THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
MEMIMPIN MEREKA


__ADS_3

"kamu harus waspada Jo sepertinya ikan besarnya bakal keluar, kamu sudah membuat Ersya aman kan"


"iya, aku sudah melakukannya semua identitasnya juga sudah aku palsukan"


Bibi bergetar dibelakang mereka berdua seolah ada sesuatu yang membuatnya gemetaran mendengar apa yang diucapkan Karin juga Johan.


"seandainya Ersya mau tunggal disini" gerutu Johan.


"jangan dipaksa Jo nanti juga mau sendiri" ucapnya sambil sibuk dengan mainannya.


"Chibi kamu dari tadi ngomong mulu bantuin nih" pekik Erick mengagetkan keduanya.


"seorang sekretaris betulin gitu saja gak bisa" sindir Karin


"aku kan bukan dibidang beginian jelas dong gak bisa huh" kata Erick.


"gimana dengan cabang hotelmu juga caffenya" lanjutnya sambil berkutan pada dua laptop didepannya.


"sudah beres ini masih dibangun, lho ini ko gini harusnya kan begini" Karin terkejut melihat karakter yang berbeda.


"sama saja kan yang penting bisa diatur sesuai penggunanya"


"gak bisa dong karakter apa ini harus cakep gitu kaya aku biar menarik perhatian pemainnya"


"kalo semua cakep yang jelek mana, haduh yang penting kan misinya dibuat penuh fantastik, dramatis, pencariannya juga lebih menantang gitu sekalian masukin tuh bonusnya" kata Erick berbicara panjang kali lebar.


"baby katanya mau ketemu si tukang parkir itu, dia sudah tiba tuh dihalaman belakang dari tadi" sahut Johan.


"oh iya, Erchan ikut gak" ucap Karin melihat kearah Erick.


"nanti nyusul nanggung nih sekalian belajar"


"Jo ambilin kotak kecil dimeja kamar warna emas"


"iya!" ucap Johan lalu berjalan menuju kamar Karin.


Karin juga Johan berjalan kearah halaman belakang dimana sipreman yang berkerja sebagai tukang parkir berada. Sebelum tiba disana Karin menghentikan langkahnya karena merasa ada yang aneh pada perutnya dan sesuatu yang mengalir.


"ada apa? Kenapa berhenti?" tanya Johan disamping Karin.


"sekarang tanggal berapa ya?" tanya Karin balik.

__ADS_1


"tanggal 13, ada apa?"


"gak tahu gak nyaman banget nih perut mulai nyeri"


"tamu kamu datang mungkin"


"tamu!!" Karin melihat Johan penuh tanda tanya.


"datang tak dijemput pulang tak diantar, tamu bulanan!!"


Mendengar hal itu Karin langsung berlari ngibrit menuju kamarnya sendiri dengan cepat melewati Erick. "aaaaaaaaaaaaaaaaa sialaaann!!"


Brak!!!


"Kenapa dia?" batin Erick yang melihat sekilas Karin berlari menuju lantai atas.


Lima belas menit berlalu setelah semua sudah beres juga aman Karin berjalan langsung menuju halaman belakang dengan muka kesal.


Dihalaman belakang pak parkir sudah berdiri hingga kakinya keju karena sudah sedari tadi dia berdiri disana sendirian, dia merasa senang karena melihat Johan sudah hadir didepannya walau dalam hati penuh tanda tanya karena ditelf ada seseorang yang ingin bertemu dengannya.


"ada apa bos anda memanggil saya kesini?" tanyanya sama Johan


"nanti kau akan tahu sendiri" jawab Johan datar.


"apa dia majikan bos, dia masih remaja sekali" batinnya.


"jadi ini orang yang kamu maksud" tanya Karin dengan nada sebel.


"iya" jawab Johan singkat.


"perkenalkan dirimu sekarang" teriak Karin sama pak parkir.


"baik, nama saya Paimen berkerja sebagai tukang parkir didepan toko butik tempat kerja nona Ersya tuan"


"jelaskan tentang mereka apa yang kamu ketahui" ucap Johan.


"mereka semua sudah lama menjadi buronan tuan tapi mereka selalu lolos karena kerja sama dari pihak berwajib, mereka juga ikut dalam penyelundupan keluar negri secara berskala, pihak dari polisi bahkan memberi senjata untuk berjaga-jaga" kata Paimen menjelaskan sesuai apa yang dia tahu.


"wow hebat juga kau bisa tahu sebanyak itu" kata Karin memuji.


"saya punya banyak teman preman dipasar juga jalanan tuan mereka semua saling berhubungan, ditempat club juga ada, tadinya kami semua mengumpulkan bukti untuk diberikan sama pihak berwajib tapi teman kami tak pernah muncul lagi akhirnya kami berhenti melakukannya takut juga"

__ADS_1


"hhmm begitu, Paimen aku butuh bantuanmu apa kau mau membantuku" Karin berkata sambil tersenyum menyeringai.


Paimen hanya diam seperti patung saat mendengarnya.


"memang apa yang bisa saya lakukan untuk anda tuan, saya tidak bisa apa-apa tak sehebat bos"


"aku cuma minta bantuanmu menjaga nona Ersya ditoko butik bersama teman premanmu itu saja sekalian mata-mata hehehehe"


"baik saya akan membantu anda menjaga nona Ersya semampu saya tuan"


"Jo berikan padanya barang itu"


Johan berjalan menghampiri Paimen memberikan kotak warna emas yang dibawanya dan membuka didepannya, sebuah kapsul berwarna hijau membuat Paimen melongo, ketakutan juga berwajah pucat.


"telan itu kalo kau benar-benar mau membantuku"


"a a apa gak ada cara lain tuan"


"tidak!! Awas kalo kau menyembuyinkannya dibawah lidah" ancam Karin.


Walau berat Paimen menelannya juga didepan Karin juga Johan.


"pergilah aku mau istirahat" ucap Karin sambil berbalik badan.


"baik tuan!" Paimen berjalan pergi meninggalkan halaman belakang tempat jet pribadi mendarat dengan muka pucatnya.


"kapsul apa itu baby" tanya Johan yang ingin bertanya sudah sedari tadi.


"jangan kawatir Jo itu aman ko setelah ditelan kapsul itu akan menempati tempatnya dengan sendirinya hehehe, tapi dia hebat juga teman-temanya menyebar dimana-mana bahkan sampai club"


"karena club tempat yang paling tepat untuk transaksi segala jenis barang tanpa diketahui siapapun"


"kamu benar untung aku tidak berjanji pada Erchan" Karin berkata dengan cemberut berjalan kerumah besar.


"janji! Janji apa?"


"janji supaya tidak lagi kesana"


"begitu ya"


"pimpin mereka Jo aku yakin dapat berguna nantinya"

__ADS_1


"baik"


*****


__ADS_2