menjawab apa yang aku tanyakan berikut mainan yang diberikan padaku, dia bilang itu dari mereka padahal dia membelinya sendiri supaya aku senang" Karin berkata sambil menunduk tangannya tetap menggenggam tangan Erick.
Erick memeluk Karin dia tak peduli dengan semua orang yang melihatnya.
__ADS_1
"aku tidak tahu kenyataan apalagi yang ada didepanku nanti, aku hanya takut apa aku masih sanggup untuk menerimanya, dia tahu segalanya tapi tak pernah mengatakan sedikitpun padaku apa dia punya alasannya sendiri"
"dia adalah kakakmu dan sangat menyayangi dirimu aku yakin yang dia lakukan hanya tidak mau membuat adiknya bersedih, mungkin karena itu dia mencoba memberi tahumu dengan cara lain"
"ya aku tahu jika kak Aoi sangat menyayangimu Bi, aku bisa merasakannya saat mencarimu waktu itu" batin Erick mengingat kembali saat dia sedang mencari Karin dibangsal kencono.
"ayo pulang kita naik taksi saja ya" ajak Erick dan dijawab anggukan olehnya.
Erick berjalan sambil tetap memeluk Karin mereka menunggu taksi online yang sudah dipesannya.
Saat taksi yang dipesannya tiba mereka segera masuk menepati bangku belakang. Tapi tak disangka taksi yang datang ternyata pihak lawan yang menyamar.
Dijalan menuju apartemen sang supir memencet sebuah tombol didhasbord mobil, dalam hitungan detik didalam mobil itu dipenuhi dengan gas bius membuat keduanya pingsan.
"apa apaan ini uhuk" teriak Erick.
"jangan hirup gasnya, sial" balas Karin sambil mencoba membuka pintu tapi pintu sudah terkunci rapat.
Mereka berdua akhirnya pingsan sang supir tersenyum penuh kemenangan dia mengambil telf dan menghubungi seseorang.
"bagus lakukan sesuai rencana" jawab orang yang dipanggil bos itu.
"siap bos!!" balas sang supir lalu segera dia melajukan taksinya ketempat yang dituju kerumah yang tak pernah ditepati tapi terawat dengan rapi.
Karin dibaringkan diranjang dia terlihat sangat menawan seperti seorang pangeran yang sedang tertidur begitu tenang dengan wajahnya yang putih bersih. Sementara Erick diikat dikursi dan hanya mereka berdua.
"bagaimana keadaannya?" tanya teman sisupir.
"jangan kawatir mereka hanya tertidur kita menunggu bos saja" balas sisupir.
"aku penasaran sama yang tidur itu apa bener dia pria, wajahnya begitu mulus juga kenyal seperti anak kecil kalo pria beneran rasanya gak mungkin ya walau sudah perawatan super mahal"
"hah, kapan kau menyentuhnya"
"baru saja hahaha"
__ADS_1
"kalo dia tahu kau menyentuhnya mungkin sudah patah tuh tanganmu" sisupir berkata dengan memandang tak suka kearah temannya.
"hahaha bercandanya gak lucu"
"kau tahu dia itu Aran salah satu tim bayangan yang beraksi sama Johan dan..." belum selesai bicara seorang pria sudah menyahut pembicaraan mereka berdua.
"identitas sebenarnya adalah" mereka berdua menoleh kesumber suara tersebut. "sang presiden Mafia cucu sang hades dari Paris" kata pria itu dengan menyeringai.
"bos!!" kata mereka kompak.
"sebenarnya aku gak ada masalah apa-apa sama dia, aku cuma memastikan apakah benar dia ada disampingnya atau tidak" batin pria itu.
"dimana dia sekarang?" tanyanya sama dua orang didepannya.
Dengan kompak mereka berdua menunjuk kepintu yang tertutup dibelakangnya tanpa bersuara.
Pria itu membuka pintu melangkahkan kakinya menuju ranjang tempat Karin tertidur, dia memperhatikan Karin dari atas hingga bawah lalu tersenyum kecil.
"mahakaryanya sungguh luar biasa tidak ada yang bisa menirunya" ucapnya sambil menyentuh wajah Karin.
"dia menghentikan sel-sel jaringan bawah secara permanen tanpa merusak pertumbuhannya apalagi dia melakukannya cuma bersama abangnya saja termasuk istrinya sendiri hihihi"
"penelitian Rain yang hampir berhasil digagalkan sama Aoi tanpa sisa membuatku kesal saja, aku mencoba pergi keMateo berkerja sama dengan mereka malakukan hal yang sama dengannya tapi hasilnya nihil"
Dia berjalan menuju meja yang terdapat berbagai alat medis disana, pria itu mengambil jarum suntik hendak menyuntikkan jarum itu ketubuh Karin.
"walau aku tidak punya masalah denganmu tapi badanmu ini begitu menggiurkan untuk diteliti" ucapnya menyeringai.
Ujung jarum itu menyentuh kulit mulai menembus kulit dengan dorongan tangan pria itu.
Dan entah darimana datangnya tangan pria itu digenggam erat oleh seseorang hingga menghentikan aksinya.
"jangan mencoba menyentuhnya lebih dari ini"
*****
__ADS_1
Terima kasih sudah setia menunggu juga mendukung novel ini jangan lupa like & komen karena semua itu sangat berharga bagi author.☺️☺️🥰