THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
APAKAH SALAH!!!


__ADS_3

Bos mafia!!! kata-kata itu bagaikan batu yang dihantamkan kedirinya cukup keras menorehkan rasa sakit walau tidak terluka juga berdarah.


Dia melupakan akan siapa dirinya, dia lupa jika lengah sedikit mereka akan bergerak mencari celah, dia lupa kedudukannya sebagai orang yang penting didalam organisasi, tapi akankah semua itu harus mengorbankan masa depannya ini bener-bener tidak adil bagi Karin.


Terlalu fokus mencari tahu siapa sebenarnya kedua orangtuanya membuat para musuhnya bisa melihat celah disetiap sisinya.


"pikirkan baik-baik apa yang aku katakan biarkan dia aman dan hidup normal tanpa harus was was karena nyawanya yang terancam"


Karin mengepal erat, hati dan pikirannya bimbang akan keputusan yang harus diambilnya.


"siapa keluarga dari pasien" tanya dokter yang baru keluar dari ruang operasi segera mereka berdua menghampiri sang dokter.


"aku tantenya" kata Carline.


"aku calon istrinya" sahut Karin membuat Carline menyipitkan matanya tak suka.


"kalo begitu cepat pergi tanda tangan suamimu harus segera dioperasi, pasien mengalami luka cukup serius dibagian usus halus dan harus dipotong beruntungnya ini cuma sekali tusukan" tutur sang dokter menjelaskan.


Setelah mendengar penjelasan sang dokter Karin segera berlari menuju administrasi rumah sakit secepat mungkin.


Begitu kembali dia nampak kaget begitu melihat Ran Ran sudah berdiri didepan ruang operasi.


"bagaimana?" tanya Karin penuh harap setelah dekat.


"jangan kawatir sudah ditangkap, dia anak buah tangan kanan Mateo sendiri aku lupa mengatakannya dia diberi kebebasan untuk bertindak bebas melawanmu kau harus hati-hati saat ini mengingat kau menghancurkan laboratorium miliknya"


"sepertinya orang ini lebih berbahaya daripada tuannya"


"dia tidak akan turun tangan dalam bertindak, dia akan menggunakan tangan kedua untuk melakukan aksinya itu ciri khasnya lebih tepatnya dia akan mencari batu untuk dilemparkan kepihak lawan dan mencari kambing hitam sebagai umpan"


"aku paham, gunakan tim bayangan untuk menjaga Erick sekalian mengawasinya" Karin melihat Carline didepannya.


"oh dia ya, dari info yang kudapat suaminya dulu seorang supir taksi mati diJepang dua puluh tiga tahun lalu saat menolong dua orang wanita, waktu itu dia dan suaminya sedang liburan"


"aku faham sekarang kenapa dia bilang begitu tadi" batin Karin menghela nafas kasar.


Lampu diatas sudah berganti tanda operasi sudah selesai selang beberapa saat dokter keluar dari ruangan itu membawa kabar yang dinanti semuanya.

__ADS_1


Mereka berdua berdiri menghampiri sang dokter menanyakan bagaimana operasinya dengan hati yang tak menentu, Beda sama Ran Ran yang tenang dalam posisinya duduk diatas kursi tunggu.


"operasinya berjalan lancar kita tinggal menunggu dia siuman" jelas sang dokter berjalan kedalam lagi.


Erick dipindahkan keruang rawat VVIP disana dengan penjagaan, Karin duduk dikursi dekat ranjang melihat kekasihnya dengan intens.


"terima kasih kamu mau bertahan" batin Karin tanpa melepas pandangannya.


Carline berjalan mendekat kearah keduanya dengan wajah tak suka.


"aku sudah menghubungi Rachel besok baru sampai, apa kau sudah memikirkan perkataanku tadi" tanya Carline sinis kali ini.


"maaf tante aku tidak bisa karena dari awal pertama bertemu dengannya aku sudah suka padanya, kita tidak tahu apa yang terjadi hari esok atau dikemudian hari jika memang sesuatu terjadi pada kami, kami yakin itu semua sudah diatur oleh yang diatas" kata Karin tersenyum tulus.


"itu artinya kau akan mempertahankan hubungan ini walau beresiko"


"Tante yang lebih tahu daripada aku yang bau kencur ini"


Carline mendengus kasar dan berlalu pergi begitu saja keluar ruangan tempat Erick dirawat.


"terima kasih tante"


Esoknya Romo datang bersama bunda mereka tidak pergi ketempat tinggal Carline melainkan menuju rumah sakit tempat Erick dirawat.


"bagaimana keadaannya?" tanya Romo setelah tiba membuka pintu begitu saja. Bunda berlari mengnuju ranjang tempat Erick terbaring melihat keadaan putranya.


"bagaimana ini bisa terjadi padanya" kata bunda menangis disisi Erick memegang tangannya.


Karin menunduk dia merasa bersalah sama apa yang terjadi oleh kekasihnya.


"Romo bunda aku minta maaf Erchan seperti ini karena aku" Karin menunduk tak mampu melihat kedua orang tua Erick.


Romo berjalan mendekat menepuk punggung Karin. "kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, jadi ini bukan salahmu" kata Romo menenangkan Karin.


"terima kasih Romo, dokter bilang sudah tidak apa hanya menunggu dia siuman saja"


"syukurlah kalo dia tidak kenapa-napa aku tidak mau jika harus kehilangan dia" sahut bunda.

__ADS_1


"pulanglah istirahat biar kami yang jaga disini" kata Romo.


"tapi aku tidak capek sebaliknya Romo dan bunda baru tiba belum istirahat terutama bunda harus banyak istirahat" kata Karin.


"tidak, aku tidak capek aku ingin disini saja" kata bunda.


Mereka bertiga menjaga Erick bersama tanpa meninggalkan ruangan itu sekejap saja.


Esoknya Karin pergi keluar sebentar karena dia menerima telfon dari Johan, masalah usahanya diIndo selama Karin berada diAmerika Johan menghendel semuanya baik didalam maupun diluar.


"apa kita salah memilih Karin sebagai menantu Romo, dia terlalu berbahaya aku tidak mau sesuatu terjadi pada anak kita lagi" kata bunda.


Karin yang mendengarnya dibalik pintu seperti tersambar petir disiang hari, dia tak kuasa sama apa yang didengarnya barusan orang tua Erick yang telah memberi restu padanya kini berbalik menolak hubungan mereka.


Romo menaruh jari telunjuknya dibibir sang istri supaya dia berhenti bicara sambil menggelengkan kepala.


"sudah terlambat Bun jika kita menolak hubungan mereka berdua apalagi Erick yang begitu mencintainya, bukankah sejak awal kita sudah tahu jika dia orang yang sangat berbahaya dan kita tetap merestui hubungan mereka bukan"


"tapi Romo..."


Romo menggelengkan kepala untuk kedua kalinya. "aku yakin selama ini dia sudah memberi perlindungan terhadap putra jika tidak sudah sejak dulu putra dijadikan korban, dia pemimpin yang cerdas dan Romo yakin dia bisa membaca situasinya kita ambil hikmahnya saja dibalik kejadian ini" kata Romo berusaha memberi ketenangan terhadap istrinya mendekap dalam pelukannya.


Ran Ran menepuk pundak Karin dari belakang membuatnya tersadar melihat kearah Ran Ran.


"lakukan jika menurutmu benar" ucap Ran Ran memberi dukungan.


"iya" kata Karin pendek.


Dia menghela nafas sebentar sebelum masuk kedalam menetapkan hati pura-pura tidak mendengar apa yang didengar baru saja berusaha tersenyum walau begitu pahit.


"sepertinya aku harus melakukan sesuatu" gumam Ran Ran.


Dia meraih hp segera menghubungi seseorang guna melakukan tugas selanjutnya disuatu tempat.


*****


Terima kasih sudah like & komen, vote dan lainnya dukungan anda sangat berarti bagi author. 🤩🤗🥰😘

__ADS_1


__ADS_2