
Karin menunda urusan dirinya pergi ke Amerika dia lebih memilih merawat Johan sampai sembuh baru mengurus masalahnya sendiri.
Bagi dia Johan lebih penting dari apapun dia mengesampingkan semuanya kali ini dan tak pernah absen pergi kekamar Johan dirawat mengecek kondisinya, bahkan kamarnya dilengkapi kamera cctv tersembunyi.
Ersya tunangannya juga Erick tidak pernah menanyakan apapun setelah dikasih penjelasan yang logis oleh Karin. Dan tentu saja pengawasan terhadap keduanya tetap berlanjut.
Salah satu apartemen diJakarta. Fani tidak pernah keluar kamar membuat Felix curiga, dia berjalan mendekat mengetuk pintu kamar Fani tapi tak kunjung ada jawaban dari dalam membuat Felix masuk tanpa permisi melihat keadaannya.
Dia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan tapi tak ada siapapun disana, lalu dia melihat keranjang yang ada hanya sebuah gundukan tertutup sprei dengan rapat.
Felix berjalan menuju gundukan yang tertutup sprei begitu rapat, dia mengerutkan kedua alisnya saat melihat apa yang ada dibalik selimut itu.
"shit!!!" dia berjalan cepat meraih hp yang berada disaku celananya menelfon anak buahnya.
"kalian cari Fani sampai ketemu" teriaknya setelah mematikan telfonnya sepihak dia berlari menuju mobilnya, mengendarainya begitu pelan menyusuri jalanan ibukota Jakarta.
Pandangan matanya menyusuri setiap trotoar, warung, dan jalanan kecil. "dimana kau bikin susah saja, dasar brengsek" umpatnya sembari memukul setir didepannya.
"lebih baik aku kabur saja dari dia daripada bersamanya bisa-bisa aku disiksanya setiap hari, dasar bajingan gila" Kata Fani yang ternyata bersembunyi ditempat parkir apartemen.
Fani yang sedang meriang akibat disiram air sower oleh Felix cuma menggigil dibawah selimut, sedangkan Felix pergi entah kemana tak menghiraukan keadaan Fani.
Akhirnya Fani memutuskan untuk kabur dari apartemen yang disewa Felix selama diJakarta, dia berniat mencari Erick atau mungkin akan pulang keJogja masalahnya dia cuma membawa hp dan tak membawa apapun membuat dia bingung sendiri apalagi dia dalam keadaan masih sakit.
"astaga ya tuhan kenapa aku tak langsung menghubunginya saja" umpatnya dalam diri sendiri.
Fani keluar hanya memakai piyama dan hanya hp yang dia bawa setelah merencanakan kaburnya dia lupa dompetnya karena takut ketahuan.
Dia berjalan pelan keluar apartemen melipat tangan didepan dada sambil menggerutu. Dia terus berjalan tanpa arah dan tujuan dan terus berjalan memegang hpnya.
"bajingan cabul aku akan mengutukmu seumur hidup, yesal aku ikut sama kamu keJakarta yang ada cuma derita yang kudapat" gerutu Fani maratapi nasibnya.
Dia berhenti sebentar bermain pada hpnya berniat menelfon Erick, tapi hp itu tiba-tiba melayang keatas membuat bola mata Fani mengikuti arah hp itu melayang.
Tiga preman Jakarta baru selesai pesta miras berada tepat didepan Fani menunjukan giginya dan mulut yang berbau alkohol menyengat hidung.
"mau apa kalian kembalikan hpku" kata Fani pura-pura berani walau sebenarnya dia sangat takut.
__ADS_1
"aku akan kembalikan hpmu asal kau mau menemaniku gimana" balas sipreman dengan tertawa cekikikan.
"kembalikan hpku dulu baru aku akan temani, sini" Fani mengulurkan tangannya hendak meraih hp yang berada ditangan sipreman.
Tiba-tiba tangan salah satu preman itu menggenggam erat tangan Fani membuatnya terkejut sekaligus menahan sakit.
"jangan jual mahal ikut saja dengan kami" kata sipreman.
"kalo sudah tahu rasanya nanti juga minta nambah hahaha" balas sala satunya.
Fani mengerutkan dahi ketakutan dia mencoba kabur dari mereka bertiga, tapi sayangnya mereka bertiga menguncinya begitu rapat membuat Fani tak bisa apa-apa.
"lepaskan aku minggir kalian" teriak Fani mencoba menendang salah satu diantaranya.
"gak kena sekarang giliran kita ayo ikut dengan kami"
Mereka menyeret Fani secara paksa menuju sebuah gang buntu mendorongnya hingga terbentur tembok.
"sakit" rintih Fani.
Salah satu preman berjalan mendekat tanpa aba-aba dia merobek baju piyama Fani membuat kancingnya berhamburan kemana-mana.
"lepaskan aku, siapa saja tolong aku" teriak Fani sekencang mungkin membuat sipreman tambah geram.
Plak...
Sipreman menampar wajah Fani karena marah lalu menjambak rambut Fani hingga dia kesakitan.
Fani yang ketakutan mencengkram erat bajunya dia sadar tidak mudah berada diJakarta jika tidak ada seorangpun yang dikenal, ditengah ketakutan dia teringat sama Felix pria yang selalu membuatnya marah dan ngomel tanpa sebab, ditengah tangisnya yang ketakutan tanpa disadari dia memanggil nama Felix.
"kumohon datanglah dan tolong aku please" gumamnya berkali-kali badannya mulai gemetaran saat melihat salah satu preman itu berjalan mendekat lagi.
Dia menunduk menggertakkan giginya memalingkan wajahnya begitu tangan sipreman mulai meraih dirinya.
Buak Buak
krak
__ADS_1
Aaaaaaaaa.... teriakan itu semakin membuat Fani memejamkan matanya begitu erat tak ingin melihat apa yang terjadi.
Berlahan dia membuka matanya dia terkejut juga tersenyum begitu pria yang dia kenal mengulurkan tangan kearahnya, tanpa melihat expresi wajahnya Fani menghamburkan dirinya ke pria tersebut, badannya gemetar ketakutan sekaligus menangis histeris sama apa yang sudah dia alami hari ini.
"aku takut, sangat takut aku mau pulang hiks" kata Fani lirih sesengukan didada pria itu.
Dia membalas pelukan Fani lalu membopongnya berjalan menuju mobil, sebelum itu dia memberi aba-aba sama anak buahnya tuk membereskan para preman yang tergeletak ditanah.
Didalam mobil Fani yang masih sakit suhu badannya naik membuat badannya menggigil, Pria itu melajukan mobilnya kesalah satu rumah sakit dengan ngebut begitu mengetahui kondisi Fani.
"cepat periksa dia" kata dia berlari cepat membaringkan Fani dibangker pasien.
"baik tuan" para suster juga dokter segera memeriksa keadaan Fani.
"dia hanya demam biasa akibat berendam terlalu lama, saya akan menuliskan resep obatnya dan diminum secara teratur" ucap sang dokter sambil menulis resep obat untuk Fani.
"berendam!!" batinnya dia teringat sama kejadian waktu dia menguyur Fani dibathup dengan air sower dan meninggalkannya begitu saja.
"apa dia bisa rawat jalan" tanyanya kawatir.
"bisa ini hanya demam biasa setelah minum obat dan istirahat dengan cukup dia akan sembuh" jawab sang dokter menjelaskan.
"terima kasih saya permisi dulu"
Fani segera digendong pulang menuju apartemen setelah menebus obatnya, begitu tiba dia membaringkan Fani pelan menyelimuti badannya lalu berjalan keluar.
Tapi tangan Fani langsung meraihnya membuat Felix terkejut dan melihat kearah Fani.
"jangan pergi tetap disini aku takut bagaimana kalo mereka datang" cerocosnya menggenggam erat tangan Felix setengah sadar.
Felix berjalan mendekat dia membaringkan diri disamping Fani memeluknya menemani dia tidur.
"akan kutemani kau tidur malam ini" ucapnya didekat wajah Fani.
Timbul rasa bersalah dihati Felix saat dia melakukan kekerasan karena hatinya yang kesal dan marah saat melihat Fani tidur disamping Erick karena capek.
Pada dasarnya sekeras apapun hati manusia akan luluh juga sewaktu-waktu oleh sesuatu yang selalu berada disisi kita, karena tanpa kita sadari sesuatu itu akan mengisi hal yang sudah pergi dan berlahan melupakan apa yang sudah terjadi dan tergantung bagaimana cara kita menerima semua itu, atau kembali ke masa lalu dengan keterpurukan!!!
__ADS_1
*****
Terima kasih sudah like juga komennya dukungan anda sangat berarti bagi author 😘🥰🤗