THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
BELUM TERSENTUH


__ADS_3

Mereka berdua berdiri disebuah kos-kosan kecil yang kumuh setelah lima belas menit perjalanan.


"maaf ya tempatnya begitu kumuh hehehe" ucap Ersya sambil tersenyum juga menggaruk kepalanya walau tidak gatal.


"gak apa ayo masuk dan bikin kuenya" balas Johan.


"harusnya yang ngomong begitu aku" batin Ersya lalu berjalan masuk.


Ersya langsung menuju kearah dapur membuatkan kopi untuk Johan, setelah itu dia mulai meracik setiap kue yang dibeli Karin tadi pagi.


"jumlahnya dibikin sama atau gimana tuan"


"gak tahu pokoknya kamu bikin sajalah, oh iya kenapa kamu bisa tahu" kata Johan yang heran dengan ucapan Ersya yang tahu kue yang dia cari.


"oh itu sebenarnya kue yang dibawa sicomut itu beli dari saya tuan kalo pagi saya jualan dipinggir jalan buat ngisi waktu" Ersya berkata sambil tersenyum lebar.


"oh gitu"


Johan lalu berjalan menghampiri Ersya dan membantunya supaya lebih muda dan cepat.


"sini aku bantu kamu racik saja dan ngomong apa yang harus aku lakukan"


"terima kasih tuan"


"namaku Johan panggil nama saja aku hanya seorang pengawal bukan tuan besar"


"iya baiklah mas Jo" walau rada kikuk tapi Ersya berusaha memanggil dengan nama saja.


"baiklah tadi aku beli sesuai resep tadi pagi"


"ok"


Ersya langsung meracik berbagai resep dengan cepat menyuruh Johan melakukan sesuai intruksinya, Johanpun dengan cekatan langsung mengerjakan sesuai apa yang diperintahkan oleh Ersya sambil bercanda supaya tidak jenuh.

__ADS_1


"nih coba dulu mas Jo" kata Ersya memberikan kue ditangan.


"tanganku kotor" Johan memperlihatkan kedua tangannya, Ersya mengambil sendok lalu menyuapi Johan dengan kue yang diberikan tadi.


"enak kuenya" ucap Johan.


"terima kasih mas Jo" balas Ersya dengan tersenyum kearah Johan.


Sementara dikantor Karin mau pulang siap diantar oleh Nana tapi begitu tiba didepan hotel mobil hitam yang dia kenal sudah bertengger didepan siap mengantarnya pulang.


"siapa lilte?" tanya Nana melihat mobil didepannya.


"biasa siapa lagi kalo bukan dia" balas Karin dengan nada tidak suka.


Pintu kaca mobil terbuka dan Erick memperlihatkan senyum pada Karin.


"yooo masuk chibi" katanya.


"terima kasih litle, oh iya lilte apa sudah tidak ada yang mengintaimu lagi"


"sepertinya tidak aku sendiri juga gak mau tahu, kejadian pesawat yang waktu itu sudah aku tutup tak mau menyelidiki lagi, Nana sebisa mungkin aku tidak mau mencari musuh hanya itu yang bisa aku fikirkan saat ini"


Karin lalu berjalan masuk mobil duduk disamping Erick, Nana hanya menatap sang majikan dengan sendu dia mengerti apa yang difikirkan sang majikan.


"gimana kabarmu hari ini Erchan?" ucap Karin membuka suara.


"seperti yang kau lihat sangat baik" balasnya dengan tersenyum.


"Erchan temani aku keclub ya hari ini"


"gak usah lebih baik kita pulang"


"kalo begitu aku turun disini saja aku akan pergi sendiri keclub" Karin mulai ngambek karena permintaannya tidak dituruti.

__ADS_1


"chibi berhenti kesana aku tidak suka, kalo kau punya masalah kan bisa deiselesaikan dengan baik tanpa harus melampiaskan ditempat seperti itu" ucap Erick menasehati.


Sejujurnya Erick sudah diwanti-wanti sama Johan jika sebisa mungkin jangan sampai membuat Karin mabuk berat.


"hei BOCIL! kamu yang selalu disisi baby aku cuma mau kasih tahu kamu untuk tidak membiarkan baby mabuk berat sampai gak sadarkan diri karena itu sangat berbahaya bagi dia karena aku tidak mungkin selalu bersamanya" dalam fikiran Erick saat mengingat apa yang dikatan Johan tempo hari.


"heh apa kau belum pernah menyentuh minuman setan" ucap Karin mencibir.


"iya aku memang gak pernah menyetuh bahkan sampai meminumnya" balasnya dengan santai.


"karena itu bisa membuat kita menjadi orang lain" lanjutnya.


"hahahaha orang lain ya, kalo begitu badanmu bener-bener masih polos ya" kata Karin mengejek. Lalu dengan sengaja memainkan jari telunjuknya disekitar leher Erick membuat dia meremang seketika.


"chibi hentikan aku gak suka" Erick mati-matian menahan diri.


"katakan dulu Erchan" sambil tetap bermain dengan leher Erick.


"ok ok aku ngomong, aku belum pernah melakukan apapun badanku masih polos los ok sekarang hentikan"


Tangan Erick meraih tangan Karin menggegamnya dengan erat.


"kau tidak ingin melakukannya Erchan hihihi" goda Karin.


"maksudmu apa kalo soal begituan aku ingin melakukannya setelah sah"


Mobil yang membawa mereka berhenti tepat dilampu merah dengan antrian yang sangat panjang.


"berarti yang ini masih belum disentuh siapapun dong" mata Erick langsung mendelik saat jari telunjuk Karin menyentuh dengan lembut kebibirnya dan bermain disana. Erick diam entah mengapa dia ingin sekali ******* itu jari tapi masih bisa dia tahan.


"dia pandai sekali membuat orang bergairah kalo begini terus aku juga gak bisa bertahan, astogfirlloh...." batin Erick tak mau melihat kearah Karin.


*****

__ADS_1


__ADS_2