
Diluar kamar tempat Karin dirawat Johan mendesah kesal juga berdecih tak suka melihat Ersya dan Billar berebut dikaca pintu mengintip mereka berdua yang sedang ada didalam.
Sedangkan Nana hanya menggeleng kepala saja melihat kelakuan kekanakan mereka berdua.
"jongkok dikit kenapa sih" ucap Ersya kesal karena tak bisa melihat dengan jelas kedalam.
"mau jongkok gimana kacanya diatas kecil pula" balas Billar.
"ya sudah kamu diatas aku dibawah saja"
"ok, aku jadi penasaran apa yang mereka berdua lakukan, awas saja kalo sampe baby dipukul lagi jangan ngarap tuh badan utuh lagi" ancam Billar bersunggut-sunggut.
"emangnya mau diapain?" tanya Ersya yang fokus menatap kedalam.
"ya, dihajarlah mang mau diapain lagi"
"ooo kalo aku malah ingin menggamparnya pake sepatuku berkali-kali seperti ini" tanpa sadar Ersya meraih sepatu sandalnya lalu mendaratkan beberapa pukulan kekepala Billar.
Pak puk pak
"aduk sakit kenapa kau malah memukul kepalaku" pekiknya sambil mengelus kepala.
"maaf mas kelepasan tadi ngebayangin nipuk dia dengan semangat hehehe" ucap Ersya cengingisan.
"ah soto e lo, hhmmm lo cantik juga ya" kata Billar memperhatikan Ersya kali ini. Johan langsung mengangkat sebelah alisnya.
"cewek ya emang cantik kalo cowok baru tampan" ketus Ersya
"anak sd juga tahu itu, sudah punya pacar belum kalo belum aku mau daftar"
"boleh nomor satu dari belakang ya ngantri dulu, aaaaaa so sweet banget main suap-suapan tapi ngomong-ngomong mereka berdua masa beneran gay" gerutu Ersya tetap memperhatikan kedalam. Billar menutup telinganya rapat-rapat saat mendengar Ersya berteriak.
"emangnya kau belum tahu baby itu siapa? Kau mau nanti aku suapin yang lebih romantis daripada didalam" goda Billar membuat Johan cemberut kali ini.
"memangnya dia siapa ? Boleh tapi gratis ya yang banyak juga"
__ADS_1
"maksudnya gratis dan banyak!?"
"pesen makanannya hehehe" Billar langsung menipuk jidatnya pelan.
"doyan makan nih cewek" batin Billar.
Esoknya Karin sudah boleh pulang dokter yang menangani Karin pun segera memeriksanya. Erick yang posesif selalu melarang sang dokter menyentuh Karin bahkan menatapnya dengan tajam.
"sini stetoskopnya, kau duduk saja disana dengan tenang" Erick mengambil stetoskop dan memberikannya sama Nana.
"tapi tuan..." belum selesai bicara Erick sudah memotongnya duluan.
"jangan kawatir Nana itu dokter pribadinya kau gak usah ikut-ikutan cukup lihat saja" ketus Erick.
Karin hanya cemberut dia tidak menyangka kalo Erick bakal seposesif ini. "Erchan kalo kamu melarangnya memeriksaku gimana aku bisa pulang"
"Nana kan bisa sudah lakukan saja, kamu duduk liat tuh monitor" balas Erick pada dokter Rico.
"tapi aku maunya dokter ganteng itu yang memeriksaku" Karin berkata dengan wajah yang memelas.
"ganjen banget jadi manusia, Nana cepat lakukan"
"sabar Nona" ucap Nana lirih sambil tersenyum. Karin hanya berdecih tak suka dengan muka cemberutnya.
"apa anda akan langsung pulang nona?" kata Nana lagi.
"ya, lagipula aku belum menemui bebek yang ada dirumah, apa dia datang kesini ya waktu aku gak sadar?"
"iya nona, setelah itu dia menuju rumah besar sebelum tuan Erick datang"
"gitu, pasti kemarin dia melihat semuanya dari CCTV, brengsek bikin orang gak bebas saja" gumamnya dalam hati sambil berdecih kesal.
"mas Jo apa kamu juga seperti dia melarang seorang dokter memeriksaku saat aku sakit" sahut Ersya tanpa melihat kearah Johan.
"kalo aku seperti bocil bisa gak kelar-kelar urusannya" jawab Johan.
__ADS_1
"wah pemikiran yang dewasa hhmm" cibir Ersya. mendengar hal itu Erick langsung melirik Ersya dengan tajam.
"entah mengapa telingaku mendengar sebuah cibiran ya"
"ini bukan cibiran tapi kenyataannya"
"tunggu ko kamu akrab banget sama Han" sahut Billar menimpali.
"lha emang kenapa dia pacar aku nih sudah tukar cincin juga" ketus Ersya menunjukan jari manisnya. Han hanya biasa saja dengan muka datarnya dalam hati dia puas dengan jawaban kekasihnya.
"jiah saingannya cukup berat nih" gerutu Billar.
Nana menyerahkan tas berisi pakaian ganti sama majikannya, segera tangan Karin marih tas itu dan berjalan kearah kamar mandi.
Tak berapa lama Karin keluar menggenakan celana jeans panjang warna biru, kaos lengan panjang bertulis racing hell plus jaket hodie dengan tulisan yang sama, sebuah jaket dan kaos yang tren untuk kaula muda.
Setelah semua sudah beres semuanya pun langsung keluar ruangan dengan santai dan senyum yang menebar bak bunga yang sedang mekar.
"kau bener-bener posesif banget Erchan" kata Karin sama Erick yang berjalan bersamaan.
"berisik kamu terserah akulah" balas Erick sewot.
"cih aku jadi ingin memiliki rumah sakit sendiri dan memperkerjakan dokter yang tampan-tampan dari timur tengah, plus karyawannya murni cowok semua yang bening-bening gitu" goda Karin sambil melirik kearah Erick.
"ganjennya gak ketulungan, semoga bangkrut tuh rumah sakit" kesal Erick dengan godaan Karin.
Disaat yang bersama Vivi juga keluar dari rumah sakit, dia bersama keluarganya melawati lorong menuju pintu keluar.
"sebentar ya mama mau ketoilet dulu" ucap mama Vivi, tanpa mendengar jawaban dari salah satu keluarganya dia langsung berjalan cepat mencari toilet.
Vivi, Evan dan sang papa melanjutkan langkahnya mereka berniat menunggu sang mama di tempat parkir. Disaat mereka berbelok menuju pintu keluar mereka semua berpapasan dengan rombongan Karin.
"Cecan, kamu masuk rumah sakit juga" kata Karin yang terkejut saat melihat Vivi, Evan juga papa Vivi.
"he em nih mereka berdua lagi rewel pengen bobok disini, oh iya kenalin dulu papa aku namanya Sanjaya"
__ADS_1
DEG!!!
****