THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
MEMBATALKAN


__ADS_3

Didepan rumah sudah berjajar keluarga besar siap menyambut seorang putra yang telah kabur dari rumah. Romo, bunda, juga kedua kakaknya berserta para abdi berdiri tegap menyambut putra kembali.


"le kamu gak kangen sama romo kenapa kaburnya lama sekali" ucap seorang pria paruh baya mengagetkan Erick.


Erick berbalik badan bukannya pasang muka yang senang dia malang cemberut dengan penyambutan yang dilakukan sama orang tuanya.


"kalian semua ngapain berjejer didepan rumah" ucapnya dengan kesal.


"bunda kangen sayang sini peluk bunda dulu dong" kata seorang wanita yang dipanggil bunda.


Erick berjalan mendekat lalu memeluk bundanya dengan senang, Kiran diam melihat dari dalam mobil.


"bunda aku pulang!!"


"romo gak dikangenin"


"iya kangen" Erick bergantian meluk romonya.


"lama tak bertemu kamu banyak berubah ya dik" kata sang kakak.


"masa"


"sudah ayo kita masuk" ajak kakak satunya.


Kiran juga Sota sudah berdiri didekat mobil melihat adegan yang mereka lakukan dengan muka datarnya plus sorot matanya yang dingin.


"dik dia siapa?" tanya sang kakak yang menyadari kehadiran Kiran dan Sota.


"oh dia temenku namanya Karin asli orang Jepang lalu sebelahnya ng.."


"nama saya Sota tuan"


"sudah ayo semuanya masuk" ajak sang bunda hendak menggandeng lengan Erick, tapi segera dia menghampiri Kiran menggandeng tangannya berjalan masuk.

__ADS_1


"lepasin, kau salah bawa orang!!" ucap Kiran sambil mengibaskan tangannya.


"salah gimana sih Bi jelas-jelas itu kamu sudah ayo masuk"


Semuanya memandang heran mereka berdua walau begitu Kiran berserta sekretarisnya disambut dengan hangat sama keluarga besar Erick.


"bagaimana cara menjelaskannya" gumam Kiran.


"saya gak sabar ingin tahu bagaimana reaksi tuan Erick saat tahu dia salah bawa orang tuan" kata Sota disamping tuannya.


"aku juga"


"pelayan siapkan kamar untuk kedua tamu kita, makanannya juga sekalian kamu panasin" printah bunda sama kepala pelayan rumahnya.


"baik nyonya" segera sang kepala pelayan berjalan kebelakang melakukan perkerjaannya.


Erick tidak menuju kekamarnya melainkan menemui bunda juga romonya, dia ingin mengatakan sesuatu kepada keduanya karena ini menyangkut kebahagiannya juga masa depannya.


"bunda, romo kalian sedang ngapain?" tanyanya membuka suara.


"gak enak diceritain ada yang mau aku omongin sama bunda juga romo" jawab Erick langsung pada intinya.


"hmm.. apa itu? apa kamu ingin bicara soal pertunanganmu" kata romonya langsung pada intinya.


Erick duduk diantar romo dan bundanya lalu dia mematikan tvnya.


"kali ini Erick harap kalian bisa mengerti, Erick hanya mau menikah sama orang yang membuat Erick nyaman tentu saja juga sangat mencintainya. Bunda, romo kalian berdua sudah tua tentunya banyak pengalaman pastinya kebahagian bersama orang yang kita cinta itu sangat berarti bukankah begitu" ucap Erick mengambil tangan bunda juga romo digenggamnya tangan itu begitu erat dan dalam.


Keduanya menghela nafas selama ini mereka berdua memang menjodohkan anak-anaknya jika waktunya sudah berkeluarga. Karena ini sudah tradisi turun temurun bahkan sejak zaman nenek dulu apalagi garis turunan ningrat harus mendapat jodoh yang setara juga.


"romo ngerti le romo ngerti saat kamu kabur dari rumah waktu acara perjodohanmu dulu, romo sudah mengerti untuk kali ini pilihan ada ditangan kamu, kebahagiaan ada ditangan kamu sendiri untuk apa kami memaksa kalo nyatanya yang ngejalani gak bakal bahagia" ucap romo dengan nada yang kalem khas daerah Jogja.


Erick meneteskan air matanya tanpa disadari membuat keduanya saling memandang.

__ADS_1


"sudah jangan nangis maafin bunda karena bunda begitu egois mementingkan tradisi tanpa mikirin perasaan anak sendiri" kata bunda memeluk badan putranya yang sudah lama tak dijumpainya.


"terima kasih kalian berdua sangat mengerti aku hiks hiks... Tadinya aku akan kabur lagi untuk yang kedua kalinya dan akan kembali sambil bawa keluarga kecil hiks hiks..."


"tapi le masalahnya dia tidak mau membatalin perjodohan dan bersih keras ingin menjadi istrimu"


"gak papa romo bagiku yang penting romo membatalin perjodohan ini sudah sangat membahagiakan sekali terima kasih romo bunda"


"daripada gitu apa kamu sudah dekat dengan seseorang kenalin sama kami kalo sudah ya" tanya bunda.


"sebenarnya sudah bun dia dari keluarga sederhana Erick suka dengan sikapnya tapi..." Erick menunduk lesu diantara keduanya.


"tapi kenapa?!!" tanya keduanya kompak.


"sudah diambil orang"


"sakne sakne" jawabnya lagi kompak membuat Erick seketika membatu sekaligus retak.


"ko kelihatannya ngece begitu sih kalian gak kasian sama sekali"


"cinta itu butuh perjuangan kalo kamu diam saja saat orang yang kamu taksir diambil orang trus kamu mau dapat jandanya, iya kalo dia cepat-cepat jadi janda kalo tidak masa kamu bakal diam saja sampai tua trus kapan kamu nikamtin pepes terbungkus daun pisang" kata sang romo sambil mengambil remot hendak menghidupkan tvnya kembali.


"romo kamu ngomong sampai kemana itu hah" sahut bunda dengan mata yang melotot kesuaminya.


"tidak kemana-mana bun, putra kita kan sudah besar pastinya mengerti juga"


"bunda tidak suka ya romo ngomong kotor didepan putra" ketus sang bunda Erick hanya tersenyum mendengar perdebatan mereka berdua.


"iya bunda sayang!!"


"yang penting sabar Rick romo dulu juga begitu sampai orang tua romo mempertemukan romo sama bunda akhirnya langgeng sampai munculah kamu nih"


"oh cinta didalam perjodohan ya"

__ADS_1


"sudah sana mandi dan segera makan lalu istirahat" printah bunda sama putranya. Sebelum beranjak Erick sekali memeluk keduanya begitu erat. "Erick bener-bener berterima kasih kalian berdua sudah mengerti Erick" setelah itu dia lalu berjalan kekamarnya dengan tersenyum sumringah.


*****


__ADS_2