
Fani berlahan membuka matanya dia sedikit aneh sama apa yang dia pegang, dia gerakan tangannya merabanya berlahan dia melihat benda apa yang disentuhnya.
Dia mendelik begitu tahu apa yang terjadi. Fani tidur didada Felix didekap olehnya, masih teringat begitu jelas diotaknya kejadian itu membuat dia takut untuk keluar apartemen lagi.
"kenapa dia mau menolongku?" batin Fani sambil memindahkan tangan Felix supaya dia bisa beranjak dari tempat tidur pergi kekamar mandi.
Dikamar mandi dia teringat kembali akan perlakuan Felix yang kasar, merendamnya dibathup juga mengguyurnya dengan air waktu ketiduran didekat pintu.
"sudah bangun" kata Felix datar diatas tempat tidur membuat Fani terkejut.
"terima kasih" ucapnya pendek dan menunduk.
"jika kau melakukannya lagi saat itu juga aku akan menyuruh orang-orang itu berbuat lebih jauh" Felix berkata melirik kearah Fani memberi ancaman tegas terhadapnya, Fani tidak mampu melihat sorot mata itu dia lebih memilih melihat kearah lain dalam keadaan pucat pasi juga takut.
"iya, maafkan aku" ucapnya lirih memegang erat ujung piyamanya.
"diatas meja ada bubur juga obatnya segera makan dan istirahatlah" kata Felix bangkit dari tempat tidur pindah kekamar satunya.
"semua ini gara-gara wanita sialan itu awas saja akan kubalas apa yang telah aku alami selama aku diJakarta" batin Fani geram.
Dia berjalan menuju meja makan memakan buburnya dengan lahap, setelah itu obat dari dokter, dia melihat kamar Felix berjalan mendekat hendak menyampaikan sesuatu.
Tok tok
Fani mengetuk kamar Felix dengan cemas juga takut, Karena tak kunjung dibuka dia mengetuknya kembali. Sesaat kemudian Felix membuka pintu membuat wajah Fani memerah dan memalingkan mukanya karena dia cuma menggunakan handuk sepinggang memperlihatkan roti sobeknya apalagi dalam keadaan basah habis mandi.
"ada apa?" tanyanya tanpa expresi.
"itu... apa aku boleh keluar?" jawab Fani tanpa melihat Felix didepannya.
"kalo bicara itu lihat orangnya" Fani melihat Felix begitu saja setelah mendengarnya.
"mau ngapain lagi kamu keluar apa belum cukup dengan kejadian waktu itu?"
"aku aku ingin membeli keperluan wanita saja" kata Fani bermuka merah bagaikan tomat.
Felix mengangkat sebelah alisnya setelah cukup lama diam sepertinya dia mengerti apa yang dimaksud, dia berjalan masuk kamarnya mengambil hp yang berada diatas nakas menelfon dua anak buahnya yang berada diluar, kali ini Fani dijaga ketat sama Felix agar peristiwa kaburnya tidak terulang lagi.
__ADS_1
"ngapain lagi kamu masih berdiri didepan pintu mau melihatku ganti baju"
Perkataan Felix membuatnya terkejut spontan kembali seperti Fani yang biasanya.
"Lichen kenapa kamu gak bilang kalo sudah selesai telf dasar bajingan cabul" teriaknya sambil menghentakkan kakinya berjalan pergi menuju kamarnya.
Felix tersenyum melihatnya entah kenapa ada kesenangan tersendiri saat menggoda Fani, dan agar suasana tidak terlalu canggung.
Fani keluar dikawal oleh dua pengawal anak buah Felix, dia berniat jalan-jalan selain membeli keperluan wanita.
Disaat dia keluar dari mobil disebuah minimarket dia melihat Karin juga Erick berjalan bersama sambil bercengkrama, Fani naik pitam dia marah kesal terhadap Karin atas apa yang dia alami.
Dia berlari kearah keduanya lalu berhenti tepat didepannya segera dia mendaratkan tamparan dipipi Karin didepan Erick.
"apa yang kamu lakukan" teriak Erick mencengkram tangan Fani.
""ini semua gara-gara dia, semua karena dia" teriak Fani.
"kau kenapa Fan? Kenapa menyalahkan Chibi seperti itu?" Erick menggenggam erat tangan Fani menjauhkannya dari Karin.
"apa mas Erick tidak mengerti Felix berada ditengah-tengah kita karena dia, Felix mengawasi ku karena dia, dia membawaku keJakarta menyiksaku beberapa hari lalu juga karena dia, dan alasannya cuma satu demi hubungan kalian berjalan lancar dia melakukan itu, ini pasti sudah direncanakan" Fani menangis didepan keduanya. Karin memalingkan muka tidak berkata apapun.
Fani menangis didada Erick dia melampiaskan semuanya disana kajadian itu dilaporkan langsung oleh anak buah Felix sama tuannya.
"Fan tenangkan dirimu ayo ikut aku keapartemen dulu"
Erick melirik kearah Karin meminta izin darinya. Karin mengangguk mengerti membiarkan Erick pergi bersama Fani.
Erick yang mendapat izin dari Karin memesan taksi online membawanya keapartemennya sendiri. Karin sadar Fani dikawal oleh dua orang anak buah Felix selepas keduanya pergi dia merubah mukanya dingin dan menakutkan.
Sadar akan tatapan dingin sang pemimpin keduanya keluar begitu saja menghadap sang bos menundukkan kepala.
"ceritakan yang terjadi terhadap mereka berdua" katanya dengan pandangan dingin.
Keduanya lalu menceritakan apa yang mereka ketahui dari mulai Felix membopong Fani dari apartemen Erick sampai Fani kabur dari apartemen dan bertemu preman jahat dan hampir dilecehkan.
"kalian berbalik mengawasi tuan kalian mulai sekarang, bilang padanya aku memulangkan Fani keJogja" titah Karin sama dua pengawal itu.
__ADS_1
"siap tuan" setelah menunduk hormat mereka segera berlalu pergi.
"hatimu berlahan mulai terbuka tapi sayangnya gengsimu sangat tinggi, aku ingin lihat seberapa kuat kau melawan kenyataannya" batin Karin. "tapi sebelum itu aku harus berbicara sama Fani semoga dia mau mendengarku" lanjutnya dalam hati lalu berjalan menuju hotelnya miliknya.
Sebungkus es batu menempel dipipi Karin yang masih merah bekas tamparan dari Fani, dia membuka matanya karena terusik akan dinginnya dari es batu itu melihat siapa yang melakukannya.
"kamu" katanya pendek mengetahui siapa yang melakukannya.
"apa masih sakit" kata Ran Ran datar.
"rasa sakit seperti ini bagaikan digigit semut, terima kasih" kata Karin mengubah posisi menjadi duduk.
"awalnya aku menyuruh Felix untuk melindungi Erick supaya mereka tidak memanfaatkannya sebisa mungkin, katakan kalo ini salah"
"kamu tidak salah, yang kamu lakukan hanya mencegah agar apa yang diinginkan tidak terjadi, jika tuhan berkehendak lain maka yang kita lakukan menjalankan apa yang Tuhan rencanakan"
"katakan apa yang harus aku lakukan saat ini, jujur saja aku merasa bersalah sama Fani"
"beri penjelasan sama Fani jangan pertemukan mereka sementara, kita lihat dulu bagaimana sikap Felix jika dia tidak berubah biarkan Fani mencari kehidupannya sendiri"
"kalo tidak berjalan lancar"
"pisahkan mereka berdua itu jauh lebih baik"
"rencanamu boleh juga, terima kasih saranmu"
"yang jadi masalah sekarang adalah Fani dia orang yang licik dia bisa saja memutar balikkan fakta, sekaligus memanfaatkan keadaan"
"jika itu terjadi ikuti rencananya sampai dia merasa senang"
"benar juga"
"dan ingat kau juga harus bisa memanfaatkan situasi, dan harus bisa memanfaatkan lawan berbuat licik untuk sesuatu tidak akan membuat kita rugi, bukahkah kamu tidak menganggap mereka semua anak buah"
Karin terkejut sama apa yang diucapkan Ran Ran, dia hampir lupa hubungan dirinya dan semuanya berjalan bukan karena atasan dan bawahan sejak awal, dia hampir melupakan apa yang berarti bagi semuanya kini dia sadar harus melakukan sesuatu untuk Felix dan Fani!.
"terima kasih" Karin tersenyum tanpa memperlihatkan giginya.
__ADS_1
*****
Terima kasih sudah like, komen, dan lainnya dukungan kalian sangat berarti bagi author🤗🥰😘