THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
KANGEN KAMU


__ADS_3

"kasian banget kamu Han hidup cuma jadi pelampiasan saja" ejek Nana sambil berjalan memapah Johan menuju mobil hendak menyusul Karin. Sementara yang lain sudah berangkat duluan.


"berisik kamu Na kamu pikir enak apa jadi tangan kanan bocah gila itu, punya majikan kembar bedanya selangit yang satu keras kepala dan gampang marah, satu lagi lemah lembut dan mengesampingkan kekerasan sebisa mungkin"


Nana mulai menghidupkan mobil dan melaju dengan kecepatan sedang. "itulah uniknya sikembar jika dua-duanya memiliki sifat yang sama coba bayangkan apa yang terjadi, jujur sih aku lebih suka kerja nona daripada yang yang lain"


"haaah kamu benar sekali mereka benar-benar unik berbeda pada manusia kembar pada umumnya"


Disebuah klinik diJogja disana kebetulan sang dokter sedang mendapat panggilan rumah sakit membuat kliniknya dijaga sama pelayan saja. Karin datang menggebrak pintu dan mencari Key juga Ersya.


"bagaimana keadaannya?" tanyanya setelah tiba.


"jangan banyak tanya lakukan sesuatu gak kasian apa" tanya Ersya yerocos tanpa henti.


"siapkan peralatannya biar aku sendiri yang lakukan Nana masih dibelakang"


Ersya bengong dia tidak mengerti apa yang dimaksud Karin.


"kenapa diam saja?" teriak Karin.


"bukan begitu aku gak tahu menahu soal obat dan peralatannya"


"panggil suster disini atau pelayannya cepetan sebelum aku marah dan mengobrak abrik tempat ini"


"iya" Ersya segera berlari keluar mencari pelayan disana.


Karin mengunting baju Key dan membersihkan darah segar yang masih mengalir, terlihat Key sudah tidak bisa membuka mata lagi entah pingsan atau apa.


"Key bangun kamu mendengarku" kata Karin sambil menepuk pipi Key namun tak diresponnya.


"ini dia, aku sudah bawa pelayannya berikut peralatan yang kamu butuhkan" teriak Ersya ditengah-tengah kebingungan Karin.


Karin langsung menyahut peralatan yang dipegang sipelayan serta obatnya, dengan segera dia mengambil obat pereda rasa sakit lalu disuntikan kebadan Key.


"Key sadar Key kau mendengar ku kan" ucap Karin sambil terus bergerak mengecek kondisi badan Key.


"dia kehilangan banyak darah detak jantungnya mulai menurun, dia pingsan!!" kata Karin.

__ADS_1


"kamu lakukan tes darah dan segera cari darah yang sama cepetan!" printahnya sama sang pelayan.


"siap tuan" pelayan itu segera berlari mengerjakan apa yang diperintahkan.


Ersya terperangah melihat apa yang dilakukan Karin dia begitu mengerti kondisi pasien. Didepannya Karin dengan cekatan mengeluarkan peluru yang bersarang dibadan Key walau tidak fatal namun peluru itu memutus pembulu darah hingga menyebabkan terus mengalir tanpa henti.


"Sya bantu membersihkan badannya" ucapan Karin membuatnya terperanjat, tanpa sadar perkerjaan Karin sudah selesai.


"iya" jawabnya singkat dan segera melaksanakan tugasnya.


Sipelayan datang tergopoh-gopoh membawa tiga kantong darah setelah melakukan tes darah dan segera menyerahkan semuanya pada Karin.


"maaf terlambat tuan, ini saya sudah membawanya" kata pelayan itu.


"disini kehabisan stok darah yang sama jadi saya pergi kerumah sakit tempat dokter berkerja" ucapnya lagi.


"ooo" katanya lalu segera memasang satu selang lagi yang berfungsi mentransfusi darah ketubuh.


Nana dan Johan datang menghampiri sekaligus melakukan pengobatan dirinya, Ersya menganga tak berkedip sama sekali melihat tunangannya babak belur akibat ulah Karin.


"astaga mas Jo kamu kenapa bisa separah ini, sini biar aku obati" katanya sambil meraih tangan Johan memapahnya menuju ranjang pasien.


"apa!! bagaimana mungkin kau bisa melakukannya sama pengawalmu sendiri" pekik Ersya tak terima.


"karena dia menyembunyikan masalah yang tak aku ketahui dan aku paling tidak suka ada pembohong disekitarku" jawabnya santai.


"oh gitu, apa kau tidak bisa mendengar penjelasan darinya dulu, lalu apa dengan kekerasan bisa menyeselesaikan masalah jika kamu tidak jngin mencari musuh selesaikan dengan kepala dingin dan bukan begini caranya" kata Ersya emosi karena perlakuan Karin terhadap Johan.


"aku punya caraku sendiri untuk menghukum seseorang"


"biar bagai..." belum sampai Ersya menyeselesaikan perkataannya Johan langsung memotongnya lebih dulu.


"Sya sudah hentikan" sahut Johan.


"iya baiklah" walau kesal Ersya membawa Johan kedalam dan mengobati luka-lukanya.


"Sya, jangan membenci Karin" kata Johan membuat Ersya menghentikan gerak tangannya dan memandang kekasihnya.

__ADS_1


"aku heran kenapa mas Jo gak marah sama dia malah membelanya"


"kalo aku membencinya masalahnya akan semakin panjang dan gak kelar-kelar, lagipula dia seperti adikku sendiri"


"aku cuma tidak suka sama caranya saja melampiaskan kekesalan sama orang terdekat"


"aku tidak tahu apapun tentang mereka berdua, tapi yang jelas mereka berdua saling membutuhkan, menurut cerita Nana bisa saja Karin membunuh siapa saja yang berani berbohong tapi mas Jo cuma dihajar saja" batinnya.


"dia sudah berubah Sya itu karena Erick dia yang mengubahnya"


"semoga mereka berdua selalu bersama"


"amin, terima kasih sudah mengerti cup" Johan mencium bibir Ersya membuatnya melongo tak berkedip.


"apaan sih malu dilihat orang"


"biarin suka-suka mereka saja" mendengar itu Ersya mendesah kesal.


Karin duduk dikursi tunggu dia bersandar kebelakang melihat keatas, dia berusaha mengingat kembali apa yang terjadi diParis kenapa dia bisa membunuh Albert.


Cukup lama dia berkelut dengan fikirannya namun tak juga menemukan titik terang hingga sekelabat bayangan Erick yang ngomel muncul disana.


Karin tersenyum kecil. "aku kangen sekali sama dia" gumamnya sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celana.


Mata Karin melebar begitu dia tahu terdapat puluhan panggilan masuk juga pesan whatshap terpampang dilayar hp. Panggilan dan pesan whatshap itu dari Erick kekasihnya.


Segera dia menelf Erick karena malas membuka pesan.


"hallo Erchan ada apa? Kamu dimana sekarang?" katanya setelah telfnya tersambung.


"akhirnya kamu telfn juga aku cuma kangen kamu saja, aku sekarang dihotel kamu sendiri dimana?"


Karin sangat senang mendengar kata "kangen" dari mulut kekasihnya itu entah kenapa itu semua begitu membahagiakan.


"Erchan aku juga kangen banget sama kamu aku ingin menemuimu"


"kamu dimana? Aku jemput sekarang juga"

__ADS_1


*****


__ADS_2