
Karin baru kali ini dia merasakan perasaan yang berbeda saat berhadapan sama romo diruang kerjanya. Walau Karin yatim piatu tapi perasaan itu sungguh bisa dia rasakan sebuah perasaan akan kegagalan saat kita tidak bisa lagi menjadi pondasi apalagi melenceng pada titik garis lurus.
Tidak heran romo akan berlaku dingin, tegas, dan tidak menolerir apapun bahkan sampai berbuat jauh sekalipun demi sesuatu yang tidak boleh lepas dari apa yang dia yakinin selama ini.
Karin berdiri tegap menghadap romo dan dengan tegas dia mulai buka suara. "maafkan saya romo" katanya tegas. "saya bersumpah Erchan akan selalu tetap pada keyakinannya" katanya lagi. Karin membungkuk minta maaf biar bagaimanapun dia yang menciptakan kesalahan pahaman ini.
Romo tersenyum kecil disudut bibirnya. "apa kau bisa membuktikan" katanya.
"ya, akan saya buktikan" kata Karin.
Erick berdiri berlahan lalu berjalan mendekat kearah Karin. "maafkan aku Bi, kamu terseret dalam masalah ini" katanya.
"dasar bodoh ini cuma salah paham, apa yang perlu dimaafkan" balas Karin
"putra kamu harus intropeksi diri dikamar sampai kau sadar" sahut romo datar.
"apaan itu aku tidak mau romo, aku sadar dan sesadar-sadarnya aku suka sama Karin"
"yang kau sukai pria bukan wanita!! Jangan membuat romo marah"
Karin hanya diam saja melihat pacarnya ngeyel didepan matanya sendiri, sebenarnya dia sangat senang karena Erick mau berkata jujur walau sedikit kecewa karena sampai sekarang dia tak sadar juga padahal semua sudah pada tahu haaaaah. kesalnya dalam hati!.
Didepan ruang kerja romo sang bunda datang dengan enam orang pengawal. walau badan sudah berkepala tiga juga bercucu tapi bunda masih kelihatan cantik dan sexsy jalannya pun juga masih tegap bak model profesional. Mungkin karena rutin perawatan tradisonal jawa yang sudah jadi turun temurun diJogja.
Bunda yang melewati Johan dan Ersya menyapa dengan senyum lalu berlalu menuju daun pintu. Johan yang memeluk Ersya juga membalas senyuman bunda.
Tok tok tok
Salah satu pengawal mengetuk pintu lalu membukanya, pintu terbuka nampak ketiganya masih berdiri, terlihat Erick sejajar dengan Karin menggenggam tangannya membuat bunda mendengus kesal lalu berjalan masuk.
"mas jo ini seperti ruang eksekusi gimana kalo Karin bakal dipenggal, gak bisa bayangin mas aku takut" gerutu Ersya tanpa melihat Johan pandangannya hanya terpaku pada daun pintu berukir klasik.
"kamu ini ada-ada saja Sya, jangan berfikir macem-macem fikir yang baik-baik saja"
__ADS_1
"iya mas" jawabnya sambil mengangguk.
Pintu masih terbuka bunda berdiri ditengah pintu dengan enam orang pengawal.
"apa dia masih belum sadar?" pekiknya. Karin hanya diam dan biasa saja, Erick sudah pucat pasi, sedangkan romo melipat tangan dengan tenang acuh tak acuh.
"bunda!!" kata Erick pelan.
"kalo melihat reaksi romo juga bunda sepertinya... "batin Karin yang sadar akan sesuatu. "jadi begitu ternyata ya, apa aku harus membantunya atau tidak ya? Ko jadi bingung sendiri sih Erchan sadarlah untuk kali ini saja biar aku gak pusing, please deh!!" batinnya lagi sambil memegangi dahinya dalam kayalan.
"aku menyuruhnya intropeksi diri supaya sadar, tapi dia menolak" kata romo.
"Erick Adi Putraaa" teriak bunda menggema sampai keluar ruangan membuat Johan juga Ersya terkejut saling memandang.
"ya ya ya ya ya bunda Erick masih disini" spontan Erick menjawab dengan terbata-bata.
"matilah aku kalo bunda lagi marah hiks" batin Erick
"seret bocah dungu ini kekamarnya dan jangan biarkan dia keluar sampai terbuka mata batinnya" kata bunda menunjuk kearah Erick.
"baik nyonya" balas semuanya mengangguk berjamaah.
Mereka semua kompak mengangkat Erick lalu berjalan menuju kekamarnya untuk intropeksi.
"tunggu bunda Putra belum menentukan pilihan" teriak Erick disepanjang jalan. Pemandangan itu disaksikan langsung oleh Ersya dan Johan yang masih setia berdiri diluar.
Kini tinggal mereka bertiga diruangan, Karin masih menatap Erick yang diseret enam pengawal dengan ketir. Bunda berdengus kesal melihat putranya kali ini, sang romo masih tetap pada posisinya.
Romo dan bunda berjalan kearah sofa, mereka berdua kompak mendaratkan bokongnya disana, bunda bersandar didada bidang suaminya menatap Karin dengan lembut dan sedikit tersenyum.
"a, anu romo, bunda, itu..." Karin terbata dengan apa yang ingin dia yang dikatakan.
"kami berdua sudah tahu Karin" kata bunda. Karin hanya bengong saja.
__ADS_1
"maafkan saya, saya tak bermaksud membuat semuanya salah paham"
"kami ingin tahu awal mula kamu bertemu putra kami, sebelumnya kamu duduk dulu gak capek berdiri terus" kata romo.
"terima kasih" kata Karin lalu berjalan menuju sofa dan duduk santai dan mulai bercerita.
"pertama bertemu Erchan waktu saya menjadi wakil perusahaan kakak diperusahaan tuan Evan karena kakak harus keluar negri saat itu" Karin diam sejenak lalu melanjutkan ceritanya. "sebenarnya saya dulu yang tertarik sama putra anda, tapi karena tidak mungkin saya mendekatinya dengan keadaan begini jadi saya dekatnya sebagai teman saja, sampai saya tidak mengira kalo Erchan juga tertarik sama saya" jelas Karin.
"kenapa tidak bilang saja kalo kamu wanita?" tanya bunda.
"saya sudah memberi lampu hijau sama Erchan tapi dia tetap tak percaya, tapi mungkin ini lebih baik itung-itung buat kejutan nanti"
Bunda berdiri lalu berjalan mendekat keKarin memgang tangan Karin.
"apa kamu mencintai putra dengan segala kekurangannya" tanya bunda. Karin hanya mengangguk tanda iya.
"kami tidak pernah memilih-milih menantu asal kalian berdua bisa saling mengerti dan menerima kekurangan masing-masing itu sudah lebih dari cukup, iya kan romo"
"hhmmm" romo hanya berdehem
"iya, terima kasih tapi.." Karin terdiam menunduk memainkan jari-jarinya diatas lutut, antara bingung dan takut wajahnya saat ini mulai kalut dan resah semua itu disadari sama bunda dan romo.
"ada apa? Katakan saja"
Karin bingung tapi walau begitu dia harus berkata jujur, dia tidak mau kedua orang tua didepannya ini kecewa nanti setelah itu dia akan siap menerima keputusannya nanti.
"romo bunda sebenarnya saya..." kata Karin romo dan bunda semakin penasaran dibuatnya.
"saya seorang pembunuh sekaligus bos MAFIA!!!" perkataan Karin langsung membuat keduanya kompak mendelik juga terkejut.
*****
DUKUNG AUTHOR DENGAN MEMBERIKAN LIKE, COMEN, DAN VOTE,😘😘😘
__ADS_1