
"aku takut Erchan aku takut, aku tidak punya siapapun walau aku punya kakak, kakek, nenek, tapi mereka jauh sangat jauh, selama ini Johanlah yang selalu menemaniku siang dan malam selama 24 jam tapi sebentar lagi dia juga akan pergi bersama Ersya, kamu juga akan pergi meninggalkan aku"
Tanpa sadar air mata Karin mulai mengalir, Erick yang terkejut dengan penuturan Karin langsung meraih wajahnya dan dihadapkan kedirinya.
"pada dasarnya dia wanita yang rapuh, hidup mewah bagaikan ratu disisi lain dia harus melawan kerapuhannya sendiri dan berpura-pura tegar dan kuat didepan semuanya, yang dia butuhkan sebenarnya hanyalah orang yang selalu bersamanya memberinya dukungan juga dorongan" batin Erick memandang sedih kearah kekasihnya
"katakan kekuranganmu apapun itu aku pasti akan menerimanya" kata Erick tegas dan serius.
"benarkah kamu juga tak akan mengungkitnya"
"Bi, apa kau tahu kejujuran itu sangat menyakitkan tapi itu semua jauh lebih baik daripada disembunyikan dan mengecewakan dikemudian hari, aku ingin kau percaya padaku dan ceritakan semuanya"
"maafkan aku"
"terserah kamu saja"
Karin mencengkram baju Erick menempelkan dahinya didada bidang pacarnya berlahan dia menceritakan semuanya dimana dia pertama kali bertemu dengan Johan dan sejak saat itu memang dia selalu bersama Johan. Johan menjaga dia 24 jam nonstop dia sudah menganggap Karin seperti adik perempuannya sendiri tidak lebih.
Mendengar cerita kekasihnya tanpa sadar buliran kristal melewati pipi sang tuan, entah mengapa hatinya seakan ikut merasakan penderitaan yang dirasakan oleh kekasihnya, begitu sakit seolah-olah tersayat pisau dia tidak bisa membayangkan seandainya dia berada diposisi wanitanya saat itu mungkin mengakhiri hidup bisa jadi pilihan yang tepat ditambah dia yang masih belia.
Erick meraih kepala kekasihnya dan menempelkan bibirnya begitu saja.
"sudah Bi hentikan, jangan diceritakan lagi cukup jangan diingat lagi lupakan semuanya" katanya tanpa melepas tautannya.
"Erchan" katanya lirih juga serak.
"tidak apa sayang bagiku semua itu tidak masalah yang penting aku masih suci dan akan kuberikan semuanya hanya padamu" Erick berkata sedikit bercanda.
"kenapa kamu malah bercanda Erchan" kata Karin sambil memukul dada Erick.
Erick hanya tersenyum tanpa menunjukkan giginya dia memeluk Karin dengan lembut.
"beneran sayang" bisiknya ditelinga Karin.
"lagipula kalo aku beneran melakukannya mungkin statusku sekarang sudah berkeluarga, karena Romo tak akan tinggal diam" batin Erick.
"terima kasih" balas Karin sambil tersenyum.
"kalo begitu apa kau sudah siap jika sewaktu-waktu Romo dan bunda menemuimu"
"untuk apa?!"
"mengambilmu" Erick berkata sambil mencubit hidung Karin. "kau itu menantu kesayangan bunda tahu" lanjutnya.
"aku pikir mungkin aku akan mengecewakannya"
"sudahlah ayo kita jalan-jalan hari ini"
__ADS_1
"ya" jawabnya singkat.
Mereka keluar setelah merapikan semuanya, Erick berjalan sambil merangkul pundak Karin sementara dia berjalan biasa saja, banyak para tamu hotel yang melihat mereka berjalan keluar bersama juga memperhatikan sikap mereka.
Disisi lain Felix yang menyusul keJakarta membawa Fani sekalian.
Felix yang selesai masak dan makan sendiri dengan lahapnya tanpa mempedulikan perut sanderanya, langsung keluar begitu semuanya selesai dan rapi kembali tapi begitu sampai diujung pintu dia dikejutkan dengan Fani yang sudah berdiri menghadang sekaligus menempel dimulut pintu.
"aku tahu kau akan keJakarta kan aku ikut" pekik Fani dengan tetap merentangkan tangannya.
"kau dapat info darimana sih, minggir aku tidak mau mengajak cewek belut sepertimu" teriak Felix.
"hei kau yang menyandraku disini seenaknya saja kau mau meninggalkan aku begitu saja, aku ikut pokoknya ikut titik" teriak Fani.
"makanya jadi anak itu jangan bandel jadi dikurung kan"
Fani langsung memandang tak suka kearah Felix. "kau cowok brengsek dan bajingan yang pernah kutemui" gerutunya tapi bisa didengar oleh Felix.
"tadi kau bilang apa barusan"
"pikir sendiri" katanya dengan cemberut.
Kali ini giliran Felix yang memandang tak suka kearah Fani, dia lalu berjalan mendekat dan mendorong Fani supaya menjauh.
"minggir menghalangi jalan saja" katanya sambil membuka pintu.
"aku ikut keJakarta bukannya kau akan membawaku kesana"
"kenapa jadi merepotkan begini sih" gumamnya dalam hati.
"dengan syarat tidak boleh bertingkah dan menuruti semua yang aku mau"
"iya"
"kalo sampai kau tidak mau melakukannya awas saja nanti" ancam Felix. Fani hanya menggeleng kepala saja.
"lepasin nih tanganku" kata Felix mengarahkan pandangannya ke lengannya sendiri yang masih dipegang Fani dengan erat.
"ok kulepas"
Felix memutuskan membawanya ikut serta keJakarta juga. Fani yang masih menggunakan pakaian pelayan lupa tuk berganti pakaian dan hanya membawa tak kecil saja.
Dalam perjalanan mereka juga tidak bicara Fani duduk bersandar sambil melihat keluar. Felix sendiri fokus menyetir.
"dia tadi sudah makan apa belum ya, aku lupa tadi langsung kuhabisin semuanya" batin Felix melirik kearah Fani disebelahnya.
Fani tak berkutik membuat Felix penasaran dengannya dan mencoba memanggilnya.
__ADS_1
"Fan..." panggilnya tapi Fani hanya diam.
"Fan.... Fani.... Fani" Karena tidak direspon dia menepikan mobilnya dan melihat keadaan Fani.
Felix mendekat melihat wajah Fani karena menghadap kepintu dan tertidur lelap membuat Felix cemberut karena harus lebih dekat lagi.
"dipanggil dari tadi ternyata tidur" batinnya cemberut.
Kruyuuuuk....
Bunyi suara perut Fani terdengar sampai ke telinga Felix membuatnya mendesah kesal.
"kenapa dia gak bilang kalo belum makan" gerutunya sambil melirik keperut Fani.
"cih kenapa jadi merasa bersalah sendiri begini sih, yang kulakukan cuma mengurungnya tanpa memberi makan dan minum, tanpa bertanya sudah makan dan minum apa belum itu kalo dikulkas ada persediaan kalo gak bisa dismas nih" gerutunya lagi lalu melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.
Fani merasa tempat tidurnya begitu tenang tak bergerak sama sekali juga tak terdengar suara mesin mobil yang menyala, yang dia dengar hanya suara mobil dan motor yang lalu lalang melewatinya saja.
Berlahan dia membuka matanya dia nampak terkejut mobil yang ditumpanginya sudah berhenti ditepi jalan disebelah warteg. Fani celingukan mencari Felix karena dia sudah tidak ada ditempat duduknya begitu bangun.
"Lix kau dimana?" panggilnya sambil melihat kebelakang.
"Felix.." teriak Fani menggema didalam mobil.
Karena tak kunjung ada jawaban dia mulai ketakutan dan keluar mobil melihat diluar.
"supir kampret kamu Dimana?" teriaknya sekali lagi lalu dia berjongkok mau menangis. Karena dia takut ditinggal sendirian ditempat tak dikenal.
Seseorang menepuk pundak Fani membuatnya menoleh seketika dengan mata yang berkaca-kaca siap menjatuhkan mutiaranya melewati pipi.
"sorry aku beli makanan sebentar" kata orang itu sambil menunjukkan giginya yang rapi tanpa bersalah siapa lagi kalo bukan siFelix.
Fani langsung berdiri lalu memukuli dada Felix dengan sekuat tenaga membuatnya meringis kesakitan.
"jahat kau, sengaja ya meninggalkan aku sendirian disini jahat kau dasar bajingan" teriak Fani sambil terus memukuli dada Felix.
"aduh Fan sakit, siapa yang meninggalkan dirimu aku keluar cuma membeli makanan diwarteg tuh sebelah mobil ini" Felix berkata sambil menunjuk wartegnya.
"beneran gak bohong"
"nih aku bawa makanannya nanti dimakan didalam mobil saja kalo kamu gak percaya, sudah ayo masuk dilihat banyak orang tuh"
Mendengar itu Fani melihat sekelilingnya benar saja semua orang pada memperhatikan mereka berdua sambil senyum-senyum sendiri membuat Fani bermuka merah kaya tomat dan langsung masuk mobil begitu saja.
"cepat masuk dan jalankan mobilnya" perintahnya sama Felix.
"HAH!!"
__ADS_1
******