
Disebuah pulau pribadi milik Karin disana dia membangun rumah pribadinya nan mewah juga luas berikut hotel berbintang, sebuah hotel berbintang dengan penampilan yang begitu suram dan mencengkam warnangya juga begitu kelam karena cuma berpadu antara gelap dan merah saja membuat orang bergidik ngeri, ya hotel berbintang itu adalah penjara bawah tanah tempat Karin mengurung orang-orang yang selalu bermasalah, disanalah aktifitas Karin disaat dia lagi senggang bersama Johan dia akan menikmati pertarungan seru sambil duduk santai bermain hp.
Karin sekarang berada disebuah penjara berukuran 1.5m persegi gelap dan suram. Didalam penjara itu Karin bersama seorang pria Jepang bernama Jun Matshumoto musuh bebuyutannya waktu dia masih SMA.
"sepertinya kamu sangat sehat ya Jun" kata Karin mlihat Jun berada didepannya sambil duduk disebuah kursi bersama Johan berdiri disampingnya.
"ngapain kamu kesini?" jawab Jun dalam kondisi yang memprihatinkan.
Jun terlihat serperti gembel apalagi kedua tangannya yang sudah putus akibat ulah Karin.
"ceritakan waktu kalian dihotel saat itu Jun" mendengar itu Jun tersenyum kecil disudut bibirnya.
"kenapa gak cari tahu sendiri, bukannya kau orang yang hebat jangan-jangan otakmu sudah kendor kerana kebanyakan menyiksa juga membunuh" ejek Jun didepan Karin dengan sinis.
"tanganmu bisa kembali Jun aku serius" kata Karin tegas.
Jun menyeringai dan ketawa. "hahahaha tentu saja bercinta ngapain lagi bodoh" teriak Jun menggelegar membuatnya marah. Karin yang geram langsung bangkit hendak menghanjar tapi dicegah sama Johan.
"kita kembali saja baby" ucapnya pelan.
Karin menuruti perintah Johan dan mereka berdua pun keluar dari ruangan kecil dan suram itu.
"Karin...." panggilnya membuat Karin menghentikan langkahya dan melihat kearah Jun.
"aku mencintainya!!"
Mata Karin terbuka lebar nafasnya mulai memburu keringatpun bercucuran, jantungnya juga mulai berdetak dengan hebat nafasnya kini mulai sesak dan sangat berat membuatnya mencengkram seprei tempat dia tertidur.
Prang...!! Karin melempar sebuah pot bunga yang berada diatas meja kearah tembok supaya seseorang bisa mendengarnya.
Suara barang pecahpun terdengar sampai keluar hingga membuat seseorang mendengarnya. Orang itu segera berlari begitu mendengar suara barang pecah dari arah kamar Karin.
Brak....!!
Karena gak sabar ingin tahu apa yang terjadi dia langsung menggebrak pintu dengan kasar, dia terkejut sekaligus bingung saat melihat Karin memegangi dadanya dengan begitu erat juga mencengkram seprei. Dan nafasnya yang begitu susah seolah tercekik akibat oksigen disekitarnya sudah habis.
__ADS_1
"Bi, apa yang terjadi? Ada apa dengamu?" teriaknya yang tak lain adalah Erick yang sengaja ingin kekamar Karin.
"Na... Na... akh" kata Karin dengan berat juga nafas yang begitu sesak.
"gak usah dilanjutin aku mengerti Bi" Erick segera menelfon Johan karena dia tak tahu nomor telf Nana.
Setelah menelfon dia melempar hpnya lalu berfokus pada Karin.
"tahan Bi aku sudah menelfon Han dia akan segera memanggil Nana please kamu harus kuat kumohon" kata Erick dengan badan yang bergetar takut sakaligus menangis.
Erick mencoba menekan dada Karin berkali-kali sekaligus memberi nafas buatan berharap dia bisa bertahan sebelum Nana datang.
"kumohon Bi bertahanlah untuk sesuatu yang sangat berharga bagimu" Erick terus yerocos sambil menangis.
Han yang menerima telf dari Erick dan mendengar ceritanya langsung berlari menuju Nana. Mereka berdua berlari secepat mungkin dengan peralatan medis yang sudah dibawanya dari Jakarta.
"bagaimana keadaannya?" tanya Nana yang sudah tiba bersama Johan dengan cekatan dia memasang infus, selang oksigen, juga pendekteksi jantung.
"gak usah banyak tanya cepatlah periksa, tadi dia memegangi dadanya dan nafasnya yang sesak juga berat" jelas Erick masih sesengukan didekat Karin.
"apa yang terjadi?" kata Kiran datar melihat adiknya sudah dipasang berbagai alat dibadannya.
"sesak nafas saja tuan mungkin litle sedang mengalami mimpi buruk hingga membuat jantungnya berkerja tidak teratur" jelas Nana.
"periksa lebih detail lagi" perintahnya.
"baik tuan" jawab Nana menunduk hormat.
"tadi itu suara apa? Apa yang terjadi" tanya bunda yang baru tiba bersama romo.
"litle sedang sakit maaf mengganggu istirahat anda nyonya juga tuan" Kata Kiran sopan.
"sudah kubilang gak perlu formal" kata romo menepuk bahu Kiran.
"iya tuan"
__ADS_1
"Karin kenapa? Kenapa diinfus segala" tanya bunda yang terkejut melihatnya.
"tidak ada apa-apa nyonya, kesehatannya sudah membaik dan butuh istirahat saja" sahut Nana.
"kamu siapa?" tanya bunda.
"saya dokter pribadi litle nyonya"
"gitu ya, benarkah dia tidak apa?" tanyanya lagi masih ragu.
"sudah bun nak Karin gak apa-apa percayakan sama dokter pribadinya, ayo kembali kamu juga butuh istirahat kan" balas romo dengan berlahan memgajak istrinya keluar.
"kami permisi dulu nak Kiran" kata romo lagi lalu berjalan pergi.
"iya tuan" balasnya pendek.
"aku pergi dulu pastikan beberapa pengawal berjaga disini" kata Kiran lagi lalu berjalan keluar.
"baik tuan!!" jawab Nana dan Johan bersamaan juga menunduk.
"anda tidak istirahat tuan Erick" kata Nana.
"tidak, aku mau disini kalian keluarlah" katanya tanpa melihat kearah keduanya.
"baiklah kami permisi dulu tuan" balas Nana lalu berjalan bersama Johan keluar kamar.
Erick melihat Karin yang kini sudah tenang memejamkan matanya. Ditatapnya wajah menawannya dengan sendu tak tahu harus berucap apa, dipegangnya jari jemari Karin yang panjang juga lentik lalu diletakan dipipinya air matapun kembali mengalir dengan sendirinya.
Karin orang kedua yang mampu membuat dirinya menangis, Karin orang kedua yang sangat dia inginkan untuk bersamanya. Bagi Erick saat ini Karin adalah segala-galanya!.
Setelah puas memandang wajah Karin dia berlahan mendekatkan wajahnya ketelinga Kari.
"I LOVE YOU!!" bisiknya.
*****
__ADS_1