
"papa belum menjawab pertanyaanku" kata Vivi sama pak Sanjaya.
"oh maaf ya, Aran beneran anak temen papa ternyata jadi saking senangnya papa menyuruhnya memanggil papa juga gak apakan nak" jelas pak Sanjaya.
"iya pa" jawab Vivi pendek.
"untuk papa saja kalo istrinya aku gak mau" sahut Karin membuat semua orang langsung menoleh kearahnya kecuali para bodyguard.
"kenapa nak?" tanya pak Sanjaya agak terkejut dengan ucapan Karin.
"alasanya gampang saja, karena kata mama itu hanya melekat pada satu wanita yang telah melahirkanku" Karin tersenyum sinis disudut bibirnya.
🎶Moshimo mou ichido anata ni aeru nara
(jika aku bisa melihatmu sekali lagi)
Tatta hitokoto tsutaetai arigatou, arigatou🎶
(aku hanya ingin mengatakan satu kata terima kasih, terima kasih)
Panggilan VC (Video Call) dari sang kakak masuk, tanpa basa-basi Karin langsung mengangkatnya juga dispiker hingga membuat semuanya mendengar dengan jelas.
"hallo beb!!" jawab Karin.
"lilte sayang mau sampai kapan kamu dirumah sakit terus cepat pulang, jangan membuat orang bosan menunggu sayang"
"walah iya aku sampe lupa ada kamu dirumah, ok ok aku pulang sekarang, oh iya tuan Evan juga ada disini nih mau ngomong sesuatu nggak"
"boleh!!" jawabnya pendek. Karin lalu berjalan kearah tuan Evan, Vivi juga pak Sanjaya memperlihatkan VC dari sang kakak.
Mereka bertiga langsung terpengarah melihat Aoi yang bagaikan cermin untuk Karin, Vivi menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya seolah tak percaya rasa kagum, heran, terpesona bercampur jadi satu.
"kenapa kalian manganga begitu sih" kata Karin. Tapi tak ada satupun yang menjawab perkataannya.
"hallo tuan Evan senang berkenalan dengan anda" ucapnya datar juga dingin.
"ha, hallo tuan...." ucap Evan melirik kearah Karin karena bingung tidak tahu nama kakak Karin.
"dia kak Aoi, tapi ada juga yang memanggilnya Kiran" balas Karin.
"Karin dan Kiran nama yang pas ya" batin Evan.
"ha, hallo tuan Kiran" ucap Vivi terbata.
"hallo juga" jawabnya pendek.
"hallo nak Kiran" sahut pak Sanjaya.
"sepertinya saya menganggu nostalgia kalian ya"
__ADS_1
"nggak nak itu cuma melepas rasa kangen saja"
"tuan Evan selamat atas kehamilan istri anda"
"terima kasih tuan" jawabnya sambil tersenyum begitu pula dengan Vivi.
"litle kamu segera pulang sekarang dan jangan bawa banyak orang aku gak suka ku tunggu dirumah"
"kebiasaanmu bener-bener buruk beb ok deh" setelah itu Karin mematikan panggilan VCnya lalu melihat kearah orang-orang yang saat ini bersamanya.
"kalian semua pergilah kehabitatnya masing-masing" kata Karin.
"aku juga gak boleh Bi" tanya Erick sama Karin.
Billar yang merasa namanya keluar dari mulut Erick langsung menyahut. "kalo bertanya lihat orangnya" sahutnya.
"bukan kamu!!" balasnya tanpa menoleh.
"hah!!"
"kau itu asal nyahut saja lihat dong dia menghadap kemana saat bicara" cetus Ersya.
"lha dia manggil namaku"
"kau bisa diam tidak" sahut Nana yang sedari tadi hanya diam saja.
"gak masalah lagipula aku masih bisa kesana lain waktu"
"terima kasih, tapi jujur ya aku pingin banget diantar kamu pulang disaat seperti ini sayangnya ada bebek lagi renang dirumah hiks"
"lain kali kan bisa, nanti aku antar jemput kamu saja kalo kehotel"
"benarkah"
"hhmmm"
"beneran mau antar jemput"
"ya"
"bener!!!
"cih!!" Erick berdecih kesal dengan kelakuan Karin.
"wah kalian akrab sekali ya" sahut pak Sanjaya yang melihatnya.
"dia sekretarisnya tuan Evan pa" Karin menunjuk Erick saat bicara.
"halo om"
__ADS_1
Pak Sanjaya hanya tersenyum ramah kearah Erick, lalu karin membisikan sesuatu ketelinga pak Sanjaya.
"aku suka sama dia pa, papa setuju gak kalo dia jadi calon suamiku" bisiknya.
Pak Sanjaya memperhatikan Erick dari atas sampai bawah kali ini membuatnya risih juga kikuk.
"kalo kamu suka papa juga suka yang penting kamu senang dan bahagia, nanti kalo kamu nikah papa yang akan jadi walinya ok" kata pak Sanjaya sembari memberikan jempol kearah Karin.
Karin sendiri langsung tersenyum senang mendengarnya dan memperlihatkan dua jempol pada sang papa. "doain ya pa!!" ucapnya sambil menunjukan gigi putihnya yang rapi.
Vivi dan Evan saling memandang juga tersenyum melihat keakraban papanya juga Karin.
"seneng ya mas saat melihat semua akur begini" cetus Ersya disamping Johan.
"damai itu indah Sya tanpa harus berantem dan menimbulkan masalah" kata Johan.
"iya mas"
Johan memperhatikan Ersya yang tak melihatnya sama sekali, entah kenapa ada seuatu yang tersembunyi dibaliknya, Ersya disampingnya saat ini berwajah sanyu tak bahagia sama sekali.
"ada apa?" tanya Johan sama kekasihnya.
"gak ada mas" jawabnya singkat.
"kamu jangan bohong apa yang kamu sembunyikan dari mas"
"beneran gak ada percaya deh sama aku"
"begitu, ya sudah kalo kamu ngomong begitu"
"baby aku mau antar Ersya dulu ya" kata Johan yang langsung minta izin sama Karin.
"ya cepet balik!"
"hhmmm"
Setelah mendapat izin Johan menggendeng Ersya berjalan keluar. Kini disana tinggal para bodyguard Karin, Nana, Billar juga Erick sama pak Sanjaya sekeluarga.
"ya sudah aku pulang dulu semuanya dadah, oh ya pa kalo ada waktu main saja kerumah ya sekeluarga gak papa"
"Erchan kamu gak antarin aku keluar" katanya saat melihat Erick hanya berdiam diri saja.
"enggak lagi males aku"
"huh kau ini" jengkel Karin sama Erick.
Disela-sela itu semua mama Vivi yang baru selesai dari kamar mandi berjalan cepat hendak menemui keluarganya yang sudah lama menunggu. Tapi dia yang baru tiba terkejut saat melihat keluarganya akrab sama Karin dan yang lainnya.
*****
__ADS_1