
Karin sudah meneguk setehan wine yang diberikan pak Aldo lalu berjongkok melihat semua pelayannya dengan cemberut.
"kenapa kalian pada tidur dilantai" katanya sambil cemberut, semuanya pun langsung kaget dengan ucapan majikannya kecuali Johan.
"mereka berdua kenapa babak belur begitu" tanya Karin menunjuk kearah dua orang yang sudah dihajarnya barusan.
Pletak!! Erick memukul kepala Karin dengan keras saking kesalnya.
"aduh apaan sih Erchan sakit tahu daripada mukul orang sini duduk deket aku"
"kau tidak ingat apa yang barusan terjadi hah" teriak Erick.
Karin menatap wajah Erick dengan lekat dan berkata "wah wajahmu jadi tiga Erchan apa kau punya sodara kembar lho ko muter2 waduh bikin pusing nih pala"
"bisa-bisanya setelah melakukan ini semua lalu lupa begitu saja enak sekali kamu" ucap Erick dengan nada kesal.
Pak Aldo dan yang lainnya hanya memandang heran sama majikannya, walau sudah reda tapi masih ada rasa takut juga jika hal ini terulang kembali.
Karin merebahkan badannya dilantai dan menaruh kepalanya dipangkuan Erick.
"Erchan kepalaku sakit sekali hari ini aku pinjam pangkuanmu bentar ya"
"boleh sekarang tidurlah biar kepalamu sehat"
"kau lucu Erchan terima kasih" lalu Karin memejamkan matanya.
"hhmmm" balas Erick sambil cemberut
"den anda tidak apa-apa? gak ada yang serius lukanya?" tanya bibi sama Johan yang duduk bersandar dikursi.
"aku tidak apa-apa bi, jangan kawatir ini sudah biasa daripada gitu mending bibi rawat yang lainnya aku sudah telf ambulan sebentar lagi datang"
"tadi mas Jo bilang sudah biasa!" tanya salah seorang pelayan wanita"
"iya!!"
__ADS_1
Karin sudah tertidur dipangkuan Erick dengan pulas.
"apa Karin selalu seperti ini ya saat lagi mabuk" sahut Erick.
"iya, bahkan ada yang meninggal tapi dia tetap mengakui pada keluarga korban kalo dia sengaja membunuhnya, itu wajar karena perkerjaanya yang kadang membuatnya stres sampai meninggalkan waktu bermain diusia remaja"
"aden kesepian menurut bibi kaya merindukan sesuatu entah apa itu" sahut bibi. sementara yang lain hanya mendengar dengan kidmad sambil mengobati.
"binggo seratus persen benar" balas Johan sambil membuka hemnya terlihat beberapa luka goresan ditubuhnya.
"bisa kau ceritakan soal Karinkah garis besarnya saja" ucap Erick.
"gak bisa dilarang bagi kami yang sebatas pengawal menceritakan hal pribadi majikannya"
"gak apa-apa kan cuma kita yang berada disini"
"ada bocil satu orang lagi yang mengawasi kita"
"eh siapa? dimana?" semuanya langsung saling memandang satu sama lain.
Ditengah-tengah para pelayan dekat pelayan wanita terlihat kepala seorang pria tampan seperti aktris sedang tersenyum, pria berambut panjang yang dikuncir dibagian tengah dan lainnya digerai dengan sedikit poni itu tersenyum kearah Johan,
"aaaaaaaa hantu kepala" teriak salah seorang pelayan wanita saat sadar ada sesuatu disampingnya dan begitu ketakutan saat melihatnya.
"aduh mbak jangan kenceng-kenceng kalo teriak" ucapnya sambik menutup telinganya.
Semuanya langsung melihat kearah pria itu ada juga yang menjauh karena takut, karena pria itu cuma memperlihatkan kepalanya saja.
"aku ini manusia asli ngapain kalian takut begitu, halo Han apa kabar?" tanyanya sama Johan.
"seperti yang kau lihat"
"mau dibantu ngeluarin pelurunya gak, wah sibaby lagi pules ya tidurnya"
"gak usah"
__ADS_1
Erick hanya diam memperhatikan pria itu dengan seksama.
"ka, ka, kalo anda bukan hantu perlihatkan badan anda" ucap pelayan wanita tadi terbata-bata.
Pria itu membuka resleting lalu melepas sebuah mantel yang dia pakai.
"aku pakai mantel transparan limited edition buatan cina, bagus kan buat nakut-nakutin hahaha"
"apa dia yang kau maksud" kata Erick sama Johan.
"iya, dia seorang bodyguard juga sama kaya aku juga Nana hanya saja dia berkerja untuk kakaknya" kata Johan menjelaskan.
"hallo semuanya namaku Billar ganteng kan kaya mas Jimin hehehe" ucap Billar memperkenalkan dirinya.
Semuanya hanya diam tek merespon membuat Billar mendesah kesal.
"maksudnya dia mengawasi Karin dan selalu melaporkan pada kakaknya gitu" Erick seolah tak percaya dengan apa yang dia difikirkan.
"bodoh kalo seperti itu aku sendiri yang capek"
"apaan tadi Johan bilang kalo kamu berkerja untuk kakaknya bukan kalo gitu setiap apa yang Karin lakukan tentunya kau laporkan sama kakaknya"
"wei bocil dengar ya aku memang berkerja untuk siabang tapi tugasku itu melindungi bukan kirim laporan ngerti kan"
"bisa kau jelaskan kenapa kalian semua berada disisi Karin terus kenapa gak dihentikan tadi"
"Han jelaskan pada dia aku males ngomong panjang lebar huh" kata Billar lalu mendaratkan bokongnya disofa dan bersandar kebelakang"
Para pelayan tak berani menyahut apa yang mereka bertiga bicarakan takut salah.
"baby dan kakaknya mereka yatim piatu Rick" mendengar hal itu Erick langsung melongo dan diam begitu pula dengan para pelayan yang mendengarnya.
"mereka berdua dibesarkan oleh kakek neneknya sejak lahir kau tahu sendiri kan bagi mereka yang tak punya orang tua, saling bergantung, saling membantu satu hal yang pasti yaitu takut kehilangan" Johan berkata sambil mengeluarkan peluru dipundaknya.
*****
__ADS_1