THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
KETAKUTAN ERICK


__ADS_3

"aku tidak tahu, aku tidak tahu, jantungnya berhenti berdetak nadi dileher juga tangannya juga gak terasa" teriak Erick yang kebingungan juga ketakutan hingga membuat air matanya mengalir begitu deras.


"cepat panggil Nana suruh bawa peralatan medisnya, hpku dimeja cepetan Sya!!" teriak Johan yang ikut kawatir, lalu menggantikan Erick melakukan cardiopulmonary resuscitation (CPR) sebisa mungkin sambil menunggu bantuan datang.


"tadi sebelum kutinggal mandi dia masih bernafas dengan normal" ucapnya sambil menangis sesengukan dengan badan yang gemeteran.


Nana yang mendengar penuturan Ersya lewat telf langsung mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, begitu tiba dia terkejut dengan para pengawal didepan pintu apartemen Erick.


"cepat buka pintunya aku tidak punya waktu" kata Nana dengan tegas.


"anda siapa?" tanya bodyguard itu.


Nana tidak menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut bodyguard itu, tangannya langsung meraih hp dan menelf Johan.


"buka pintunya sudah tidak ada waktu lagi" teriak Billar sama bodyguard dipintu, membuat Nana langsung melihat Billar tak jadi menelf.


Dengan segera salah satu dari mereka membuka pintu untuk Nana dan Billar.


Nana langsung berlari menuju kamar Erick, disana mereka berdua tampak bingung membuat detak jantung Karin kembali normal.


Dengan segera Nana memasang ambubag, juga memasang alat pendeteksi jantung lainnya, dan menyuruh Johan tetap menekan dadanya.


Ambu bag merupakan alat kesehatan yang memiliki fungsi untuk membantu memperlancar pernafasan. Alat ini terdiri fari bag yang berfungsi memompa oksigen, serta valve atau pipa berkatup dan masker. Alat ini merupakan bagian dari resusitasi yang sering digunakan pada pertolongan pertama, dan beberapa kondisi lain.


"kalian berdua keluarlah dulu dan biarkan kami berkerja ya" ucap Nana pada Ersya juga Erick yang masih ketakutan juga kawatir.


"tapi Na.." belum selesai Erick bicara Ersya langsung menarik lengan Erick keluar kamar mengajaknya duduk disofa.


"berdoa saja mas biar gak kenapa-napa" ucap Ersya yang melihat Erick masih gemeteran.


"iya!" jawabnya pendek.


"semoga dia gak kenapa-napa?" batin Erick.


setelah memastikan pintu tertutup Nana langsung merobek kaos yang dipakai Karin juga kemben silikon berbentuk roti sobek yang dipakainya.

__ADS_1


"aku harus membukanya supaya darahnya juga lancar" ucapnya sambil berusaha mengembalikan detak jantung Karin sebelum dibawa kerumah sakit.


"hei kenapa kau tidak melakukan trakeostomi saja" tanya Johan.


"kenapa tidak kau lakukan dari tadi" jawab Nana.


"gak ada alatnya lagipula yang penting jantungnya"


"gobloknyaaa kalo sudah tahu kenapa mesti bertanya"


"brengsek dasar wanita!!" batin Johan mengumpat dalam hati.


Setelah bergelut cukup lama akhirnya denyut nadi mulai terasa, juga jantung mulai berdetak dengan pelan. Nana segera menyuruh Erick membopong Karin masuk mobil dan membawanya segera kerumah sakit supaya mendapat penangan lebih lanjut.


Johan jadi sopir dimobil sport itu, Nana menghadap kebelakang memastikan kondisi Karin, sedangkan Erick menjadi sandaran untuk kepala Karin dengan tetap sesengukan.


"jangan kawatir tuan Erick tuan sudah melalui masa kritisnya tinggal mendapat rawat lanjutan saja" kata Nana yang memperhatikan Erick sejak daritadi.


"iya, terima kasih" ucapnya.


"apa hal ini juga sudah biasa? Apa dia sering mengalaminya?"


"tidak pernah baru kali ini ya Jo"


"iya ini pertama kalinya" sahut Johan.


"bener juga ya, ini pertama kalinya nona mengalami hal seperti ini biasanya gejala seperti ini..., nanti dulu saja" batin Nana serasa memikirkan sesuatu.


"apa pemicunya?" tanya Erick.


"saya tidak bisa menjelaskan secara rinci, nanti saja setelah melakukan beberapa tes dirumah sakit"


Erick hanya diam dengan muka sedihnya menatap Karin dipangkuannya. Entah kenapa kali ini dia sangat takut kehilangan Karin.


"dia begitu kawatir sekali sama nona waktu itu juga sama dia menunggu sampai nona bener-bener sadar baru mau pulang" gerutu Nana dalam hatinya.

__ADS_1


Mobil yang membawa Karin parkir tepat didepan ruang IGD segera Erick membopongnya kedalam. Satu mobil sedan yang membawa Ersya menyusul dari belakang dan segera bergabung diruang tunggu.


beberapa menit berlalu seorang dokter pria tampan dengan tulisan Rico diname tagnya yang dulu pernah memeriksa Karin keluar.


"lho anda dokter Rico yang memeriksa" tanya Erick terkejut.


"halo tuan Erick lama tak bertemu ya" sapanya sambil tersenyum secerah lampu pilips.


"apa gak ada dokter lain apa yang memeriksa" ucap Erikc ketus.


"jangan terlalu posesif tuan Erick lagipula dokter yang lain kan belum datang, kalo pasien tidak segera ditangani bisa beresiko tinggi" tutur dokter Rico, Johan dan Nana memandang heran kearah Erick.


"kau cemburu sama pak dokter!" kata Ersya yang langsung menyahut.


"nggak! Cuma kawatir saja kalo diapa-apain, dokter kan kebanyakan modus banget"


"itu namanya cemburu!!" batin ketiganya kompak kecuali dokter Rico yang hanya tersenyum saja.


"yang namanya diperiksa yang mesti diapa-apain gimana sih dasar aneh" kata Ersya yang melotot kearah Erick.


"cerewet!!"


"bagaimana keadaannya dokter?" tanya Nana sama dokter Rico.


"oh iya berkat pertolongan pertama pasien bisa diselamatkan kita tinggal menunggu hasil tesnya saja, apa dia sering mengalami hal seperti ini ya, kalo sering bisa bahaya" kata dokter Rico dengan santai.


"sebelumnya gak pernah dok, apa ada pemicunya?"


"apa dia punya riwayat penyakit jantung nona"


"tidak juga, dalam keluarga gak ada yang punya riwayat penyakit jantung"


"stres berlebihan juga pikiran yang berat bisa juga jadi pemicu, setelah ini jaga kondisi pasien sebisa mungkin buat dia lebih tenang, saya permisi dulu setelah hasilnya keluar nanti akan saya panggil nona" ucap dokter sambil tersenyum


"silakan dokter terima kasih sebelumnya" balas Nana.

__ADS_1


*****


__ADS_2