THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
PERNYATAAN KARIN


__ADS_3

Nasip Erick sungguh beruntung selain tanpa rintangan saat datang kerumah Karin penghuninya pun sedang tidak keluar rumah, dia berada diruang kerja dengan beberapa berkas tentang rincian dua puluh tiga tahun lalu mencoba mengulas satu persatu apa yang tersembunyi dimasa lalu.


Walau rumah itu tanpa penjaga pintu rumah terkunci otomatis dan mendeteksi seseorang yang masuk, tahu pintu terkunci dia mencoba mencari jalan lain mengitari rumah berharap ada jalan lain disisinya.


Hampir setengah hari Erick mencari jalan lain tapi tak kunjung ketemu membuatnya terduduk lesu bersandar ditembok.


"dasar nasip mau ketemu dia saja susah bener" gerutunya kesal mendongak keatas, dia melihat ada satu cendela yang terbuka Erick langsung berdiri begitu saja dan mengamati sekitar berharap ada pohon yang bisa dipanjat untuk masuk kesana.


"kelamaan kalo harus mencari pohon lebih baik kupanjat saja dinding ini" batinnya sambil bersiap untuk memanjat dinding yang mengarah kecendela itu.


Erick memanjat tanpa pengamanan apapun yang melekat ditubuhnya. Demi bisa bertemu Karin kekasihnya dia rela melakukan apapun, demi bisa bertemu kekasihnya dia tidak mempedulikan dirinya yang akan terluka dan bisa saja yawa melayang jika jatuh dari atas.


Hatinya yakin Karin masih memiliki rasa untuknya, dia yakin Karin tidak akan mengkhianati cintanya. Berkali-kali dia tergelincir dan hampir jatuh tapi semua itu tak membuatnya goyah dan terus memanjat keatas.


"akhirnya sampai juga" kata Erick lirih tapi disaat tangannya hendak meraih bibir cendela disaat itupula dinding yang menjadi pijakan kakinya retak dan hancur.


Erick terjatuh saat tangannya belum menyentuh bibir cendela, seseorang berhasil menangkap tangan Erick dan berusaha menariknya keatas.


"dasar nekat, jika badanmu menyentuh tanah selain mati cacat yang kau dapat" kata orang itu yang tak lain adalah Ran Ran sendiri.


Ran Ran tahu ada seseorang datang kerumah karena lampu peringatan terus berkedip, dia berjalan keruang cctv ingin tahu penyusup mana yang datang, matanya langsung mendelik begitu tahu Erick sudah memanjat dinding tanpa pengaman apapun.


"aku tak peduli asal bisa bertemu dengannya apapun akan aku lakukan"


"kau merendahkan dirimu sendiri hanya demi seorang wanita" kata Ran Ran menusuk hati Erick yang mendengarnya.


Erick diam mendengar itu lalu dia melihat Ran Ran serius.


"bukannya aku merendahkan diri sendiri tapi memang dia begitu berarti bagiku dan aku tak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya" kata Erick tegas dan serius.


perkataan Erick membuat Ran Ran tersenyum puas namun tidak diperlihatkan lalu dia mengucapkan sepatah kata lagi.


"walau dia sudah kehilangan mahkotanya kau masih mau bersamanya pikir baik-baik diluaran sana banyak gadis dengan mahkota yang utuh bahkan lebih dari dia" perkataan Ran Ran kali ini membuat Erick geram mengepalkan tangannya.


Dia langsung mencengkram baju Ran Ran saking geramnya sambil menggertakkan giginya.

__ADS_1


"jangan menguji kesabaran orang aku tidak peduli dengan semua itu, aku menyukainya karena dia berbeda dari lainnya dia wanita pilihanku sendiri" teriak Erick kesal dan marah.


Dia melepaskan cengkeramannya dan berkata. "terima kasih sudah menolongku" setelah berkata seperti itu dia berlalu pergi meninggalkan Ran Ran.


Ran Ran tersenyum kecil disudut bibirnya menatap kepergian Erick.


Erick berjalan keseluruh penjuru rumah ruangan demi ruangan dia telusuri, ibarat ingin menemukan harta karun yang disembunyikan dia berjalan kesana kemari tanpa lelah.


"astaghfirullah ini rumah apa labirin sih diluar susah didalam masih saja susah, ya Allah bantulah hambamu fuh" gerutunya melanjutkan apa yang dicari.


"ukh!!" Erick merasakan nyeri diperutnya bekas tusukan itu masih meninggalkan rasa sakit.


Karin yang berada diruang kerja mendesah kesal dia masih belum bisa menemukan petunjuk lain disana.


Dia berdiri dan berjalan kekamarnya ingin membersihkan diri dan istirahat sejenak. Ditengah jalan tangannya ditarik seseorang hingga membuatnya berbalik dan menabrak badan orang itu.


Yang membuat dia terkejut dan tak bisa apa-apa mulutnya langsung dibungkam dia cuma mengeryitkan kedua alisnya saat merasakan bibirnya diexplor oleh sesuatu yang kenyal hingga kedalam.


Kedua tangan Karin mencengkram erat pundak orang itu mencoba mendorong badannya sekuat mungkin.


Buk....


Karin keluar ruang kerjanya dengan malas dan terlihat begitu lelah, dia hendak berjalan kekamarnya sendiri guna membersihkan diri.


Melihat kekasihnya yang keluar Erick keluar dari tempat persembunyiannya, dia berjalan mendekat dan langsung menarik tangan karin begitu saja menariknya kedalam pelukannya dan mencium bibirnya bermain disana hingga kedalam.


Mendapat serangan seperti itu Karin tidak tinggal diam dia berusaha mendorong badan Erick menonjok perutnya yang sakit.


Tangan Karin mencengkram jaket hoodienya dan siap melayangkan pukulan yang kedua, dia nampak terkejut begitu melihat wajah kekasihnya yang menahan sakit diperutnya.


"Erchan!!" katanya lirih membantu Erick berdiri dan berjalan kearah kursi.


"maaf ya, bagian mana yang sakit sini kulihat" kata Karin lagi sambil membuka jaket hoodie yang dipakai Erick.


"dia masih peduli padaku" batin Erick memperhatikan wajah kekasihnya yang panik.

__ADS_1


Erick menggenggam tangan Karin menghentikan aktifitasnya untuk melihat lebih jauh lukanya, memeluk badan Karin begitu saja.


"aku tidak apa, aku cuma ingin bertemu denganmu Bi" kata Erick dalam keadaan memeluk kekasihnya. Karin hanya diam dia tak mampu bicara, sebenarnya perpisahan ini sungguh berat bagi keduanya.


"kamu kabur dari rumah sakit hanya demi menemuiku" balas Karin melepas pelukan Erick.


"jangan mengalihkan pembicaraan aku ingin tahu yang sebenarnya"


"aku.... aku ingin kita seperti ini dulu Erchan, maafkan aku"


Erick meraih wajah Karin menghadapkan kedirinya. "apa maksudmu Bi, kamu bercandakan" kata Erick tak percaya sama jawaban yang diberikan oleh kekasihnya.


"aku tak bercanda Erchan aku ingin sendiri saat ini, aku ingin kita..." belum selesai Karin bicara tapi perkataannya sudah dipotong oleh Erick.


"tidak! aku tidak mau jika berpisah ada banyak cara menghadapi musuhmu selain perpisahan ini"


"Erchan mengertilah sedikit"


"bagaimana aku bisa mengerti jika kamu mengorbankan cintamu demi diriku, bagaimana aku bisa mengerti jika kamu mengorbankan cintamu demi menyelamatkan diriku katakan padaku dimananya aku bisa mengerti"


"pulanglah Erchan aku sangat lelah hari ini"


"aku mendengar semuanya waktu dirumah sakit, jika semua yang kau lakukan hanya demi diriku agar aman dari mereka sungguh aku tak bisa menerimanya"


Karin hanya diam mendengar apa yang dikatakan Erick dia bingung tidak tahu apa yang harus dibicarakan padanya.


Dia bangkit dari duduknya dan segera berjalan menuju kamarnya meninggalkan Erick tanpa perkataan apapun lagi.


Erick melihat kepergian kekasihnya dengan kecewa, apa yang diinginkan tak sesuai apa yang diharapkan dia menatap punggung Karin dengan nanar kesedihan terlihat jelas diwajahnya.


Ran Ran menghampiri Erick dia mendengar semuanya percakapan mereka berdua.


"kasih dia waktu untuk berfikir ini sangat sulit baginya dalam menentukan pilihan" kata Ran Ran.


"baiklah aku akan pergi jika itu maunya, tolong katakan padanya aku tidak akan pernah meninggalkannya dan tak akan pernah berpisah dengannya"

__ADS_1


*****


Episod selanjutnya akan seperti apa ya, penasaran deh🤗🥰🤩


__ADS_2