THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
TELFON DARI BUNDA


__ADS_3

"litle tidur!!!" cepat dan singkat itulah ucapan yang keluar dari mulut Kiran setelah mendengar Erick yerocos.


"oh maaf nanti akan aku telf lagi" ucapnya dibalik telf.


Kiran tak membalasnya dia langsung mematikan telf dan menaruhnya diatas meja lalu berjalan keluar dalam diam.


Diapartemen Erick bengong plus melamun karena telfnya dimatikan begitu saja, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"apa tadi itu abangnya ya? Tapi ko aneh apa orangnya memang aneh ya!? sudahlah jangan difikirkan mending mandi saja" gumamnya dalam hati lalu berjalan kekamar mandi.


Terpaan air yang keluar dari shower membuat badan yang lelah menjadi segar kembali, Erick memejamkan matanya menikamti derasnya air dari atas sekelebat bayangan Karin muncul dibalik derasnya air membuat fikirannya tidak tenang. Segera dia menyelesaikan mandinya berganti baju lalu meluncur keluar dia begitu ingin menemuinya atau sekedar ngomel-ngomel, walau dia tak bisa berbuat apa-apa paling nggak dia ingin memastikan keadaannya.


Drrrttt drrrrt ddrrrrtttt


Baru saja memegang handel pintu suara dering hp langsung menghentikannya, dia gerakan tangannya mengambil hp yang berada disaku celana, dia sunggingkan senyum disudut bibir dan mata yang berbinar-binar namun seketika semua itu langsung lenyap begitu saja saat melihat tulisan BUNDA tertancap diLCD hp.


Antara ya dan tidak ingin mengangkatnya. Tak ingin mengangkat tapi dirinya begitu rindu sekali dengan bunda dirumah, kalo diangkat pastilah dia akan disuruh pulang dan sampai itu terjadi pastilah hal itu juga akan terjadi.


Pada akhirnya dia putuskan mengangkat telf dari bundanya itu, walau Erick tidak suka dengan bunda yang egois tapi bundanya sudah mengandungnya, melahirkan dirinya dengan yawa taruhannya, membesarkan tanpa imbalan sedikitpun.


Erick menarik nafas dalam-dalam dia gerakan ibu jarinya menyentuh panggilan berwarna merah lalu digesernya kekanan sampai berwarna hijau panggilapun terhubung.


"hallo nak, kamu dimana? Kamu harus pulang acaranya kan besok!!" ucap seorang wanita dari balik seberang dengan nada yang kalem khas Jogja.


"ngapunten Bu kulo mbonten saget wangsul" kata Erick membalas ucapan bundanya dengan tegas.


"lho lho tapi acaranya tak bisa dibatalkan nak pokoknya kamu harus pulang kita tunggu kamu pulang awas kalo kamu gak pulang Bunda akan membencimu" ucapnya dengan nada mengancam.

__ADS_1


"iya Bu aku akan pulang tapi aku tidak mau menerimanya, aku hanya pulang karena kangen sama Bunda, romo dan yang lainnya sudah ya Bu aku masih ada urusan" Erick mematikan telfnya sepihak tanpa mendengar balasan dari bundanya.


Kini kepalanya begitu pening sebenarnya dia kabur dari rumah karena bertengkar sama kedua orang tuanya, dia menuju Jakarta cuma membawa sedikit pakaian, sedikit uang dan izasah tentunya hp juga tak ketinggalan.


Setibanya diJakarta Erick bertemu dengan Vivi saat makan direstouran milik ayahnya. Erick melamar kebeberapa perusahaan sambil menunggu dia ngisi waktunya untuk mengamen dijalanan, hingga dia diterima disebuah perusahaan X milik Evan suami Vivi.


Erick tak jadi melangkah keluar dia urungkan menemui Karin walau sebenarnya sangat ingin. Dia kembali kekamarnya melempar badannya diatas kasur melihat langit-langit kamar.


Tanpa sadar dia mengetik sebuah pesan kehp Karin berharap dia segera membalasnya. Setelah itu dia memejamkan matanya dan tertidur pulas.


Karin membuka matanya lebar-lebar, dia terpaku mendapati dirinya sudah berada dikamar sekaligus dibawah selimut, Berlahan dia bangun celingukan kesana sini seakan mencari sesuatu lalu melangkahkan kakinya keluar.


"siapa yang membawaku kekamar pak?" tanyanya sama pak Aldo yang dia temui.


"oh tuan,,, eh saudara anda den" jawab pak Aldo.


"Kiran ya, dia dimana?" tanyanya lagi.


"suruh bi Ratna menyiapkan makanan dan jangan pergi sebelum kami turun" printahnya sambil berjalan kekamar kakaknya.


"baik tuan" setelah bicara seperti itu pak Aldo segera pergi kebelakang menemui bibi Ratna.


Tanpa mengetuk pintu Karin sendiri langsung masuk kekamar kakaknya. Dia melihat saudaranya itu sibuk didepan laptop bersama Sota disampingnya.


"beb, gak capek apa didepan laptop terus" sapanya sambil mendekat.


"hai sudah bangun ya, kamu ada masalah apa dirumah sakit?" tanyanya langsung keintinya.

__ADS_1


"siapa yang memberitahumu?" Karin balik bertanya.


"oh tadi bocah itu telf dia nyerocos soal omongan mamanya Vivi"


"Erchan sialan mulutnya ember banget jadi orang" batin Karin yang menyatukan kedua alisnya juga menghindari tatapan kakaknya.


"kalo kamu gak mau cerita ya gak papa aku juga gak akan maksa"


"terima kasih, sebenarnya ada yang ingin kubicarakan sama kamu tapi kita makan dulu yuk laper banget nih"


"hhmmm"


Mereka berdua lalu berjalan turun beriringan sementara Sota dibelakang, Karin terus berceloteh layaknya burung kecil yang melatih suaranya sedangkan sang kakak hanya diam mendengarkan saja dengan muka datarnya juga sedikit senyum tanpa memperlihatkan giginya. Sungguh sifat yang berbeda bagaikan langit dan bumi yang satu periang sedangkan yang satu pendiam juga dingin.


Dimeja makan pak Aldo, bi Ratna juga pelayan lainnya berdiri tepat disamping sesuai perintah majikannya, sesekali mereka semua melirik kearah Kiran saudara majikannya sebab semuanya belum melihat wajah saudara majikannya itu sejak tiba kemarin.


"apa ada yang kau inginkan lagi?" tanyanya sama sang kakak.


"gak ada" jawabnya pendek. Lalu Karin menggerakan tangan supaya mereka semua bisa pergi kecuali pak Aldo.


"seleramu sudah berubah ya" ucapnya sambil menyuapi adiknya.


"siapa bilang aku cuma mencoba beberapa masakan khas sini saja, untung bibi bisa membuatnya jadi gak perlu beli"


"ooo"


"kamu masih mau disini kan"

__ADS_1


"aku sudah harus balik, ada masalah disana kalo tidak segera ditangani bisa bahaya"


****


__ADS_2