THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
MINTA IZIN


__ADS_3

"mungkin ini lebih baik ya bunda daripada kita kehilangan seorang anak" ucap sang romo memeluk erat istrinya lalu mendaratkan kecupan sayang didahinya.


"uang bisa dicari tapi sesuatu yang pergi tak mungkin untuk dicari" balas sang istri lalu membalas kecupan dibibir suaminya.


"kita berdua mendapat pelajaran berharga saat putra pergi romo dan aku gak mau itu terjadi kedua kalinya, aku bersyukur dia masih mau membalas pesanku romo" lanjutnya lagi sambil menenggelamkan kepalanya didada bidang suaminya.


"iya bunda"


Mereka semua makan malam sambil diiringi ngobrol sedikit, terlihat Kiran hanya diam saja dengan muka datarnya bersama Sota berada disampingnya. Kedua kakak Erick tak hentinya melirik kearahnya terpancar aura terpesona juga kagum dimatanya, Kiran sadar ada yang memperhatikan dirinya namun dia tak menunjukannya dan berusaha sama sikap dingin juga datarnya.


"maaf tante, om saya sudah selesai permisi dulu" ucapnya sedikit menundukan badan.


"kamu mau kemana cu, jangan pergi dulu kita ngobrol dulu" sahut seorang nenek yang baru nongol saat makan malam.


"mohon maaf nek saya gak bisa permisi dulu ya" ucapnya kalem. Setelah itu dia lalu berjalan kearah kamar bersama Sota.


"dia kenapa ya sejak aku membawanya kesini sikapnya berubah gitu, juga orang disampinya kenapa bukan Johan atau Nana" batin Erick memandangi punggung Kiran sampai masuk kamar.


"kamu kenapa le" tanya romo.


"tidak kenapa-napa, oh iya aku juga sudah selesai sekarang mau istirahat" setelah bicara seperti itu Erick berjalan menuju kamarnya.


Karin tiba sudah sangat malam bersama Ersya juga Johan. Mereka bertiga langsung cek in disebuah hotel berbintang disana dan tak lupa memberitahu sama kakaknya kalo dia sudah tiba.

__ADS_1


Beralih kesebuah pesan whatshap dia melihat deretan pesan yang berjejer disana, dia gerakan ibu jarinya keatas hingga nama-nama dilayar bergeser keatas. Pesan yang begitu banyak dari beberapa orang kepercayaan atau sekedar teman, kini pandangannya tertuju pada sebuah nama yang dilupakan karena kedatangan sang kakak.


Dan pesan itu hampir sama dengan pesan milik sang kakak. "temani aku keJogja kutunggu ya👼" sebuah pesan dari Erick diselipkan emoji malaikat terbang.


Tat kala dia langsung tersenyum hatinya begitu berbunga-bunga setelah melihat pesan dari Erick, dirinya begitu bangga saat ini karena sudah membuat orang incarannya jatuh hati padanya.


"aku sudah berhasil membuatmu tertarik padaku kini tinggal membuatmu menyatakan cinta padaku hihihi" gumamnya lirih sambil menyunggingkan senyum liciknya.


"tunggu waktu yang pas untuk kamu melakukannya" gumamnya lagi lalu berjalan kekamar mandi menyegarkan diri.


Esoknya disaat semua berkumpul diruang keluarga terlihat hanya Kiran juga Sota yang tak terlihat disana, seperti biasa dia selalu mengurung dirinya dikamar entah apa yang dia kerjakan didalam.


Para keponakan Erick yang masih kecil berlari kesana kemari dengan tawanya yang membahana membuat area keluarga menjadi ramai dengan kehadiran mereka semua.


Erick mencoba mengetuk pintu kamar yang ditepati Kiran. Tapi tak kunjung dibuka membuatnya mengulangi kembali.


Cklek.... suara pintu terbuka memperlihatkan raut wajahnya yang dingin bak elang siap membunuh. Erick mendesah kesal melihat manusia yang ada dihadapannya saat ini.


"apa kau tidak bisa tersenyum sedikit saja ada banyak anak kecil disini ayo keluar berkumpul sama mereka" ucap Erick dengan nada kalem khas daerahnya.


"aku sudah bilang padamu kau salah orang apa mata dan otakmu begitu buta tak bisa membedakan orang" katanya pedas.


"bedanya dimana dari pertama ketemu kamu sampai sekarang ucapanmu masih saja pedas gini, sudah ayo keluar jangan mengurung diri mulu" Erick langsung mengandeng tangan Kiran membawanya berkumpul sama keluarga yang lain. Kiran sendiri spontan menghindarkan tangannya saat ingin diraih karena begitu risih juga aneh saat dirinya digandeng sesama cowok, dia duduk dekat Erick tapi dengan jarak yang lumayan hanya diam mendengarkan obrolan mereka semua.

__ADS_1


Salah satu adik keponakan Erick tidak suka dengan kehadiran Kiran, karena melihat wajah Kiran yang datar tanpa expresi sedikitpun apalagi orangnya sangat cuek, lalu dia berjalan pergi entah kemana sedangkan yang lain ada yang takut ada juga yang kagum melihat sosoknya.


"om juga tante saya mau minta izin, bolehkah saudara saya menuju kesini saja karena saya sudah punya janji sama dia disini" ucap Kiran sopan.


"saudara! Oh boleh ko daripada cek in dihotel mending sekalian nginap disini juga ya kan romo" balas sang bunda sambil melihat kearah suaminya.


"sepertinya sudah cek in tante soalnya sudah tiba tadi malem juga beda dua jam sama kita"


"boleh, silakan gak apa-apa pintu rumah ini selalu terbuka untuk temennya putra" jawab romo.


salah satu adik keponakan Erick yang tadi pergi kini muncul lagi dengan mengendap-ngendap dibelakang kiran, mereka yang tahu hanya biasa saja karena anak kecil mungkin dikira hanya bermain petak umpet. Lalu jari telunjuknya yang kecil menarik sedikit kerah kaos milik Kiran dari belakang dan memasukan sesuatu disana.


"terima kasih om, kalo gitu saya permisi dulu mau ngabari saudara saya" Kiran menoleh kebelakang karena ada yang menarik kerahnya. "apa yang kau lakukan?" tanya Kiran yang menyadari ada sesuatu yang menarik kerah kaosnya.


"ada apa?" tanya kakak Erick.


Kiran yang mulai risih dengan sesuatu didalam bajunya kini menggaruk atau mencari sesuatu dengan satu tangan dilipat kebelakang lewat samping dan satu dilipat dari atas juga menggerakan beberapa kali kaosnya supaya apa yang didalam terjatuh.


"ada apa le? Kenapa? Kamu sedang mencari apa?" tanya romo saat melihat wajah tamunya kebingungan.


"a anu dia, anak kecil tadi memasukan sesuatu dalam kaos saya romo, aduh sakit gataaal" Kiran langsung berdiri berjalan menjauh mengibas-ngibaskan kaosnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2