THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
KETAKUTAN KARIN


__ADS_3

"pewaris apaan, mereka seenaknya datang menemuiku dan bilang aku cucu mereka yang akan mewarisi kekayaan mereka juga, dikira aku miskin kali asal kalian tahu saja hartaku tak akan habis tujuh turunan huuh"


Karin terus ngedumel disetiap perjalanan menuju hotel. Sampainya dihotel dia langsung menceburkan dirinya kebathtub merilekskan diri sejenak.


Karin mendongak keatas melihat langit-langit kamar mandi dan bergumam. "kenapa hidupku begitu rumit" gumamnya lalu memejamkan mata.


Erick dalam perjalanan menuju Jakarta kini sampai juga dia langsung menuju rumah Karin tanpa menghubungi kekasihnya terlebih dahulu.


Dia begitu terkejut saat melihat beberapa pengawal berada dihalaman rumah yang luas itu.


Ding dong


Dia memberanikan diri menekan bel rumah Karin dengan jantung yang terus bergemuruh. Tak selang berapa lama salah seorang pengawal membuka gerbangnya.


"mau nyari siapa!?" ucapnya tegas dan penuh penekanan membuat orang bergidik ngeri melihatnya.


"bener-bener seorang pengawal sungguhan, pengawal dirumah saja tidak seperti ini" batin Erick saat melihat bodyguard didepannya.


"nyari Karin apa dia ada?" tanyanya dengan mantap.


"bos lagi keluar" jawab pengawal itu singkat.


"boleh nunggu didalam"


"kamu apanya bos"


"kenapa jadi ribet begini sih mau bilang pacar nanti diketawain mau bilang teman terlalu biasa" batin Erick dengan cemberut.


Erick mengambil hpnya disaku celana dan segera mencari nama kekasih disana dan segera menekannya melakukan panggilan.


Hp Karin berdering namun tidak didengar sama sang tuan yang berada dikamar mandi, karena hp itu berada diatas nakas diluar kamar mandi membuat sang penelpon geram juga jengkel.


"busiet nih orang kemana sih" gerutunya lalu dia berahli kenomor Nana karena hanya nomor dua ini yang dia punya.


"hallo Na apa Chibi bersamamu?" tanyanya saat panggilan mulai terhubung.


"ya dia sedang istirahat dikamar" jawabnya pelan.


"baiklah terima kasih"


"sama-sama"


Setelah mematikan telfonnya Erick segera melaju kehotel tempat kekasihnya berada dengan ngebut, dia begitu tak sabar ingin sekali bertemu dengan pacarnya itu memeluknya melepas kangen yang selama ini dia pendam, ditambah lagi saat dia sudah tahu siapa kekasihnya itu sebenarnya hal itu semakin membuat terdorong untuk segera menemuinya saat ini.


Saking ngebutnya jarak rumah Karin kehotel cuma ditempuh kurang lebih lima belas menitan. Dan dia langsung memarkir mobilnya begitu saja dan berlari kedalam.


"astaga aku lupa tanya nomor kamarnya" ucapnya sambil menipuk jidat sendiri lalu berlari keresepsionis hotel.

__ADS_1


"kamar Karin pemilik hotel ini berapa" tanyanya dengan gak sabar.


"kamar paling atas sendiri, ada keperluan apa ya" jawab salah satu resepsionisnya.


"bisnis" teriak Erick dari kejauhan.


Erick berlari menuju lift dan menekan tombol paling atas sendiri tempat sang presdir beristirahat jika selesai beraktivitas.


Begitu sampai dia dikejutkan kembali dan tak bisa berkata apapun mau bertanya juga pada siapa. Karena lantai paling atas cuma memiliki satu lorong dan dua ruangan yang berbeda, satu ruangan khusus sang presdir beristirahat satu lagi dipakai untuk ruang kerja sebuah ruangan bergaya Jepang dengan pintu geser juga coraknya.


Erick menggaruk pipinya yang tidak gatal bingung mau milih yang mana, dia berjalan kedepan mencoba memgeser pintu sebelah kiri dulu, dia begitu senang saat pintu itu tidak dikunci segera dia melangkah masuk memeriksa didalam apakah kekasihnya itu ada disana apa tidak.


Cukup lama Karin berendam di bathtub sampai-sampai hpnya berdering pun tidak kedengaran, dia keluar cuma memakai bhatrobe juga handuk kecil guna mengeringkan rambut dan dengan santainya dia mengambil hpnya yang berada diatas nakas.


Tok tok


Karin sedikit terkejut mendengar suara ketukan pintu dari luar karena selama ini belum pernah ada yang melakukannya sampai berulang kali. Karena penasaran dia segera berjalan menuju pintu melihat siapa yang datang.


"aneh siapa yang berani naik keatas?" katanya sambil terus berjalan kearah pintu.


Begitu pintu terbuka dia langsung dihujani dengan ciuman bertubi-tubi dan berakhir dibibir oleh kekasihnya, Erick menciumnya sambil membawanya berjalan masuk dia terus mengexplor bibir kekasihnya sampai kedalam meneliti satu persatu gigi didalamnya hingga mereka berdua jatuh diatas kasur berukuran king size mewah.


"Erchan tunggu sudah hentikan" teriak Karin.


"enggak!!" ucapnya sambil terus bergerak menyusuri leher pacarnya lalu mengigitnya.


"ini hukuman atas semuanya"


"aku tidak mengerti katakan dengan benar ukh aduh Erchan kau memelukku terlalu erat lepasin sedikit kenapa"


"biarin tak akan kulepas selamanya"


Karin mendesah kesal juga berdecih tak suka lalu membiarkan Erick memeluknya sampai dia puas dulu, Erick sendiri tersenyum senang karena dia menang.


"kenapa tak pernah membalas WA juga telponku" tanya Erick dalam posisi yang sama.


"tadi aku mandi jadi gak dengar kalo WAnya aku memang sengaja biar gak mengganggu perkejaan"


"benarkah"


"kapan aku pernah membohongimu"


Erick melihat wajah Karin dengan cemberut membuat Karin mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya.


"bukannya daridulu kau sudah membohongiku" kata Erick.


"soal apa?" Karin penasaran dibuatnya.

__ADS_1


"soal dibawah aku bisa merasakannya kalo tempat itu datar juga sikembar milikmu ini sangat terasa didadaku begitu kenyal"


Karin terkejut dibuatnya karena memang habis mandi tadi dia belum menggunakan apapun cuma memakai bhatrobe saja.


"Erchan kau" katanya dengan wajah yang merah bagaikan tomat.


"hei disini cuma ada kita berdua kenapa harus malu"


"dasar bodo kamu bisa minggir dari atas badanku nggak sesak Erchan"


"cium dulu baru aku akan pindah"


"masih belum puas kau sudah menciumiku tadi"


"tidak akan pernah puas kalo itu bersamamu Chibiku sayang"


Karin mendesah kesal dengan kelakuan Erick didepannya. Akhirnya dia menuruti Erick melakukannya kembali yang entah berapa lama mereka melakukannya.


"kamu masih berpakaian cowok begitu" tanya Erick saat melihat pacarnya keluar kamar mandi berdandan cowok keren masa kini.


"lha emang kenapa dari dulu aku memang begini" jawab Karin santai.


"apa kamu tidak ada niatan untuk berubah?" tanya Erick lagi.


"enggak, begini enak gak ribet tinggal bawa hp plus dompet kesaku doang" mendengar jawaban dari kekasihnya Erick langsung diam.


"lalu suaramu itu memang begitu apa diubah juga" tanyanya sekali lagi.


"ada alat pengubah suara yang dibentuk menyerupai gigi geraham dan aku membelinya kebetulan sekali gigiku ada yang patah waktu itu habis berantem" jelas Karin.


"dia ini pintarnya kelewatan gak sih" batin Erick.


Erick menarik kekasihnya kedalam pangkuannya membuat Karin memandang kekasihnya itu begitu lekat, sesuai apa yang dia bicarakan sama Johan waktu itu jika Erick sudah mengetahuinya maka dia akan menceritakan semuanya dan dia harus siap dengan keputusannya nanti.


"Erchan aku mmm ada yang ingin kubicarakan" Karin berkata dengan ragu juga gelisah.


Erick memandang pacarnya dengan intens dia menyadari ada kegelisahan juga kebingungan disana. "ada apa? Bicara saja soal apa?" katanya.


"soal kekuranganku" Karin menunduk kedua tangannya mengepal erat diatas lututnya.


Tangan Erick meraih dagu Karin dan mengarahkan kedirinya mereka kini bertatapan tapi Karin menghindarinya.


"kamu lihat kemana? tatap aku dan katakan yang sebenarnya Bi" kata Erick serius kali ini.


"aku takut Erchan aku takut, aku tidak punya siapapun walau aku punya kakak, kakek, nenek, tapi mereka jauh sangat jauh, selama ini Johanlah yang selalu menemaniku siang dan malam selama 24 jam tapi sebentar lagi dia juga akan pergi bersama Ersya, kamu juga akan pergi meninggalkan aku"


*****

__ADS_1


Dukung author dengan like dan komen


__ADS_2