
Mereka semua saling menatap satu sama lain dan hanya diam mematung, apalagi keluarga Erick yang melihat Karin yang memakai blazer cowok berkerah koko dengan lengan panjang dobel yang diluar terbelah sampai keatas sementara yang didalam lengan panjang biasa model pakaian yang trend limited edition.
Kiran yang keluar tadi hanya memakai celana jeans pendek biasa dipadu dengan kaos oblong warna abu-abu. Karena wajah mereka yang sama jadi tidak ada yang tahu hanya tinggi badan yang membedakan saja.
Karin hanya bengong mendengar perkataan Erick.
"eh aku baru tiba" ucapnya.
"kamu keluar beli baju ya le, tadi kamu langsung pergi begitu saja menggunakan kaos dan celana jeans pendek" kata sang romo.
Karin melihat dirinya sendiri dari kaki sampai atas seperti memakai baju baru.
"maaf sebelumnya ya saya baru datang dan tak mengerti apa yang anda katakan" selanya.
Mereka semua pun saling memandang lalu memperhatikan Karin sekali lagi.
"Erchan jangan-jangan kau salah bawa orang ya" Karin berkata sedikit ngegas.
"salah orang gimana sih dari kemarin yang kau katakan selalu sama apa gak ada kata lain apa" ucap Erick tak kalah ngegas.
"aku gak nyangka selain buta kau juga picek gak bisa bedakan orang, yang kau bawa itu kakaku Erchan harusnya kau bisa membedakan dari sifat juga sikap kami, sekarang dia dimana hah" teriak Karin.
"astoghfirlloh omongan anak muda zaman sekarang begitu kasar ya" sahut sang nenek sambil mengelus dada, sang bunda hanya bergeleng kepala saja.
"enak saja ngomong salahkan kalian tuh yang punya wajah sama bikin pusing saja, lagian juga salahmu sendiri gak ngenalin aku sama abangmu itu" protes Erick.
"apa katamu kami yang salah asal kau tahu saja 99.99% umat manusia begitu mendambakan anak kembar lihat tuh mereka semua masih melongo melihatku" kata Karin tak terima.
"sudahlah pusing aku bentar aku telf dulu" katanya lagi. Karin meraih hpnya segera dia menekan nama kakaknya supaya terhubung.
__ADS_1
"sepertinya sebutan BUTA memang cocok untukmu ya bocil selain berarti babi kau juga buta segalanya, nenekmu saja langsung tahu begitu pertama ketemu baby kalo mereka berdua orang yang berbeda, benarkan nek!" sahut Johan.
"apa maksudmu?" ucap Erick terkejut.
"nggih. sikap piyambakipun sedaya berdua kados langit lan bumi kados puniku[MENIKA] benten. (iya. Sikap mereka berdua begitu beda seperti langit dan bumi)" jawab sang nenek sambil tersenyum.
Johan langsung diam lalu menoleh keErsya, dia yang tahu dilihat kekasihnya memberikan senyum lalu berkata.
"nenek bilang sikap mereka berdua bagaikan langit dan bumi" ucapnya memberi jawaban sambil tersenyum.
Panggilan Karin mulai terhubung setelah menunggu beberapa lama. "halo beb kamu dimana? Aku sudah sampai nih" ucapnya bertanya.
"oh litle, bentar ya sebentar lagi sampai kamu tunggu saja" balas sang kakak dari seberang.
"memangnya kamu darimana?" tanyanya lagi.
"APA!! Dokter kulit" pekik Karin lalu melirik kearah Erick dengan tajam.
"ok aku tunggu beb!!"
Tut!! setelah mematikan telfnya sepihak Karin langsung melihat kearah Erick dengan geram.
Karin mencengkram baju Erick "Erchan apa yang kamu lakukan sama bebek ku katakan sekarang" katanya dengan geram.
"sabar dong iya ini aku jelasin" Karin mulai melepas cengkraman tangannya dan menunggu penjelasan Erick. "tadi keponakan aku memasukan kecoa kebajunya setelah itu dia pergi tanpa pamit" jelas Erick membuat Karin semakin marah merubah wajahnya dengan tatapan dingin dan datar seperti sang kakak.
"tahan baby jaga emosi ingat tempat orang" sahut Johan yang melihat Karin mulai marah, semua hanya diam kali ini terpaku dengan apa yang mereka lihat.
Dia berjalan mendekat kearah Erick dan sangat dekat. "kalo saja kamu tidak membuatku tertarik mungkin sudah kuhajar kamu saat ini juga" geramnya menggertakan gigi.
__ADS_1
"sabar nak kami semua minta maaf atas apa yang terjadi kami kurang mendidik keponakan kami mohon maafkan kami" balas sang bunda dengan nada lembutnya saat melihat kemarahan Karin yang sudah mencuat.
"Bi kenapa kamu semarah ini hanya masalah kecoa saja" tanya Erick.
Karin menarik nafas dari mulut lalu mengeluarkannya dari hidung. "karena kakak selain memiliki kulit yang sensitif pada binatang dia memiliki trauma pada kecoa, diluar dia terlihat biasa saja tapi sebenarnya dia sangat ketakutan sampai bermimpi dimalam hari" kata Karin sambil menunduk juga bersedih.
Erick meraih tangan Karin. "maaf Bi aku tidak tahu"
"sudahlah lagipula kamu benar aku tidak memperkenalkan kakakku sama kamu itu juga kesalahanku, aku mau menunggunya disini saja"
"makasih boleh aku temenin gak"
"terserah kamu saja"
Setelah periksa kedokter kulit Kiran mampir kesebuah toko coklat, dia memesan sebuket coklat dengan lima mawar dengan warna berbeda didalamnya juga beberapa coklat untuk keluarga besar Erick.
Kiran membawa buket coklat keluar toko sambil tersenyum tipis seperti seorang pacar ingin memberi hadiah pada kekasihnya, sedangkan Sota membawa yang lain mereka berdua berjalan santai menuju mobil.
Bruk!!! Seorang gadis dengan pakaian lusuh berlari menabrak Kiran hingga terjatuh, gadis berbadan kurus berambut panjang sepinggang pakaian yang lusuh seperti gembel jalanan namun tak menghilangkan kecantikan wajahnya. Dia berlari dengan tergesa-gesa seolah dikejar sesuatu sambil membawa uang.
gadis itu segera bangkit dan memungut beberapa uang yang berceceran.
"maafkan aku tuan, maafkan aku" ucapnya sambil memegang uangnya dengan erat menghadap kearah Kiran.
Kiran begitu terkejut melihat wajah oriental gadis itu karena mirip dengan seseorang yang dia kenal, dia terpaku mulutnya menganga tak mampu berucap pandangannya tertancap pada wajah yang ada dihadapannya saat ini.
"tolong tangkap pencuri itu" teriak seorang pria yang mengejarnya.
*****
__ADS_1