
"anakku butuh tempat untuk berkembang! Tidak ada pilihan lain selain membawa seorang wanita kerumah. Karena semua orang menolak keinginan kami dengan terpaksa kami menculik seseorang masalahnya dia sedang nifas membuat kami bingung"
"demi keturunan kami, kami memohon padanya supaya bersedia menjadi rahim pengganti awalnya dia menolak sampai aku bersujud padanya dan menangis akhirnya hatinya luluh juga dan bersedia melakukannya"
"hari-hari kami bertiga begitu menyenangkan, kuperlakukan dia dengan baik dirumah seluruh pekerjaan aku yang lakukan, semua keinginannya sebisa mungkin kami penuhi termasuk mengantarkan ASI kerumahnya memastikan anak laki-lakinya meminumnya"
"kehamilannya sudah memasuki tujuh bulan aku sudah menyiapkan nama untuknya juga suamiku dia bilang anakku dan anaknya akan berwajah sama, sikembar yang berbeda aku sangat menantikan itu membuatku tidak bisa tidur setiap malam"
"seperti biasa kami bertiga ngobrol santai diteras aku berkata jika suamiku seperti punya dua istri sambil tertawa, mereka menanggapinya dengan tawa yang membahana sungguh kami begitu akur dan menyenangkan. Aku sudah menyiapkan nama untuk anak kami nama ini gabungan dari suamiku dan dia sebuah nama yang cocok untuk anak laki-laki juga perempuan, awalnya dia tidak setuju dan aku bilang itu untuk mengenang dia aku tidak mau melupakannya begitu saja"
"ARANDITA dengan nama ini kami berdua akan selalu mengingat dia, sang ibu pengganti!!!"
Karin langsung terkejut tanpa sadar dia berdiri begitu saja, dia menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dia baca lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dengan kasar memandang keluar cendela sejenak.
"Arandita nama papa dan ibu pengganti, lalu nama mamaku sendiri siapa? Apa aku harus kesana lagi? Kenapa semua ini begitu rumit?" gumamnya dalam hati lalu meraih buku itu dan membuka lembaran berikutnya tapi sudah tidak ada tulisan lagi disana itu tulisan terakhir.
Dia membawa buku itu keluar menuju kamarnya, dia berjalan pelan seolah tak mampu tuk berjalan langkah demi langkah yang dia paksakan begitu berat.
Sesampainya dikamar dia membaringkan badannya menatap langit-langit kamarnya, rasa lelah dihati juga pikirannya membuat matanya berlahan terpejam.
"akankah semua ini dilanjutkan atau dihentikan, ingin sekali aku menghentikannya tapi aku juga ingin tahu siapa orang tuaku darimana mereka berasal" ucapnya lirih sampai tak terdengar lagi. Misteri kehidupan yang begitu rumit dari awal dia hadir hidupnya penuh dengan teka teki.
"sungguh semua ini begitu menyakitkan" katanya pelan lalu memejamkan matanya.
Tidur sang tuan putri cuma sejenak karena otaknya terus berkerja terhadap masalah kedua orang tuanya juga misteri kehidupannya.
Dia membuka matanya lebar-lebar yang dia lihat pertama langit-langit kamarnya setelah itu dia melihat kanan kirinya tidak ada siapapun disampingnya.
__ADS_1
Dia berharap ada seseorang disamping tidurnya dan bayangan yang muncul adalah Erick, dia yang selalu membuatnya terhibur sebisa mungkin melupakan kesedihannya walau sejenak.
Dia menatap langit-langit kamarnya kembali dengan malasnya dia bangkit dari tidurnya mengambil handuk lalu pergi mandi.
Selesai mandi Karin mengenakan kaos lengan pendek biasa, celana panjang juga sepatu Reebok membungkus kakinya. Menata rambutnya dengan gaya trend masa kini juga beberapa hiasan yang melekat ditangan dan telinganya.
Dia berjalan menuju pintu bersiap untuk menemui Erick kekasihnya dan tak lupa jaket anti pelurunya.
Cklek...
Pintu terbuka dia nampak terkejut begitu melihat kepala pelayan rumahnya sudah berdiri didepan pintu kamarnya.
"maaf den ada tamu sedang menunggu anda dibawah" kata pak Aldo menundukkan kepalanya.
"siapa?" balas Karin pendek.
"dia tuan Fay dari Paris bersama istrinya"
"ada apa lagi mereka menemuiku?" gumamnya lirih dan bisa didengar oleh pak Aldo dibelakang.
Karin melihat dua manusia yang sudah tua dibawanya, dia teringat akan tulisan didalam buku kecil itu tentang pria dengan tongkat emasnya saat memperhatikan Fay duduk dengan tongkat emasnya.
Dia menghela nafas sejenak menyerahkan jaketnya sama pak Aldo sebelum turun menemui mereka berdua.
"biar bagaimanapun mereka tamuku rasanya tak enak jika pergi begitu saja" batinnya sambil berjalan turun kebawah walau sebenarnya dia enggan untuk menyambut mereka.
"apa kalian datang untuk membicarakan hal yang sama" perkataan Karin membuat keduanya terkejut dan melihat kearahnya.
__ADS_1
"jika kamu tak suka anggap saja kami bersilaturahmi kesini" balas Fay dengan suara datarnya Louris hanya dia menahan keinginannya untuk memeluk cucunya saat ketemu.
Karin duduk bersandar kebelakang dia menaruh satu kakinya diatas kaki satunya lagi dan menyatukan kesepuluh jarinya didepan dada. "silahturahmi ya" katanya sambil menarik ujung bibirnya.
"jujur saja aku masih belum bisa mengakuinya sebelum aku mencari tahunya sendiri" ucapnya lagi.
"itu terserah kamu saja, kami mengatakan apa yang harus dikatakan"
"apa kalian yang mencuri sampel darahku?" tanya Karin penasaran.
"iya, untuk mengetahui kebenaran jika kamu memang sah keturunan dari F. Aran putraku" jawab Fay tegas. "kalo hasilnya berbeda maka kami akan mencarinya lagi sampai berhasil menemukan keturunannya" lanjutnya lagi.
"ceritakan kenapa kau begitu yakin kalo aku cucu kalian"
Fay dan istrinya saling memandang dan mereka menceritakan kejadian dua puluh dua tahun yang aneh.
"dua puluh dua tahun lalu kami menerima surat yang isinya hanya alamat rumah dan foto USG berikut sebuah nama yang tertera dibelakang foto USG, aku mencoba menelusuri alamat itu tapi begitu tiba disana tempat itu sudah hancur berantakan yang ada cuma puing-puing yang berserakan, aku berfikir ada seseorang sedang bercanda dan kami tidak pernah mencari tahu asal darimana surat itu" Louris berhenti bercerita.
"sampai tujuh tahun lalu seorang wanita datang dan mengatakan "kenapa kami tidak mencari tahu keberadaan cucu kami" tentu saja hal itu membuat kami berdua kaget dan mencari tahu dengan teliti benar tidaknya apa yang dikatakan wanita itu"
Karin diam mendengarkan cerita dari Louris pandangannya kosong mencerna setiap kata yang keluar dari mulut wanita tua didepannya.
"tujuh tahun lalu seorang wanita datang menemuinya memberi tahu yang sebenarnya apakah itu mama, apa mungkin mama masih hidup? Jika itu benar kenapa dia tidak menemuiku?" Karin terus bertanya dalam hati.
Diatas pria misterius pengganti Johan memperhatikan ketiganya, dia tak pernah melepas pendangan matanya dari ketiganya, semua expresi dan gerak geriknya diperhatikan dengan sorot mata yang aneh.
Pria berbadan kekar dan tinggi dengan mantel coklatnya yang mencolok, dia jau lebih ketat juga posesif dibandingkan Johan, Karin kadang menyebutnya kucing bandel karena dia suka bergerak sendiri daripada mendengarkan perintah majikannya.
__ADS_1
*****
jangan lupa like dan komennya 🥰😘