THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
PERASAANKU


__ADS_3

"apa gak papa mereka berdua dikamar mandi" ucap Karin sambil minum cocacolanya.


"gak apa jangan kawatir, oh iya bisa kau jelaskan kenapa kamu mengambil cocacola kesukaan nona Vivi" tanya Johan yang langsung pada intinya.


Evan juga Erick memasang telinganya tajam-tajam ingin mendengar juga penjelasan dari Karin.


"tadi cecan bilang semua perubahan terjadi seminggu yang lalu ya itu artinya perutnya bermasalah dan dilarang meminum minuman bersoda kalo gak bisa masuk rumah sakit tuh cecan"


"baby kalo ngomong jangan bertele-tele langsung saja"


"hahahaha kau tahu saja apa yang ku sembunyikan, fiuuuh ok ok baiklah soda mengandung gula dan kalori yang tinggi, pemanis buatan pada soda berkontribusi pada perkembangan alergi dan asma juga sangat mempengaruhi motorik, sebenarnya tadi waktu pegang tangannya aku merasakan ada dua denyut nadi juga aliran darah yang berbeda aku takut Jo"


Evan membatu dengan apa yang diucapkan Karin badannya bergetar dan ingin sekali menghampiri Karin minta penjelasan darinya tapi Erick segera menghentikannya.


"minuman bersoda merusak motorik halus pada anak yang dikandungnya tapi biar lebih jelasnya lebih baik diperiksa dulu kedokter obygin, benarkan tuan Evan" kata Karin sambil tersenyum kebelakang.


"iya terima kasih tuan Karin" Evan tersenyum senang dia begitu bahagia dengan apa yang didengarnya akhirnya yang ditunggu datang juga.


"selamat ya tuan Evan kalo tebakan aku tepat anda akan mendapatkan dua sekaligus eits tapi jangan senang dulu ini hanya tebakan saja sebelum diperiksa kedokter obygin dulu" Karin menunjuk kan dua jarinya kearah Evan seolah sedang pose pis.


"ya" jawabnya pendek sambil tersenyum.


"Jo aku boleh minta tolong padamu"


"kenapa bilang begitu sudah menjadi tugasku untuk melakukannya" Johan mendekatkan telinganya siap menerima apa yang dia perintahkan.


Ersya dan Vivi keluar dari kamar mandi sambil ngomel-ngomel Evan langsung menghampirinya dengan tersenyum, Johan mengantar Ersya pulang kekosan kini hanya tinggal Erick, ternyata Johan disuruh Karin untuk mengajak Ersya keluar karena dia ingin menyeselesaikan masalahnya sama Erick supaya tidak berkepanjangan.


"Erchan kamu gak pulang" tanya Karin menghampiri Erick.


"ini mau pulang, kamu sendiri ngapain masih disini?" Erick balik bertanya.

__ADS_1


"ingin mengajakmu pulang bareng gak keberatan kan"


"sangat keberatan" kata Erick dengan nada tak suka.


"oh gitu ya, maaf kalo aku menganggumu" Karin berbalik badan hendak berjalan dengan perasaan kecewa.


"mau kemana? Katanya mau ngajak pulang bareng" Ucapan Erick membuatnya menghentikan langkahnya.


"Erchan aku bukan manusia perayu dan bermulut manis seperti yang kau pikirkan, seperti ini diriku apa adanya kalo kamu gak suka ya gak apa"


Erick berdiri dan langsung menggandeng tangan Karin berjalan keluar mereka berdua menjadi sorotan semua orang dijalan menuju mobil.


"Erchan soal malam itu aku minta maaf ya kalo sa..."


Belum sempat Karin melanjutkan ucapannya Erick sudah memotongnya lebih dulu.


"bicara apa kamu yang seharusnya minta maaf itu aku karena sudah mencuri sesuatu darimu karena itulah aku menghindarimu maafkan aku juga ya" ucap Erick yang lagi fokus menyetir.


"i, itu.."


"gak mungkin aku bicara padanya kalo aku sudah menciumnya malam itu" batin Erick.


"Erchan!!"


"kamu begitu pintar pasti mudah bagimu untuk mengetahuinya"


"ya pada saat itu terjadi akankah kamu masih bersamaku atau malah membenciku chibi" batin Erick dengan perasaan gundah gulana.


"aku males melakukannya lagipula aku kan bukan detektif"


"hihihi kalo gitu buat PR ya dirumah, kamu beneran mau pulang!"

__ADS_1


"main keapartemenmu boleh gak"


"boleh pintu apartemenku terbuka lebar untukmu"


Erick memakirkan mobilnya dan berjalan menuju lift beriringan dengan Karin tersirat diwajah keduanya aura kebahagiaan.


"Erchan trima kasih kamu masih mau bersamaku sejak hari itu aku bener-bener tidak tahu lagi harus bagaimana seandainya kamu membenciku dan tak mau lagi bersamaku"


Mendengar hal itu Erick langsung menarik Karin kedalam pelukannya dengan erat.


"aku akan bersamamu akan selalu bersamamu maafkan aku, aku bener-bener minta maaf selama ini aku sengaja menghindarimu"


"kamu tidak akan melakukannya lagi kan Erchan, beri aku alasan jika kamu ingin melakukannya karena aku terlanjur sayang sama kamu aku sangat nyaman bersamamu Erchan!" Karin memandang wajah Erick begitu dalam seolah meminta jawaban yang pasti.


Erick mengangguk mengiyakan. "asal kamu berjanji tidak akan menyentuh minuman itu lagi"


"aku tidak bisa berjanji Erchan maaf, tapi akan aku usahakan demi kamu aku akan berusaha"


"kini aku sadari aku tidak bisa jauh darinya aku tidak peduli apa yang orang katakan tentangku, aku nyaman bersamanya, aku bahagia bersamanya" batin Erick memandang wajah Karin begitu lekat.


"seandainya aku bilang padamu kalo aku cewek tulen apa yang terjadi ya pasti menarik" batin Karin sambil tersenyum kearah Erick. Keduanya saling memandang begitu lama.


"ehem ehem mas mas maaf menganggu apa sudah selesai saling tatap menatap" seorang pria paruh baya membuyarkan keduanya.


"maaf silakan pak" jawab keduanya dengan kompak. Lalu berjalan menuju apartemen milik Erick.


Bapak tadi tersenyum kearah keduanya lalu mengambil foto dan langsung mengirim keseseorang yang berada diParis.


"dia begitu menggemaskan benerkan suamiku sayang" ucapnya sambil melihat kearah seorang pria tua disampingnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2