THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
MASIH BELUM RELA


__ADS_3

Seharian penuh Erick mencari manisan lupis kesana kemari tak kunjung ketemu hingga membuatnya mendesah kesal sekaligus jengkel mengusap wajahnya dengan kasar. Itu semua karena Johan menyuruh anak buahnya untuk melarang semua orang yang ditemui Erick supaya tidak bisa membuatkan manisannya atau menyuruh mereka memborong semuanya jika ada yang menjualnya dan dibagikan secara gratis.


Erick bener-bener dibudak oleh cinta. Demi cinta dia mau memberikan atau melakukan apa yang Karin mau. Seharian penuh akhirnya dia mendapatkannya betepatan dengan Karin menyelesaikan tugasnya, Johan menyuruh anak buahnya untuk tidak mempersulitnya lagi.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkan dia langsung kembali kerumah sakit secepat mungkin tempat bunda dirawat dan Karin berada.


"fuh akhirnya aku mendapatnya juga, tapi kenapa semua orang yang aku temui pada gak bisa bikin ya? padahal aku yakin mereka semua bisa" gerutu Erick sambil berjalan menuju mobilnya.


Dia mengemudi mobilnya ngebut menuju rumah sakit, tak lupa anak buah Felix diam-diam mengikutinya dari belakang memastikan keselamatan dirinya.


Erick bener-bener dijaga ketat sama Felix, karena, jika sampai terjadi sesuatu sama dirinya Karin akan kembali seperti dulu lagi. Bahkan mobil yang dikendarai Erickpun sudah diganti dengan mobil anti peluru tanpa sepengetahuan dirinya.


Setengah jam berlalu mobil yang ditumpangi Erick sudah sampai, Erick langsung berlari menuju ruang rawat bunda dengan menenteng apa yang dipesan kekasihnya. Johan yang tahu langsung membuka pintu untuknya.


Terlihat Karin sedang asyik bermain hp disamping bunda.


Erick berjalan mendekat dengan pelan kearah Karin. "Bi, nih pesenanmu" ucapnya sambil menyodorkan tas plastik.


Karin menghentikan aktifitasnya dan meraih tas plastik yang dibawa Erick dan dilihatnya.


"terima kasih, aku sangat merepotkanmu" ucapnya sambil tersenyum kearah Erick membuatnya tersipu malu.


"i, iya gak apa" jawabnya terbata.


"kita makan bareng yuk disini ada piring bersih kan sekalian pisaunya" kata Karin.


"bentar aku cari dulu" Erick lalu berjalan mencari piring, sendok dan pisau juga tempat lainnya.


Setelah menemukan apa yang dicari mereka berdua memakan dengan lahap, Karin yang belum pernah makan lupis memakannya begitu lahap.


"pelan-pelan Bi" kata Erick sambil mengelap bibir Karin yang belepotan akibat gula merahnya dengan ibu jari lalu menjilatnya sendiri.


"kamu jorok sekali Erchan" kata Karin dengan mulut yang penuh makanan.


"manis kok" jawabnya sambil tersenyum.


"gak lucu" kata Karin dengan cemberut.


"tapi aku suka" balas Erick tersenyum tipis.

__ADS_1


"terserah kamu sajalah" kata Karin pasrah.


Erick tersenyum penuh kemenangan lalu dia mengulurkan tangannya menyentuh pipi Karin membuatnya melihat kearahnya.


Lalu dia mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka saling bersentuhan Karin hanya bengong dibuatnya sampai lidah Erick membersihkan gula merah yang belepotan disekitar bibir Karin.


"kau!! dasar gila, apa kau ingin membuatku tidak bisa menahannya hah" pekik Karin membuat Erick langsung tersadar dengan apa yang dilakukan.


"ma, maafkan aku Bi" balas Erick sambil menutup mulutnya lalu beranjak dari tempat duduknya.


"kau mau kemana?" tanya Karin saat melihat kekasihnya berjalan pergi menuju pintu keluar.


"bentar Bi, kamu makan saja dulu" jawabnya tanpa melihat kearah Karin.


"cepatlah kembali Erchan"


"iya" katanya singkat lalu berjalan keluar.


Diluar Johan sudah tidak ada entah kemana dia?, Erick berjalan menjauh mencari tempat duduk diarea lain yang agak jauh dari kamar bundanya. Sesampainya disana dia langsung menonjok tembok hingga tangannya berdarah.


"dasar brengsek apa yang baru saja aku lakukan, kenapa aku jadi tidak bisa menahan diri?" kesalnya mengumpat diri sendiri.


"entah kenapa dia begitu...?" gumamnya pelan sambil membayangkan wajah Karin yang putih bersih nan menawan hingga keleher jenjangnya yang putih tanpa noda membuat Erick menelan Saliva begitu berat.


Disaat Johan yang pergi karena tidak mau mengganggu. Ada seorang wanita cantik dan manis yang menyaksikan adegan tadi dan sengaja memfoto bahkan merekamnya.


Dia lalu mengirim video juga fotonya keseseorang yang sudah siap melakukan tugasnya.


"cari tempat yang aman untuk melakukannya, dan berhati-hatilah karena Karin bukan orang sembarangan ada banyak bawahannya dimana-mana" katanya sama orang diseberang telfn.


"ok, jangan kawatir kamu tinggal tahu beresnya saja" balas orang itu.


"uangnya aku transfer setelah pekerjaanmu selesai ok"


"terserah kamu saja nanti aku kirimkan hasilnya"


"bagus" setelah bicara begitu dia langsung menutup telfnya sepihak dan segera memasukkan hpnya kedalam tas dan berjalan agak jauh dan bersembunyi.


"jangan kira aku akan rela melepaskan mas Erick padamu begitu saja" gerutunya dalam hati sambil melihat Erick yang berjalan keluar kamar menuju tempat lain.

__ADS_1


Melihat Erick berjalan dengan wajah sedih dan menyesal dia mengikutinya dari belakang sampai dimana Erick berhenti.


"apa yang mas Erick lakukan disini? bukannya didalam menunggu bunda" kata wanita itu yang sudah berdiri disamping Erick dengan kepura-puraan.


"Fani!!" kata Erick terkejut melihat kearah wanita cantik nan manis bernama Fani.


"mas belum menjawab pertanyaanku" katanya lalu duduk disamping Erick.


"ah tidak hanya mencari udara segar saja dikamar pengap bau obat" balas Erick beralasan.


"mm begitu ya lalu tangan mas kenapa berdarah?" tanyanya dengan mata yang masih melihat kearah punggung tangan Erick yang berdarah.


"gak kenapa-napa? Kamu sendiri baru datang"


"iya, tunggu sebentar ya mas" Fani berlari pergi menuju kesebuah apotik rumah sakit yang tak jauh dari mereka berdua berada dan segera kembali setelah mendapatkan apa yang diperlukan.


"sini lihat punggung tangannya" kata Fani meraih tangan Erick.


"gak usah Fan" Erick berusaha menolak.


"jangan kawatir dia tak akan cemburu hanya karena beginian" Fani membersihkan punggung tangan Erick dengan pelan Erick hanya diam menurut.


"marah sih marah tapi kan gak perlu sampai melukai diri sendiri mas" katanya lagi sambil membalut tangan Erick dengan kain kasa.


"terima kasih, aku hanya marah sama diriku sendiri Fan"


"jangan menyalahkan diri sendiri mas karena itu tak akan mengubah apapun, mas bisa melakukan hal lain daripada melukai diri sendiri"


Erick hanya diam mengoreksi ucapan yang keluar dari mulut Fani.


"kamu benar Fan ada banyak cara selain melukai diri sendiri" mendengar itu Fani hanya tersenyum senang karena Erick mau mendengar perkataannya.


"sekarang ayo balik kekamar bunda daripada ngedumel disini lebih baik istirahat disana supaya otaknya bisa tenang" Fani berkata sambil meraih lengan Erick supaya berdiri dan berjalan bersamanya.


"ya" balasnya singkat lalu berdiri dan berjalan bareng bersama Fani menuju kamar bunda tempat Karin berada.


*****


Jangan lupa like dan komen biar semangat😘🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2