THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
MELAMARNYA


__ADS_3

Johan melihat mereka yang sudah diikat cukup lama setelah itu "aku ingin mereka semua masuk penjara bawah tanah" katanya.


"ok, tapi kau harus menjelaskannya padaku nanti karena yang disana bukan orang-orang biasa"


"iya, tapi aku tidak bisa langsung pulang Ersya ketembak"


"bagaimana keadaannya?"


"pelurunya sudah aku keluarkan ini mau kerumah sakit"


"baiklah!!" Karin mematikan telfnya sepihak lalu menghela nafas panjang. Setelah itu dia menelf beberapa orangnya untuk menuju lokasi yang dikirim Johan.


Johan melihat Ersya yang merintih kesakitan dipelukannya dengan segera dia menggendong kerumah sakit terdekat meminjam motor milik sipreman itu.


Keesokan harinya Karin juga Erick sudah berada dikamar Ersya berikut olahraga mulut rutin seperti biasa.


"aku kan sudah bilang sama kamu kalo jenguk orang itu bawa bunga yang bagus gitu" kata Erick dengan nada tak suka.


"Erchan ini bunga sudah bagus tahu putihnya itu lho menadakan kesucian ya kan Ersya" balas Karin tersenyum kearah Ersya agar setuju dengan ucapannya.


"hahahaha" Ersya hanya ketawa geli sedangkan Johan cuma diam memperhatikan sambil menyuapinya.


"sebenarnya itu bunga untuk berduka cita orang kaya kenapa gak ngerti tentang bunga ya" batin Ersya memandang Karin memegang sebuket bunga.


"kesucian palamu itu artinya berduka cita untuk orang matek ngerti gak sih masa orang kaya kamu gak ngerti perbungaan, harusnya kau sadar setiap kita jalan dilorong rumah sakit semua orang lagi merhatiin kita yang lagi bawa bunga itu" teriak Erick sambil menunjuk bunga yang dibawa karin.


"HAH!! Berduka cita masa sih coba aku lihat dimbah google" Karin mengambil hp disaku celananya dengan cepat dia mengetik arti dari berbagai bunga.


Matanya memdelik seketika tangannya bergetar memegang hpnya begitu erat bahkan badannya membatu ketika muncul arti bunga yang dibawanya. "Bunga lily, sebagai bunga yang selalu dikaitkan dengan kematian atau pemakaman, bunga lily dipercaya mampu mengembalikan kesucian setelah kematian bagi orang-orang yang telah tiada"

__ADS_1


"bunga lily memang memiliki arti yang berbeda tapi sebagian besar orang menganggap bunga lily putih untuk menyampaikan rasa berbela sungkawa" jelas Erick.


"eh tapi ini Lily putih juga bisa melambangkan, ketulusan, kemuliaan, pengabdian, rasa simpatik dan kehidupan baru" kata Karin tak mau kalah.


"haduh dasar ngeyel lihat dong itu dibelakang simpatik dan kehidupan baru pusing aku sutres nih lama-lama" Erick berkata sambil memegangi dahinya.


Ersya yang dari tadi menahan getaran-getaran kekesalan akhirnya sudah sampai pada puncaknya.


"aaaaaaaaaaaaaa pusing pala barbie" teriakan Ersya langsung menggema diseluruh ruangan hingga koridor rumah sakit membuat orang menoleh kesumber suara berikut serta johan, Karin, juga Erick.


"kalian berdua minggat sekarang juga!!" teriak Ersya sambil melempar bantal yang berada dibelakangnya.


"tuh kan gara-gara kamu kita jadi diusir" ucap Karin dengan bibir bebeknya.


"ko jadi menyalahkan aku sih" balas Erick membela diri.


Sementara Ersya didalam kamar merintih karena bahunya yang masih sakit akibat reflek melempar bantal.


"masih nyeri mas tadi buat lempar bantal ukh, oh iya mas aku mau rawat jalan saja ya dikos boleh kan"


"lalu siapa yang jaga aku tambah kawatir kamu kan tinggal sendiri, nanti aku ngomong sama baby supaya kamu boleh tinggal dirumahnya gimana"


"gak ah sungkan aku mas numpang dirumah orang"


"kenapa? Mas juga tinggal disana ada pelayan juga disana"


"gak mau enak an tinggal sendiri dikos"


"ya sudah mas gak bisa maksa kalo gitu, mas tinggal bentar ya keluar mau bicara bentar sama baby"

__ADS_1


Ersya hanya mengangguk mengiyakan lalu Johan berjalan keluar menemui Karin juga Erick yang sedang duduk dikursi sambil main game.


"baby kita kekantin yuk makan laper nih" ucap Johan menganggetkan.


"lho belum makan ya boleh deh Erchan ikut gak"


"eemmm boleh deh ayo"


Mereka berdua berjalan menuju kantin rumah sakit dan mencari tempat duduk dipojokan.


"apa yang ingin kamu bicarakan Jo" tanya Karin langsung pada intinya.


"sebenarnya gak terlalu penting sih aku cuma mau izin tukar cincin sama Ersya"


"heh kamu sudah mau menikah sama dia memang apa yang sudah kamu lakukan dia tahu perkerjaanmu kan"


"dia tahu beby, ini cuma sementara saja acara didepan kalian juga beberapa orang dirumah sakit sebagai saksinya acara sebenarnya akan kami lakukan setelah paman juga bibinya ketemu lagipula aku punya janji kan sama kamu yang harus ditepati"


"apa ini semacam kamu mau melamar dia sebagai kekasihmu dulu gitu" sahut Erick yang sedari tadi menyimak Johan hanya diam memperhatikan wajah Karin.


"akhirnya muncul juga dimana semua akan mendapatkan kelemahannya masing-masing termasuk diriku sendiri, walaupun resikonya tinggi tapi aku juga tidak bisa menahannya karena keegoisanku" batin Karin dalam diam.


Karin mulai berkata "aku tidak mungkin melarangmu mengejar kebahahgiaan itu semua terserah padamu asal kau tidak meninggalkan perkerjaanmu sebagai seorang pengawal penting dalam tim"


"terima kasih beby, karena ini mendadak kami hanya menggunakan cincin mainan saja setelah keluar dari rumah sakit kami akan memesannya secepat mungkin"


"pertanyaanku tidak didengar sama sekali" batin Erick menaruh kepalanya dimeja.


Karena sudah mendapat izin dari Karin sang majikan Johan langsung meminta izin dari kepala suster penjaga, didepan Karin juga Erick berikut penghuni seluruh ruangan tempat Ersya dirawat Johan melamar Ersya dengan dua buah cincin mainan yang dibeli dipinggir jalan. Sorak sorai menggema diseluruh ruangan itu apalagi saat Johan mencium Ersya membuat Erick langsung bersemu merah melirik kearah Karin yang ketawa bahagia teringat kejadian malam itu.

__ADS_1


*****


__ADS_2