
Erick membuka matanya pelan sesungguhnya dia mendengar apa yang dikatakan Karin tak ada yang terlewatkan, tanpa sadar air matanya sudah mengalir melewati pelipis hatinya sakit dia yang menabur benih cinta hingga berkembang dan dia sendiri yang menghancurkan cinta itu.
Sebelum Karin datang kekamar perawatannya Erick sudah sadar dia berniat ingin memberi kejutan untuk kekasihnya itu tapi apa yang dia dapat justru dia sendiri yang terkejut saat mendengar sendiri dari mulut Karin jika hubungan mereka berdua sudah berakhir.
Erick hanya diam dia memejamkan matanya kembali hatinya begitu sesak saat ini sungguh sakit tapi tak berdarah, ingin sekali dia bangkit dari tempat tidur dan berlari kearahnya meminta penjelasan yang logis tapi semua itu hanya dalam angan-angan karena badannya yang masih lemah.
"romo" teriak bunda sekencang mungkin dengan raut wajah yang panik sekaligus takut air matapun mengalir tanpa henti.
Segera Romo berlari mendekat secepat mungkin bersama adiknya yang menemani.
"ada apa bun?" tanya Romo kearah istrinya.
"cepat panggil dokter lihat kondisi putra semuanya menurun dia drop cepetan romo" jawab bunda dengan kepanikannya.
Tanpa banyak bicara Romo berlari memanggil dokter kali ini semuanya bener-bener kacau selepas kepergian Karin.
"apa yang membuat anak bapak seperti ini? Dia belum sembuh benar perasan dan pikirannya harus bisa tenang sebisa mungkin jika tidak dia bisa koma" kata dokter setelah memeriksa kondisi Erick lebih lanjut.
Mendengar itu semuanya tak mampu berucap mereka tak akan sanggup jika melihat anaknya harus koma. Bunda tiada hentinya menangis bahkan dia sampai pingsan.
Didalam mobil Karin tak mampu lagi membendung air matanya, dia keluarkan semuanya sambil memegang cincin dijari manisnya, sebenarnya mobil Karin masih berada diparkiran rumah sakit tempat Erick dirawat.
Ran Ran menyusul dan duduk disamping Karin, kisah cinta yang Karin alami hampir sama dengan kisah cintanya dulu. Cinta yang terhalang oleh dinding pembatas walau dia mencoba menghancurkan dinding itu ada saja sesuatu membuatnya kokoh kembali.
Ran Ran meraih badan Karin mendekapnya kedalam pelukan mencoba menenangkan dirinya.
"ini sangat sulit, sungguh sulit sekali melepaskan dia" kata Karin lirih dalam keadaan menangis.
"karena kau sangat menyukainya dan belum bisa merelakannya jauh darimu" balas Ran Ran.
"sepertinya begitu" balas Karin mengeratkan pelukannya tanpa sadar.
"kenapa rasanya nyaman sekali seperti dipelukan bunda padahal baru kali ini aku dipeluk Ran Ran" batin Karin lalu melepas pelukannya.
"terima kasih" katanya pendek dan beralih menatap rumah sakit.
"maafkan aku Erchan walau berat aku harus melakukannya, semoga kau baik-baik saja" Karin bergumam dalam hati menatap rumah sakit tempat kekasihnya dirawat.
Dia mengusap bekas sir matanya menarik nafas pelan. "kau sudah memberi penjagaan disana kan" katanya tanpa mengalihkan pandangannya.
"sudah kutepatkan tim bayangan disekitarnya" balas Ran Ran.
__ADS_1
"kita pergi kebandara sekarang"
"baik tuan"
Pesawat lepas landas meninggalkan bekas yang mendalam dihati sang pemimpin, sebuah rasa yang dia kembangkan dia hancurkan sendiri.
Tidak ada sepatah kata yang terucap disetiap bibir masing-masing hingga pesawat mendarat dihalaman belakang, mereka yang tidak tahu akan kejadian yang sebenarnya menyambut sang majikan dengan suka cita mengadakan acara kecil-kecilan.
Karin yang bengong saat turun dari pesawat mencoba untuk tersenyum didepan semuanya seakan tidak terjadi sesuatu menerima acara itu dengan suka cita.
"kalian lanjutin saja aku capek" kata Karin melangkahkan kakinya.
"baik tuan eh salah nona maksudnya" kata semuanya kompak membuat Karin berhenti dan melihat kebelakang.
"siapa yang memberi tahu kalian?" ucapnya terkejut.
"tuan Han nona satu lagi video yang viral disosmed ini" jelas salah satu pelayan sambil menggoyangkan hp ditangan.
Karin mendengus kasar. "sejak kapan kau mulai ikut campur urusanku Jo" Karin melihat Johan yang masih duduk santai.
"aku hanya membuat mereka tidak salah paham saja, daripada begitu sudah kau lihat belum beberapa foto yang kukirimkan padamu tempo hari"
"tidak bisa untuk hari ini lain kali saja aku periksa sudah ya semuanya"
"tidak biasanya dia buru-buru" celetuk Ersya yang tiba membawa beberapa hidangan.
"capek mungkin biarkan saja dia istirahat"
"begitu, ya sudahlah kita makan saja mubazir kalo dibuang"
Dikamar Karin duduk didekat cendela melipat kakinya, tatapannya kosong keluar cendela tidak ada kegiatan sama sekali dirumah perkerjaan masih dihendel oleh Johan.
Tok tok tok
Cklek
Johan masuk begitu saja setelah mengetuk pintu kamar dia mendapati Karin duduk ngelamun didekat cendela, tatapan matanya kosong menerawang keluar tersirat kesedihan matanya yang sayu.
Dia tidak mempedulikan suara ketukan pintu bahkan saat Johan masukpun dia tidak melihatnya.
"aku sudah dengar semuanya, jika berat kenapa harus berpisah" kata Johan duduk disampingnya.
__ADS_1
Karin hanya diam tak menghiraukan perkataan Johan membuatnya kesal.
"kudengar Erick sempat drop jika kondisinya terus berlanjut dia akan koma" kata Johan melanjutkan kali ini Karin melihat kearah Johan begitu mendengar kata Erick.
"pantau terus keadaannya ganti dengan dokter terbaik disana" Karin berkata tanpa sadar karena dia masih memikirkan Erick.
"dia masih peduli padanya walau terluka" batin Johan.
"apa yang akan kau lakukan selanjutnya" tanya Johan.
"aku ingin keJepang menenangkan diri dulu baru melanjutkan mencari kebenaran orang tuaku" jawab Karin.
"aku akan menemanimu kesana"
"tidak usah Ersya membutuhkanmu, aku akan pergi bersama Ran Ran"
"bukannya aku tidak mau kau temani tapi karena kau menyimpan begitu banyak rahasianya aku enggan ditemani olehmu" batin Karin.
"baiklah kalo begitu jika ada apa-apa segera hubungi aku"
"heem"
Setelah pisah bersama Erick Karin pulang keJepang beberapa saat menenangkan dirinya, sementara diIndo masih tetap dipegang oleh Johan dan Nana.
Dia tidak tahu kapan akan kembali keIndo lagi yang jelas selama dia belum mendapat ketenangan dia masih belum bisa pulang kerumahnya yang ada diIndo.
Keadaan Erick selalu dipantau dan tak lupa mengabarkan langsung keKarin setiap hari, walau mereka berdua sudah berpisah tapi Karin masih belum bisa lepas dari bayang-bayang wajah Erick.
Hal itu membuat perkerjaannya berantakan karena dia sering ngelamun dikantor, para rekan dikantor cuma memandang heran terhadap bos besarnya berulang kali mereka harus mengingatkan akan perkerjaan yang harus dilakukan.
Karin duduk santai dikantornya dia meraih hp membuka pesan yang dikirim Johan beberapa waktu lalu tentang foto-foto yang dia kirimkan.
Dia nampak kaget sekaligus tak percaya sama apa yang dia lihat wajah seorang wanita difoto yang berada di hpnya memiliki wajah yang sama dengan sahabatnya.
"tidak mungkin bagaimana ini bisa terjadi, pasti hanya mirip" kata Karin tak bisa mempercayai apa yang dilihat.
Foto yang dia kirimkan keJohan untuk memperjelasnya ternyata foto Yoko yang sedang memakai baju pasien waktu pertama tiba dirumah sakit.
*****
Hallo para readers sekalian untuk episod sebelumnya yang dobel author sudah menghapusnya sejak pagi tadi dan tidak tahu kenapa masih tetap tampil.🙏🙏
__ADS_1
Dan terima kasih sudah mengikuti alur cerita ini hingga saat ini dan terima kasih atas dukungannya. 🥰😘🤗