THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
ALAMAT DIATAS KERTAS


__ADS_3

"tuan Felix dia bersama bos, sekarang gimana?" tanya salah satu anak buah Felix.


"tetap awasi saja" jawab Felix sama anak buahnya melalui panggilan earphon.


Fani yang duduk disamping tak mempedulikannya dia memakan makanan yang dibeli tadi dengan lahap hingga belepotan karena lapar. Felix menyadarinya dia langsung mengambil tisu dan mengelap bibir Fani sekenanya membuatnya terkejut.


Fani mengambil tisunya dan mengelap sendiri mulutnya yang belepotan makanan.


Felix menghela nafas pelan. "kalo kubawa kerumah baby terjadi masalah gak ya, lebih baik nyari apartemen dulu sajalah" gumamnya dalam hati.


Dia melanjutkan perjalanan mencari sebuah apartemen disalah satu arah yang menuju rumah Karin.


Ditempat lain Erick mengajak Karin kekasihnya pergi ketempat hiburan yang berada disalah satu mall Jakarta. Dia mengajak pacarnya melakukan berbagai permainan supaya bisa menghibur sekaligus melupakan kesedihannya.


"bukannya itu pasangan yang sedang viral disosmed ya" kata salah satu pelanggan mall saat melihat mereka berdua bermain ice skating.


"iya betul masih muda ya ternyata apa bener mereka seperti yang digosipkan" balas salah satunya.


"sudahlah jeng jangan ngurusin orang, mereka yang jalanin suka-suka mereka kenapa kita yang repot dan pusing"


"he em kita lanjut yuk belum beli oleh-oleh nih buat anak"


"ayo.."


"ayo.."


Dipermainan skating Karin memang tertawa lepas, dia melupakan sejenak semua beban yang selama ini dia pikul sendirian. Erick senang karena sudah membuat pacarnya senang walau dia tidak bisa mengobati luka dihatinya.


"kita mau kemana lagi?" tanya Erick sama pacarnya.


"laper, makan dulu terus pulang" jawab Karin sambil tersenyum tanpa menunjukkan giginya.


"sudah mau pulang"


"mm terima kasih berkat kamu aku bisa seperti ini"


"gak usah dipikirkan lagipula ini tidak seberapa yang penting disini tidak pudar, smile" Erick berkata sambil menarik bibirnya keatas dengan tangan. Mereka berdua berjalan bersama menuju sebuah restouran.


"ya, lagipula ada yang ingin kulakukan sekarang"


"apa itu?"


"aku ingin menyelidiki siapa orang tuaku sebenarnya, aku sudah memutuskannya walau sulit tapi aku harus melakukannya"


"izinkan aku menemanimu ya" kata Erick menawarkan diri.

__ADS_1


"terima kasih" balasnya dengan tersenyum.


Mereka berdua berhenti dan duduk disebuah restoran, Erick memanggil pelayan dan memesan makanan.


"sebenarnya papa datang kerumah beberapa waktu lalu dan memberiku surat dari mama, masalahnya surat itu kosong tanpa tulisan apapun"


"surat tanpa tulisan" Erick tampak berfikir. "kalo begitu pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan mamamu hanya untukmu tanpa ada yang tahu" kata Erick melanjutkan.


Karin terjenggang mendengar penuturan Erick lalu dia sedikit menunduk.


"bener juga apa yang dikatakan Erchan kenapa aku gak kepikiran" batin Karin.


Setelah makan mereka berdua memutuskan untuk pulang, Erick mengantar Karin pulang lebih dulu setelah itu baru di kembali ke apartemennya.


Begitu tiba Karin langsung menuju kamarnya dan minta untuk tidak ada yang mengganggunya, dia langsung membuka laci tempat surat dari pak Sanjaya mengambilnya dan duduk didekat cendela.


Dia nampak berfikir sejenak sambil memandangi surat yang dipegangnya.


"surat yang polos tanpa tulisan" batin Karin membolak-balikan suratnya.


Lalu pandangannya teralih sama segelas air putih yang berada disamping tempat tidurnya. Dan dia teringat beberapa kasus yang melibatkan sebuah kode.


"tinta transparan" katanya setelah menyadari sesuatu.


Karin beranjak dari tempat duduknya dan mengambil segelas air putih yang berada disamping tempat tidurnya, tanpa ragu dia langsung memasukkan surat yang dipegangnya disana dan mengangkatnya.


"jalan kecil shizuoka 104" katanya. "sepertinya aku harus kesana" lanjutnya setelah itu dia menaruh surat itu diatas meja.


Dia menghela nafas sejenak lalu menaruh kepalanya diatas punggung tangan yang bertumpu diatas meja.


Dia berjalan keluar kamar menemui kepala pelayanannya.


"panggilkan Johan keruang kerja pak" titahnya setelah ketemu sama kepala pelayan rumahnya.


"baik den" balasnya sambil sedikit menundukan kepala lalu berjalan kerumah belakang menemui Johan.


Diruang kerja Karin sudah berkutat dengan laptop dipangkuannya, dia memeriksa perkerjaannya dengan teliti sekaligus berkas-berkas yang sudah menumpuk diatas meja.


Tok tok tok


Panggilan pintu mulai terdengar tanpa melihat kearah pintu juga dengan santainya sambil tangan yang terus bergerak dia berbicara. "masuk saja" ucapnya.


Pintu mulai terbuka dan masuklah seorang pria berbadan kekar juga tinggi, seorang pria yang selalu menemaninya setiap waktu dan membantu dia mengurusi segalanya.


"duduk Jo" ucap Karin setelah dia mendekat.

__ADS_1


Pria yang dipanggil Johan itu duduk begitu saja tanpa berkata.


"untuk sementara aku akan merepotkanmu lagi"


"kamu mau kemana?" tanya Johan.


"pulang keJepang besok" jawab Karin lalu dia menaruh laptopnya diatas meja.


"ada sesuatu yang ingin kucari tahu jadi untuk kali ini aku pergi tanpamu"


"baiklah kalo itu keputusanmu berhati-hatilah"


"ya lagipula aku pergi tidak sendiri tapi bersamanya"


"baiklah aku mengerti"


"semoga dia bisa diandalkan" batin Johan.


Esoknya Karin terbang keJepang menggunakan jepri pribadi miliknya bersama dengan Erick yang menemaninya. DiJepang dia tidak mendaratkan jeprinya dirumah melainkan dibandara nasional sementara, karena dia tidak mau mendapat pertanyaan yang memusingkan dari kakek neneknya dirumah.


Sesuai alamat yang tertera didalam surat yang diberikan pak Sanjaya dia menuju alamat itu menggunakan taksi. Menuju sebuah alamat dimana seseorang pernah mengasingkan diri sekaligus melanjutkan penelitiannya secara diam-diam setelah terusir dari Amerika.


"kau yakin ini tempatnya?" tanya Erick tanpa melihat kearah kekasihnya. Dia terus menatap sebuah bangunan rumah yang sudah lama tak berpenghuni, rumah itu terlihat berantakan bagaikan kapal pecah.


"alamatnya benar, tulisannya digerbang tadi juga benar" jawab Karin.


"ma masuk sajalah" kata Erick terbata sambil berjalan masuk. Karin mengikuti dari belakang tanpa bersuara.


Tanpa sadar mereka berdua sudah masuk kedalam rumah, begitu banyak debu dan barang pecah belah yang berantakan dilihat dari segi manapun tempat itu seperti habis diserang oleh seseorang dengan berbagai senjata membuat mereka berdua tak berkutik melihatnya.


"dalam keadaan begini jika penghuninya selamat sungguh luar biasa" batin Karin sembari mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.


Berlahan dia berjalan mendekati setiap benda yang ada disana melihat memperhatikannya satu persatu.


"Kenapa mama memberi alamat rumah ini padaku, sebenarnya ada apa dengan rumah ini? Apakah mama dulu pernah tinggal ditempat ini?" berbagai pertanyaan kini muncul dibenak Karin dan sayangnya dia sendiri yang harus mencari jawaban dari semua pertanyaan itu sendiri.


Dia terus menyusuri setiap ruangan demi ruangan meneliti setiap benda yang ada disana. Erick berjalan kesebuah ruangan yang terdapat sebuah ruang penelitian, disana terdapat komputer, ranjang pasien juga beberapa peralatan lainnya.


"Bi" teriak Erick memanggil.


"Bi kesini sebentar" teriaknya lagi.


Erick berjalan mendekat kesebuah komputer, dia bersihkan debu yang begitu tebal disana setelah bersih baru dia mengotak atik komputer itu mencoba menyalahkannya.


"Erchan ada apa memanggilku?" tanya Karin setelah sampai.

__ADS_1


******


Marhaban ya romadhon minal aidzin wal fa idzin mohon maaf lahir batin.🙏🙏🙏


__ADS_2