
Selesai makan dan ngobrol sejenak teman-teman Karin pada pamitan pulang dan kini tinggal Karin berserta orang-orangnya, mereka semua berjalan santai menyusuri jalan tanpa arah tujuan yang penting jalan santai, fikirnya.
"Sya harusnya kamu menggandeng tangan suamimu kenapa nempel banget sama aku sih" kata Karin dengan cemberut melihat kelakuan Ersya yang bermanja dilengan Karin tanpa mempedulikan Johan tunangannya.
"salah sendiri jadi cowok tampan kan jadi deg deg ser hatiku, lihat semua orang tidak ada yang tahu kalo aku bermanja ria sama cewek hahahaha" balasnya dengan tersenyum lebar.
"apa kau ingin mengubahku menjadi lesbian" kata Karin ketus.
"oi aku masih normal ya tak sudi aku jadi seperti itu, anggap saja ini semua hukuman karena kamu sudah membawa semuanya keluar bangsal tanpa mempedulikan diriku" balas Ersya tak kalah ketus. Karin hanya diam dengan cemberut tak suka.
Dibelakang Johan juga Nana hanya bergeleng kepala mendengarnya.
"apa kamu gak merasa kalo kita seperti the virgin mari kita mengalahkan mereka berdua" ucapan Ersya membuat semua orang yang berada disepanjang jalan memandang heran kearahnya.
"ngomong-ngomong aku masih lapar makan lagi yuk" kata Ersya lagi memelas.
"baru saja makan sudah lapar lagi" kata Karin.
"inilah kelebihan seorang wanita jika tamunya sudah mulai datang maka badannya harus menyiapkan sesuatu untuk menyambutnya supaya tidak kekurangan gizi juga nutrisi"
Sebagai seorang wanita Karin mengerti apa yang dimaksud Ersya. "kamu benar sekarang mari kita makan lagi kamu pesan satu warung pun tak masalah toh ada bank berjalan" Karin melirik Johan dibelakang Ersya, Johan sendiri langsung memegang jidatnya.
"lebih baik memuaskan perut daripada memuaskan hasrat" sahut Nana dengan pandangan lurus kedepan.
"yah kamu ada benarnya" balas Johan pasrah dengan kelakuan calon istrinya.
Memang Johan menyukai Ersya karena sifat dia mirip Karin yang fer dan juga mengerti kondisinya sendiri.
Ersya melihat seorang anak tukang semir sepatu yang juga berjualan manisan khas Jogja tanpa banyak bicara dia langsung menyeret Karin mendekati anak itu.
"hai dik kamu jualan apa? lihat yak" kata Ersya.
"oh boleh kak" balasnya lalu melihat kearah Karin orang yang pernah dia temui.
"hallo ketemu lagi" sapa Karin.
__ADS_1
"hallo juga kak" balasnya sambil tersenyum.
"wow pasti enak" pekik Ersya dengan kedua matanya yang sudah berubah jadi waru dan langsung melahap apa yang ada didepannya.
Karin memandang Ersya dengan tatapan aneh berikut serta Nana, Johan bergeleng kepala saja sambil memegang jidatnya.
Anak tukang semir itu tertawa getir melihat Ersya makan dengan lahapnya. "maaf kak!!" katanya ragu.
"iya ada apa? jangan kuatir nanti bakal aku bayar semua" kata Ersya dengan mulut yang penuh makanan.
"bukan kak cuma mau tanya kakak gak makan berapa hari?" katanya sambil tersenyum dan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"uhuk uhuk uhuk" Ersya langsung tersedak mendengar perkataan si anak tadi. Karin yang berada disampingnya langsung menepuk punggung Ersya berikut serta Johan.
"mi, mi, minum ohok ohok" kata Ersya berusaha bernafas secara normal.
Johan berlari membeli air minum karena sianak tukang semir tidak jual minuman.
"maaf kak"
"oalah begitu toh hahaha"
"siapa namamu bukannya seharusnya kamu sekolah ya" tanya Karin.
"namaku Key kak, karena keterbatasan aku putus sekolah"
"maaf ya"
"gak apa kak hehehe lagipula aku masih bisa belajar keperpus umum kok atau kewarnet untuk belajar online"
"wah hebat walau sudah putus sekolah tapi tak berhenti meraih ilmu dua jempol untukmu" Karin bicara sambil memperlihatkan dua jempolnya.
Key yang berjongkok dibawah keduanya merasa senang mereka bertiga terlihat akrab, beda dengan Nana yang cuma memperhatikan saja tanpa bicara sedikitpun.
Dibalik tawanya Key melihat sesuatu yang aneh dari sebuah gedung dan Karin duduk tepat membelakangi gedung itu, dia memperhatikan lagi memastikan apa yang dia lihat.
__ADS_1
Key melihat seorang pria sedang siap menembak seseorang dari sana, Key terus memperhatikan pria itu siapa gerangan yang dia tuju, saking fokusnya Key berkali kali Karin memanggil tak didengar olehnya hingga akhirnya Key sadar bahwa yang dituju orang itu adalah Karin karena setiap Karin bergerak dia selalu menggerakan laras panjang yang dibawanya mengikuti arah badan Karin.
Karin bercanda dengan Ersya dengan cemberut kadang juga ketawa tanpa tahu nyawanya sedang terancam. Key menajamkan penglihatannya memperhatikan larasnya bukannya orangnya.
Dor
satu peluru melesat cepat mengarah pada sasaran dan Key tahu siapa yang dituju.
"kakak awas!!!" teriak Key mendorong badan Karin kebelakang.
Karin yang terkejut karena dorongan Key terperosok kebelakang, Ersya dan Nana melongo tertengun sama apa yang Key perbuat.
Blussssh
peluru melesat cepat tak bisa dilihat menembus sekaligus merobek kulit secara paksa menghantam sekaligus mematahkan tulang yang berada didalam.
menimbulkan dorongan yang begitu kuat hingga badan tak mampu bertahan dan pada akhirnya badanpun jatuh kebelakang.
Bruk
Badan key jatuh ketanah berlahan tapi pasti rasa panas sekaligus sakit mulai menjalar keseluruh tubuhnya, dia meringis kesakitan matanya tertutup rapat kedua alisnya bertemu jadi satu.
"Key......" teriak ketiganya yang mulai sadar dengan apa yang terjadi.
Karin berlari menghampiri Key yang masih terbaring dilantai mengangkat kepalanya kedalam pangkuan.
"Key bertahan pelurunya tidak mengenai bagian yang fatal ya please ok" kata Karin menguatkan Key yang meringis kesakitan juga nafas yang mulai tidak teratur.
"dari jarak 1.5 kilometer dari sini diatas gedung lima lantai itu dia menembaknya arah se... uhuk" ucap Key tersenggal-senggal.
Karin dengan cekatan menggendong Key dan segera berlari menuju klinik terdekat.
"gak usah banyak bicara Key, Ersya kau ikut aku cepat"
"i, i, iya" jawabnya dengan badan gemetar takut.
__ADS_1
*****