THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
RESTU SANG KAKAK


__ADS_3

"kangen sama dedek bayi ya" suara papa mengejutkan Vivi, segera dia melihat sang papa dan memeluknya.


"iya pa, apa Vivi bisa ketemu adik lagi pa" tanyanya dalam pelukan papanya.


"bisa tapi harus sabar ya, nanti pasti ketemu" jawab sang papa dengan sabar.


"iya pa, tapi Vivi gak tahu nama adik pa gimana nanti kalo ketemu pa"


"namanya Arandita nak nama adik, diingat ya Arandita Sanjaya"


"itu kan nama papa, kenapa diberikan keadik pa?"


"agar jika suatu hari nanti kalian bertemu kamu akan langsung mengenalnya, makanya papa kasih nama papa dibelakang nama adik"


"kalo begitu nama adik akan selalu Vivi ingat ya pa"


"anak pinter sekarang tidur ya sudah malam besok sekolah hari senin masuk pagi" Vivi hanya mengguk saja lalu membaringkan tubuhnya sambil memeluk boneka kesayangannya.


Vivi terbangun dari mimpinya dua puluh dua tahun yang lalu, dalam tidurnya dia mengginggau tentang bayi membuat suaminya Evan sangat kawatir. Keringat terus keluar dari badan Vivi membuat Evan menggoyangkan badan istrinya cukup keras supaya bangun.


Vivi langsung tersentak dari tidurnya dengan nafas yang memburu, begitu melihat suaminya Vivi langsung memeluknya begitu erat.


"kamu gak papa, minum dulu ya sayang" ucap Evan sambil memberikan segelas air putih yang berada dimeja.


Vivi hanya menggeleng saja setelah meminum air putih yang diberikan, dia bersandar didada suaminya yang bidang.


"aku tadi mendengar kata bayi, apa kamu mimpi tentang anak kita sayang" Evan membelai rambut istrinya dan sesekali mendaratkan kecupan disana.


"aku mau ketemu papa hari ini ya mas, antarkan aku kesana" ucapnya dengan lirih.


"iya baiklah, apa kau mau menginap juga" Vivi hanya mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Segera Evan menyuruh pelayannya untuk memasukan beberapa pakaian istrinya juga dirinya sendiri kedalam koper kecil.


Vivi sendiri bangun hendak kekamar mandi untuk membersihkan diri, baru saja beberapa langkah berjalan dia melihat sekelilingnya berputar dan kepalanya begitu pening lalu ambruk. Evan yang terkejut langsung membopong istrinya menuju rumah sakit miliknya segera.


Dirumah sakit Vivi dilarikan keruang ibu dan anak supaya mendapat penanganan lebih lanjut.


"kandungannya tidak apa-apa anak anda kuat tuan, nyonya hanya terlalu stres mungkin ada sesuatu yang difikirkan beliau hingga membuatnya seperti ini, lebih baik anda bicara sama beliau dari hati kehati apa yang menjadi beban fikirannya, saya akan memindahkan beliau keruang perawatan, saya permisi dulu tuan" tutur sang dokter yang bernama Rina diname tagnya.


"terima kasih dok" ucap Evan.


Sementara diruang lain dirumah sakit yang sama Karin belum sadar juga walau jantungnya sudah stabil. Erick duduk disampingnya melihat wajah Karin yang seperti pangeran tidur, tangannya menggegam erat tangan Karin pandangan matanya yang sedih tak bisa teralihkan.


"cepatlah bangun aku sudah kangen sekali ngomelin kamu tiap ketemu karena kamu selalu menggodaku" ucapnya lirih sambil mengelus pipi Karin. Ucapan itu didengar jelas sama sang kakak yang saat ini berada didepan cyber besar dipusat utama.


Sebuah cyber raksasa yang bisa mengakses seluruh kamera didunia juga satelitnya, ruangan itu akan terbuka saat kode mata mengaksesnya, hanya Karin dan Kiran yang bisa masuk keruangan itu.


"kali ini aku akan merestui hubungan kalian, semoga kau bahagia bersamanya lilte" batin Kiran.


"Sota siapkan jetpri kita keIndo sekarang" printahnya tanpa melihat kebelakang.


"sedikit demi sedikit kamu akan mengetahui siapa kamu sebenarnya lilte, kakak hanya memberi jalan saja supaya kamu bisa tahu semuanya selebihnya ada ditangan kamu" batin Kiran menatap lurus kedepan.


Dirumah sakit Erick tetap duduk pada tempatnya tak mau beranjak sama sekali.


"tuan Erick anda tidak kerja?" tanya Nana yang baru masuk.


"nggak Na, dia masih belum sadar aku mau disini saja" jawab Erick tanpa melihat Nana.


"tapi anda ikut orang tuan"


Belum selesai Nana bicara Erick sudah memotongnya lebih dulu.

__ADS_1


"percuma Na walau aku ditempat kerja tapi fikiranku disini, aku gak tenang kalo tidak memastikannya sendiri"


"baiklah, tapi anda juga harus sarapan dulu tuan"


"gak enak Na, aku masih belum laper"


"kamu harus makan kalo comut bangut dan kamunya sakit kan lucu jadinya masa gantian" sahut Ersya.


"aku tahu kalopun bisa aku sudah makan daritadi" Ersya hanya mendesah kesal mendengarnya.


"sesuap saja buat mengganjal perut, ingat penyakit ada dimulai karena menunda untuk makan kamu mau"


Johan lalu menyodorkan roti isi yang dibuat Ersya kearah Erick.


"kalo gak bisa, makan roti saja yang penting makan dulu"


"terima kasih Han"


"ya"


"kamu itu harus kuat mana ada lelaki cengeng masa kalah sama comut yang masih muda, lihat dia menyembunyikan semuanya dengan rapi tanpa ada yang tahu, dia pura-pura kuat walau sebenarnya dirinya begitu rapuh, bahkan dia menjadi tameng buat kita semua walau yawa taruhannya" ucap Ersya dengan penuh semangat.


"iya, kamu benar Sya terima kasih" Erick menundukan wajahnya, Nana hanya diam saja, Ersya sendiri tersenyum kearah Johan dan disambut senyuman juga sama Johan.


"Ersya benar aku juga gak boleh ikut sakit aku ingin menyambutnya nanti saat dia bangun dari tidurnya" batin Erick melihat kearah Karin. Setelah itu menghabiskan roti ditangannya dengan lahap tanpa sisa walau rasanya begitu enek juga tak mengenakan.


Drrrrrrt dddrrrrrrrtt ddrrrrrrttt


Daring hp milik Erick berbunyi segera dia melihat siapa yang telf, setelah mengetahui siapa yang telf dia segera mengangkatnya.


"samlekum, tuan ada apa?" jawab Erick sama bosnya.

__ADS_1


"walkum, kamu dimana? Handel semuanya ya Vivi masuk rumah sakit"


*****


__ADS_2