
Disebuah rumah makan dekat klinik mereka semua makan dengan lahap kecuali Karin. Dia cuma mengaduk makanan didepannya entah mengapa perasaannya begitu tak enak hari ini seolah akan terjadi sesuatu tapi apa itu hanya tuhan yang tahu.
"kak, dari tadi makannya cuma diaduk terus gak enak ya" celetuk Key yang dari tadi memperhatikan Karin.
"lidah kakak lagi pahit jadi gak nafsu makan" jawab Karin beralasan.
"mungkin kakak mau sakit biasanya orang akan sakit kalo sudah seperti itu"
"mungkin juga ya"
"makan saja walau cuma sesendok daripada sakit" sahut Ersya.
Karin tersenyum. "iya aku akan memakannya jangan kawatir" katanya.
"apa dia memikirkan masalah tadi pagi ya" gerutu Ersya dalam hati. "memang dasar tuh wanita sundel ingin sekali kucakar-cakar wajahnya biar tahu rasa" batinnya lagi.
"kamu makan roti saja kalo gak enak makan" kata Johan.
"jangan kawatir aku gak apa-apa, sudah semua lanjut makan saja nanti ikutan gak enak lho"
Semua tetap melanjutkan makan sambil melirik kearah Karin kecuali Key. Hp Karin berbunyi dengan nada yang masih belum diubah membuatnya terkejut.
🎶Moshimo mou ichido anata ni aeru nara
Tatta hitokoto tsutaetai arigatou, arigatou🎶
Segera dia mengambil hp yang berada disaku celana dan melihat siapa yang telfn, tahu kekasihnya telf tanpa ragu Karin langsung mengangkatnya didepan semuanya.
"hallo, ada apa Erchan?" tanyanya.
"mmm Bi kamu tolong pulang sekarang juga ya penting nih" jawabnya.
"eh memang ada apa?"
"gak bisa jelasin Bi pokoknya kamu pulang sekarang juga, dah ya aku tunggu dirumah" Erick langsung menutup panggilan telfnnya tanpa menunggu balasan dari Karin lagi.
Karin memandang hpnya dengan cemberut, tak biasanya Erick seperti ini. Dan fikirannya pun melayang entah ada masalah apa dirumah.
"ada apa?" tanya Nana.
"gak tahu cuma disuruh cepat pulang saja" jawab Karin.
__ADS_1
"mungkin ada masalah" sahut Johan.
"kakak pulang saja biar aku pulang sendiri" sahut Key yang dari tadi makan dengan lahap.
"tidak bisa, harus ada yang antar kamu pulang, oh iya nih nomor hp kakak nanti kalo kamu butuh bantuan hubungi kakak saja" Karin memberikan nomor telf yang ditorehkan disebuah lembar kertas.
"terima kasih kak, kalo boleh aku ingin berkerja sama kakak, apa bisa?" tanyanya.
"usaha kakak diJakarta kakak kesini cuma liburan, hhmm nanti kalo kamu keJakarta hubungi nomor itu saja kakak usahakan memperkerjakan kamu disalah satu usaha milik kakak disana, kebetulan kakak lagi bangun sebuah cabang restouran juga disana" tutur Karin.
Key tersenyum senang mendengarnya. "terima kasih kak nanti pasti akan aku telfn" katanya dengan sumringah
"sama-sama ditunggu ya" balas Karin melontarkan senyum tanpa menunjukan giginya.
Acara makan selesai Key diantar sama Nana pulang. Karin, Johan juga Ersya langsung menuju bangsal rumah Erick. Mobil memasuki pelantaran rumah segera mereka semua leluar dan berjalan masuk, Johan memberikan kunci mobil kepada seorang petugas disana supaya memindahkan mobil kegarasi.
Mereka sudah disambut seorang pelayan keluarga Erick didepan pintu karena perintah sang romo.
"selamat datang tuan mari ikut saya" ucapnya dengan sopan dan menunduk membuat ketiganya penuh tanda tanya.
Seorang pengawal maju membisikan sesuatu ketelinga Johan, mendengar itu Johan hanya mangangguk tanda mengerti.
"lakukan saja yang diperintahkan tuan Aoi" titahnya.
Karin terus berjalan dituntun oleh sang pelayan kesebuah ruangan yang belum pernah dia masuki, bukan hanya dirinya yang belum pernah masuk orang lainpun tidak boleh ada yang masuk karena ruangan itu adalah tempat kerja sang romo ayah Erick.
Diruangan itu romo akan berubah menjadi orang lain, dan sikap yang berubah 190 derajat bagi siapapun yang masuk kesana.
Brak....
Dari jauh Karin sudah mendengar gebrakan dari balik pintu yang berukiran klasik khas jawa. Dia menghentikan langkahnya sesaat melihat kearah Ersya dan Johan. Sang pelayan setia menunggu sampai ketiganya melanjutkan langkah kakinya.
Kini ketiganya sudah berada tepat didekat daun pintu, namun mereka dikejutkan dengan tamparan yang keras dari baliknya.
Plak...
Mereka langsung terperanjat kaget mendengarnya, Ersya mundur kebelakang mendekat keJohan tunangannya.
"ko aku takut ya mas" katanya dengan raut wajah kawatirnya.
Johan memeluk Ersya. "kita lihat dulu Sya, tidak mungkin orang main tampar tanpa alasan kan" katanya. sedangkan Karin hanya diam saja walau sebenarnya dia sendiri juga takut.
__ADS_1
"tuan Karin saja yang masuk yang lain tunggu diluar" setelah berkata seperti itu sang pelayan mengetuk daun pintu. Karin semakin gugup dibuatnya.
Tok tok tok
Sipelayan mulai mengetuk pintu membuat ketiganya meluai menegang.
Dia tidak melakukan kesalahan selama ini, lalu kenapa dia harus masuk keruangan ini? Ruangan apa ini sebenarnya? Dia terus bertanya dalam hati dengan wajah tegangnya sekaligus berkeringat dingin.
"ini ruangan apa?" tanya Ersya sama sipelayan.
"ini ruang kerja sang romo, disini romo akan berlaku tegas menjalankan kewajibannya" tutur sipelayan.
Deg... (batin ketiganya)
Suara datar dari dalam mulai terdengar keluar. "masuk" katanya dari dalam.
Sang pelayan membuka pintu, berlahan pintupun terbuka sedikit demi sedikit memperlihatkan bagian dalam ruangan. Pandangan Karin melebar, mulutnya menganga tak mampu berucap melihat apa yang ada didepan matanya.
Didepannya Erick berlutut didepan romonya dengan pipi yang merah akibat ditampar sang romo. Walau terkejut tapi Karin berusaha untuk bersikap biasa saja, berlahan dia melangkahkan kakinya masuk.
Romo yang sadar hanya melihat sekilas saja setelah itu membuka suaranya.
"panggil beberapa pengawal kesini" titahnya sama sang pelayan.
"baik tuan" jawab pelayan sopan setelah itu menutup pintu.
Karin berdiri mematung saja bibirnya keluh tak mampu berucap, dia tahu saat ini dihadapannya sang romo sedang marah tanpa tahu sebabnya.
"aku tidak tahu ternyata dibalik sikapmu itu kau membuat anakku melenceng dari agamanya" romo menatap dingin kearah Karin sambil bertepuk tangan.
"romo marah padaku, apakah dia membenciku? Tapi kenapa?" batin Karin "tidak, romo tidak marah atau membenciku tapi sorot mata itu, tatapan itu, apa?!!..." batinnya lagi. Sesaat Karin melihat romo lalu menunduk kembali.
Karin mundur selangkah seolah sadar akan sesuatu, dia memegangi dadanya dengan erat. "jadi seperti inikah rasanya, perasaan seorang orang tua terhadap anaknya" batinnya lalu berusaha untuk tegap dan bersikap biasa saja.
"maafkan saya romo" katanya dengan tegas.
*****
Jangan lupa like, dan comen biar tambah semangat💪💪💪💪
FANI ISKANDAR
__ADS_1