
"brengsek ingin sekali kuhancurkan wajahnya biar menjadi buruk rupa sekalian" kesalnya dalam hati sambil mengepal erat.
Melihat Felix semakin meledek Fani mengambil sepatu yang dipakainya lalu dilemparkan sepatu itu tepat kekepala Felix.
"aow sakit yu" katanya sambil mengusap kepalanya beberapa kali.
"syukur huh" balasnya dan berlalu pergi ke kamar.
"hei aku menyuruhmu untuk memasak"
"masak sendiri kamu kan punya tangan juga"
"cih dasar belut selain bermulut pedas licinnya minta ampun" walau menggerutu Felix tetap berjalan menuju dapur untuk memasak setelah itu dia akan keJakarta menyusul Erick.
diJakarta pengawal Johan juga pengawal Fay masih terus dalam aksis kejar-kejaran. Pada dasarnya mereka berdua hanya salah paham saja, Fay yang mengantarkan cucunya menuju kediamannya sendiri telah dikira Johan sudah menyulik Karin dan berusaha mengejar mobil Fay sampai dapat. Fay sendiri yang mengira Karin cucunya diincar seseorang terus menghindar sampai aman. Karin sendiri yang masih ngelepos dipangkuan Louris tidak tahu apa yang terjadi.
Dia tidur dengan tenang dengan mimpi indahnya sendiri. Sementara kakek neneknya begitu kawatir dengan keadaan.
"apa mereka masih mengejar?" tanya Louris sama suaminya.
"kita kalah jumlah mereka jauh lebih banyak" jawab Fay.
"kita sembunyi dulu setelah aman baru jalan lagi"
"kamu benar kita sembunyi dulu"
Fay memerintahkan sang supir tuk sembunyi sementara sampai pihak lawan tidak mengejar lagi setelah itu baru dilanjutkan.
Johan yang aktif melihat pergerakan mereka dari layar hp hanya tersenyum kecil.
"kita kasih kelonggaran dulu nanti dilanjut" gumamnya lirih lalu berkutat kembali dengan laptop didepannya.
Berlahan Karin membuka matanya dia melihat sekelilingnya serasa ada yang berbeda.
"sayang kamu sudah bangun" mendengar suara yang begitu familiar dia langsung membuka matanya dengan lebar dan mengarahkan pandangannya kesumber suara itu.
"kau.." ucapnya terkejut saat melihat Louris diatasnya, lalu pandangannya beralih keFay didepannya.
"kenapa aku bisa didalam mobil bersama kalian ukh" Karena kepalanya masih pusing dia duduk sambil memegangi kepalanya.
"hati-hati sayang" kata Louris.
"kamu mabuk dan kami hendak mengantarmu pulang" jelas Fay.
"oh gitu aku turun disini saja terima kasih sudah menolongku" kata Karin sambil membuka pintu.
"tunggu sayang kita ngobrol sebentar ya ada yang ingin kami bicarakan sama kamu" cegah Louris memegangi lengan Karin.
"kita tidak punya masalah dan tidak bermasalah kan, mau ngobrol soal apaan"
"kita ngobrol ditempat yang aman saja" kata Fay.
"ditempat yang aman!!?"
"begini seseorang sedang mengincarmu dan mengikuti mobil kita makanya kita sembunyi sementara" tutur Fay.
__ADS_1
"baru kali ini aku sembunyi seperti ini, sudahlah aku mau keluar sekalian olahraga nglemesin otot biar gak kaku"
"kamu jangan sombong ada kalanya seseorang demi sesuatu yang aman harus sembunyi"
"bener kata suamiku sayang tunggulah disini dulu sampai aman"
"aku tidak mau huuh" Karin langsung keluar begitu saja dan tak mempedulikan omongan keduanya.
Dia berjalan kearah kearah jalan raya. Sesampainya disana dia nampak melongo saat melihat puluhan pengawal dari dua kubu yang berbeda sedang bertanding bebas disana.
Karin memicingkan sebelah matanya melihat jelas dari kubu mana mereka.
"mmm itu kaya dari pengawal Johan ya, yang satu dari mana? Aku belum pernah melihatnya" ucapnya sambil terus memperhatikan mereka yang berkelahi.
Karin memikirkan kembali ucapan Fay kalo dirinya sedang diincar.
"jangan-jangan satunya dari pak tua itu" ucapnya.
"mereka pengawalku karena kalah jumlah jadi kita sembunyi sementara" sahut Fay dari belakang. Karin menoleh kesumber suara dan memandang tak suka kearah kakeknya.
"begitu, dengan kata lain saat kau membawaku Johan mengira aku diculik seseorang dan berusaha mengejar, pada dasarnya ini hanya kesalah pahaman semata" jelas Karin.
"hebat kau bisa menguraikannya dengan mudah" celetuk Louris sambil bertepuk tangan.
"semua orang juga bisa melakukanya" Karin berkata sambil meraih hp yang berada disaku celananya dan segera menelepon Johan.
"Jo tarik anak buahmu mereka bukan musuh" katanya setelah panggilannya terhubung keJohan.
"ok, baiklah kalo kamu bicara begitu" jawab Johan dari seberang telepon.
"nah sekarang aman aku mau pulang mandi" kata Karin.
"my angel tunggu dulu" teriak Louris menghentikan langkah Karin.
"bisakah panggilan itu diganti saja rasanya kaya gimana gitu didengar ya"
"baiklah my baby ada yang kami bicarakan sebentar denganmu kalo ditunda takutnya lupa"
"my angel dan my baby rasanya gak beda tipis" gerutu Karin dalam hati.
"baiklah mari kita pergi ke cafe kita ngobrolnya sambil minum"
Mereka bertiga menuju sebuah cafe terdekat dan duduk santai memesan kopi latte dan teh hangat kesukaan masing-masing, sepuluh menit berlalu tapi ketiganya masih nampak diam tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut salah satunya walau cuma sekedar basa-basi.
"kenapa jadi canggung begini? Suasana macam apa ini?" batin Karin.
"bukannya tadi ada yang mau diomongin ya" kata Karin memulai.
Fay dan istrinya saling melempar pandangan tidak tahu harus memulai dari mana. Fay menggerakkan tangannya kearah sang supir supaya mendekat kearahnya.
"ambilkan berkas dimobil" titahnya sama sang supir.
"baik tuan" balasnya sopan dan menunduk lalu berjalan menjauh menuju parkiran mobil.
"apa kamu mau pesen yang lain atau mau nambah kopinya" kata Louris.
__ADS_1
"tidak terima kasih" kata Karin malas sambil terus mengaduk kopi didepannya.
Sekelebat bayangan Erick muncul disana membuat dia tidak bernafsu sama sekali.
"bagaimana keadaannya ya? Apa dia berhasil mencari sesuatu yang Romo berikan? Aku kangen sekali padanya ingin sekali saja bertemu dengannya" gumamnya dalam hati sambil melihat kearah luar cendela melenyepkan suara yang terus memanggilnya daritadi.
"baby hei..." Louris menggoyang tangan Karin membuatnya tersentak dari lamunan.
"ya sayang kangen" ucapnya tanpa sadar membuat Louris tertawa kecil.
"saking kangennya sampai kelepasan begitu" ejek Fay.
"bukan urusanmu" kata Karin sinis.
"kamu ada masalah sama pacarmu" sahut Louris.
"bukan urusan kalian ini masalah pribadiku" balasnya dengan ketus membuat Fay mendesah kesal.
"apa kita masih lama"
"sebentar lagi juga datang" kata Fay.
"nunggu apaan sih lama banget begini"
"nunggu berkas" kata Fay.
"ooo"
sang supir datang sambil membawa sebuah map ditangan dan segera dia menyerahkan map itu sama sang tuan dan berlalu pergi.
Setelah menerima map itu Fay segera menyerahkannya sama Karin membuatnya bengong dengan apa yang diberikan sama orang tua didepannya.
"bacalah itu semua tentang kamu dan darimana kamu berasal" kata Fay.
"a apa maksudnya" kata Karin kaget juga tak percaya.
"maksudnya adalah kamu memiliki darah biru Andromeda" balas Fay.
Karin mulai membuka map itu, "kalo bercanda jangan kelewatan" katanya dengan tangan yang terus bergerak.
Dia meneliti setiap kata yang tertoreh diatas kertas putih itu dimana disana tertulis bahwa "ARANDITA" adalah cucu sah dari keluarga Andromeda dan pewaris tunggal seluruh kekayaan Andromeda.
Karin tak berkedip sama sekali seolah tak percaya juga tak terima dengan kenyataan, dia langsung menutup map itu dan menaruhnya kembali dimeja.
"pembicaraan selesai aku permisi" katanya tanpa melihat kakek neneknya dan berlalu begitu saja.
"tunggu dengarkan kami dulu, baby" teriak Louris.
"biarkan dulu mungkin ini terlalu mendadak baginya" kata Fay.
"iya" kata Louris singkat dan sedih.
*****
Jangan lupa like dan komen🥰😘
__ADS_1