
Buak....
Karena mabuk Felix yungsep kelantai akibat tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, semua orang disana hanya bisa menganga melihat pemandangan itu apalagi saat melihat majikan mereka yang menjadi dingin juga menakutkan.
"kenapa kau memukulku" teriaknya Karin hanya diam dengan muka dinginnya.
Karin hanya diam melihat Felix yang hendak meraih bajunya, sekali lagi dia mendapatkan pukulan diwajahnya.
Tangan Karin berbalik mencengkram baju Felix dan menyeretnya kearah kolam menjemburkannya disana. Dia berdiri tegak dipinggir kolam sorot matanya yang tajam tertuju pada Felix yang berada didalam kolam.
Lima belas menit berlalu semua orang kawatir sama keadaannya yang tidak muncul kepermukaan, takut juga cemas menyelimuti semuanya kecuali Karin sendiri dalam diam dia menggerakkan tangannya supaya pengawal yang berdiri tak jauh dari sana berjalan maju.
"angkat dia" titahnya tanpa melihat kearah pengawalnya.
Karin berlalu pergi begitu saja tanpa bicara sepatah katapun meninggalkan Felix yang basah kuyup setengah sadar, pak Aldo bermuka masam melihat kepergian Karin lalu beralih melihat Felix yang setengah sadar dilantai tapi tak berdaya.
Entah apa yang membuatnya tak berdaya, pukulan dari Karin atau rasa bersalahnya sama Fani hanya dia yang tahu.
"jika baby sampai turun tangan sendiri seperti itu pasti wanita yang dia siksa berhubungan dengan seseorang" celetuk Billar didengar semua.
"menyiksa wanita!!" sahut Lina.
"hmm dia anti wanita, jangankan berdekatan sama wanita didekati wanita saja dia akan menendang wanita itu sampai pingsan, tak ada satu orang wanitapun yang berani berdekatan dengannya kalo tidak hancur deh badannya" jelas Billar membuat Lina merinding.
"pasti ada sesuatu yang membuatnya seperti itu, manusia tidak akan berbuat tanpa alasan" kata Lina berlahan mendekati Felix.
"kau mau kemana?" tanya Billar.
"menyuruhnya ganti baju nanti masuk angin dan demam kalo tidak segera mandi air hangat dan ganti baju" jawab Lina.
"jangan ikut campur urusan orang nanti kamu sendiri yang terseret"
"tapi kan kasian"
"terserah kamu saja"
Lina berjalan lebih dekat kearah Felix, tapi belum sampai menyentuh badan Felix dia dibuat terkejut oleh sikap Felix yang mengibaskan tangannya secara kasar lalu mencekiknya.
"pergi dasar wanita keparat" kata Felix menggertakkan giginya geram.
"a aku cuma mau menolongku saja" kata Lina berusaha bicara.
"lepaskan Lina apa kau ingin diajar sama baby lagi, ingat jangan menambah masalah"
Sekelebat bayangan Fani terlintas diwajah Lina yang kesakitan juga ketakutan, Felix yang terkejut berlahan melepas tangannya kembali berbaring dilantai pinggir kolam.
__ADS_1
"kalo begini tahu sendiri kan dia itu lagi mabuk tahu gak" kesal Billar cemberut kearah Lina.
"maaf" kata Lina pendek lalu berjalan masuk rumah belakang.
Felix yang setengah sadar pikirannya kosong melayang entah kemana berlahan tapi pasti dia memejamkan matanya.
Karin datang bersama kepala pelayan disisinya juga Ran Ran, seperti tadi expresinya dingin menakutkan ini pertama kalinya dia berexpresi seperti itu dirumah.
Dia berdiri didekat Felix yang masih berbaring dilantai.
"ambilkan air segayung" titahnya.
Seorang pengawal datang membawa segayung air dan diserahkan sama Karin, setelah menerima air itu tanpa ragu dia langsung menyiramkan air itu kewajah Felix.
Akibat siraman itu Felix bangkit begitu saja sambil berteriak. "kau mau balas dendam hah" kata Felix dia berhenti begitu mengetahui Karin yang berdiri didepannya.
"baby!! Kenapa aku bisa ada disini basah lagi" katanya lagi menunjuk diri sendiri.
"berikan dia baju ganti pak"
"baik den" setelah menundukkan kepala pak Aldo pergi mengambil pakaian untuk Felix.
"ganti dulu pakaianmu baru bicara" Karin berjalan menuju rumah belakang mendudukan bokongnya disalah satu kursi disana.
Felix yang menerima baju ganti segera pergi untuk berganti pakaian dan menemui Karin dirumah belakang.
"dimana dia sekarang?" kata Felix begitu tiba didepan Karin.
"apa anak buahmu tidak menyampaikan apa yang aku katakan" Karin tetap pada posisinya.
"walau aku seorang mafia sadis sekalipun jika ada seseorang yang minta tolong padaku aku juga akan menolongnya" lanjut Karin tanpa melihat kearah Felix.
"apa benar dia cuma pulang saja"
"gak tahu, dia bilang ingin pulang dengan jepri kalo dia menuju arah lain bukan urusanku"
"apa maksudmu?" teriak Felix karena kesal.
"apa masih belum jelas, aku meminjamkan Jepri berserta pilot saja pulang atau tidak itu terserah dia" kata Karin tenang.
"jika tidak ada perlu pergilah" lanjutnya mengusir Felix.
Karin bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar diikuti oleh Ran Ran dibelakang. Felix menyatukan kedua alisnya dia berdiri mematung cukup lama dirumah belakang.
Dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk kali ini, dia terduduk dilantai memegangi kepalanya. Tidak tahu lagi harus bagaimana dia yang membawa Fani keJakarta dia juga yang melakukan kekerasan terhadapnya dia pula yang menyebabkan Fani meminta bantuan orang lain untuk keluar dari jeratan dirinya kini dia harus mempertanggung jawabkan semuanya didepan orang tuanya nanti.
__ADS_1
"nah sekarang bagaimana kau akan menghindar dari semua ini Lichan kita lihat penderitaan yang kau alami hihihi" Karin tertawa menyeringai didepan monitor menyaksikan Felix yang menderita.
"sepertinya kau puas sekali" kata Ran Ran dari belakang.
"hihihi menyaksikan suatu proses secara berlahan itu mengasyikkan tahu gak"
Karin mengambil hp yang berada disebelah monitor menggerakkan jarinya mencari nama yang baru disimpannya. Setelah ketemu baru dia menekan nama itu melakukan panggilan video memperlihatkan keadaan Felix padanya.
"apa kau suka melihatnya" kata Karin sama seorang wanita.
"benarkah itu dia" kata orang itu seolah tak percaya sama apa yang dia lihat.
"sesuai yang kuminta jangan temui dia dulu jika kau ingin membuat dia meminta maaf padamu, kamu bisa sembunyi dulu sementara dan jangan goyah"
"iya, terima kasih sudah membantu" katanya menunduk.
"kalo saja Erchan tidak menganggapmu saudara aku tidak akan membantumu" kata Karin pedas terhadap wanita didepannya yang tak lain adalah Fani.
"maafkan aku"
Sebelum Karin keluar dari kamar Erick waktu diapartemen waktu itu Fani menghentikan langkahnya meminta bantuan Karin.
"tunggu bolehkah aku minta bantuanmu" teriak Fani menghentikan langkah Karin hendak keluar.
"ada apa?" tanya Karin melihat kearah Fani.
"mm itu aku ingin minta bantuanmu" jawab Fani.
Karin kembali duduk didekat Fani. "cepat katakan aku tidak ada waktu untuk bersantai" katanya tegas juga sinis.
"mm iya aku hanya ingin membuatnya meminta maaf padaku saja dan ingin melihat apakah dia akan mencariku atau tidak jika aku tidak ada" kata Fani ragu juga menunduk.
"aku bisa saja membantumu tapi apa yang akan kau berikan padaku"
"kurelakan dia untukmu, aku tak akan mengganggu kalian" Fani berkata sambil mencengkram erat sprei yang dia pakai.
"baiklah kupegang kata-katamu jika kau mengingkarinya ada kompensasi tersendiri untukmu"
"iya"
"ikuti apa kataku dan jangan membantah keberhasilan tergantung pada dirimu sendiri" kata Karin tegas didepan Fani.
*****
Jangan menyelesaikan masalah saat mabuk karena bisa membuat salah paham dan bertambah runyam bener apa bener ya😀
__ADS_1
Terima kasih sudah like & komen juga lainnya dukungan anda sangat berarti bagi author 😘🥰🥰