THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
AKU MENUNGGUMU


__ADS_3

"saya juga dirumah sakit Chibi sakit" balas Erick.


"astoghfirlloh, kenapa bareng begini" Evan bicara sambil memegangi dahinya.


"bocil kamu kerja saja disini biar kita yang jaga" sahut Johan yang didengar Evan dari seberang.


"jangan kawatir tuan kami akan menjaga tuan kami dengan baik" balas Nana.


"iya baiklah kalo begitu aku pergi kerja dulu" setelah mematikan telfnya, Erick melihat kearah Karin dan membelai kepalanya, dia mendekatkan wajahnya kearah telinga Karin lalu membisikan sesuatu disana.


"cepatlah bangun aku menunggumu, baby!!" bisiknya ditelinga Karin. setelah itu dia berjalan keluar tapi langkahnya terhenti dan melihat kearah Nana.


"apa kamu seorang dokter juga?" tanyanya sama Nana.


"bisa dibilang begitu tuan, tapi saya tidak terlalu ahli" jawab Nana dengan tersenyum.


"ya bagus, nanti kamu saja yang periksa Chibi aku gak suka orang lain pegang-pegang dia seenaknya" kata Erick dengan sinis, keempat orang yang berada disana cuma tersenyum geli saja.


"oh baiklah tuan saya yang akan memeriksanya nanti"


"ingat ya kamu yang harus lakukan, aku gak tenang kalo tidak memastikan sendiri huh" Erick berjalan keluar sambil bicara membuat semua orang terkekeh bersamaan, setelah Erick gak ada baru mereka semua ketawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya masing-masing.


"astojim dia itu posesif banget sama baby" ucap Billar yang ketawa memegangi perutnya.


"dia itu terlalu cemburu tahu gak sih aduh perutku jadi sakit nih" balas Ersya yang berlutut memegangi perutnya juga.


"wajar sih cemburu tapi kalo berlebihan lucu juga sampai dokter pun dicemburu i" sahut Johan.


"anehnya sampai sekarang dia belum tahu kalo litle itu cewek, itu yang membuatku lucu puuff" Nana memicingkan satu matanya menahan perutnya yang sakit.


"hubungan yang menarik hahaha" kata mereka semua kompak.


"eh tunggu dulu tadi anda bilang apa, cewek!" kata Ersya yang terkejut dengan ucapan Nana.

__ADS_1


"emm gimana ya nanti anda akan tahu sendiri" Nana bicara sambil tersenyum kearah Ersya.


Beberapa jam berlalu dikamar perawatan Karin tampak begitu hening, Ersya tidur dipangkuan Johan, dia sendiri terjaga sambil main hp, Billar nglepos disebelah dengan suara ngoroknya yang menggema diseluruh ruangan, Nana sendiri duduk disamping Karin memastikan keadaannya.


Suara langkah kaki seorang pria yang mengenakan sepatu kulit berkelas menggema disepanjang jalan, langkahnya begitu cepat membuat mantel yang dikenakan kesibak kesana kemari. Pandangan mata yang dingin menatap lurus kedepan, tanpa senyum sedikitpun diwajah yang tampan itu.


"buka pintunya!" printahnya dengan sorot mata yang dingin. Tanpa banyak tanya salah satu diantaranya langsung membuka pintunya.


Pandangan matanya langsung mengedar kepenjuru ruangan saat pintu terbuka, dilihatnya satu persatu penghuni dikamar itu, Nana yang tau kedatangan tuannya langsung berdiri membungkukkan badannya, begitu pula dengan Johan tapi pria itu langsung menggerakkan tangannya supaya dia tidak bergerak karena ada Ersya sedang tidur dipangkuan.


"gimana keadaannya?" tanyanya sama Nana yang berjaga disana.


"sudah stabil tuan tinggal menunggu siuman saja" jawab Nana dengan menundukan kepala.


"hasil tesnya?" tanyanya lagi.


"semua normal tuan" Nana tak berani berkomentar lebih.


"kalo mereka semua tahu kamu sudah lemah begini mereka semua pasti akan mengejekmu lilte" ucapnya lirih dengan tetap memandang adiknya itu.


Dia lalu duduk disamping adiknya memegang erat tangan adiknya itu.


"apa anda akan berada di Indo untuk beberapa hari tuan?" Nana bertanya dengan begitu sopan.


"sepertinya begitu, jarak rumah kesini apa jauh"


"kurang lebih dua puluh menit tuan itu kalo tidak macet"


"Han apa dirumahnya ada kamar tamu" kini dia bertanya sama Johan yang duduk disofa.


"semua tersedia disana tuan baby sudah menyiapkan semuanya lengkap" jelas Johan.


"baiklah aku akan tidur dirumahnya saja mobilnya masih ada kan"

__ADS_1


"ada tuan masih diparkiran" jawab Nana.


"hhmmm"


Tangan Karin yang digenggam sang kakak mulai bergerak, kini giliran tangannya yang dipegang oleh Karin bergitu erat, Kiran sang kakak berdiri dia mendekatkan wajahnya kearah wajah adiknya karena melihat gerak bibirnya seolah ingin berbicara.


"Erchan!!" dia langsung terkejut mendengar kata yang keluar dari mulut adiknya dengan lirih tapi jelas.


Senyum kecil menyeruak diujung bibirnya lalu dia kembali duduk.


"begitu sadar kau langsung mancarinya lilte, sebegitu besarkah sukamu sama dia" batin Kiran membelai dahi adiknya.


"jam berapa dia pulang kerja" tanyanya sama Nana.


"sekitar jam 3-4 tuan tapi kalo dia menyelesaikan perkerjaannya dengan cepat bisa juga siang sudah pulang" jawab Nana.


"kabari dia kalo lilte sudah sadar" setelah bicara seperti itu Kiran beranjak dari duduknya hendak berjalan.


"oh comut kau sudah bangun" kata Ersya yang baru bangun sambil mengucek matanya, lalu dia langsung berlari kearah Kiran dan memeluknya begitu saja, Nana juga Johan langsung melongo dibuatnya.


"aaaaa akhirnya kau bangun juga aku kangen sekali ingin main bareng sama kamu dipasar malam" ucap Ersya sambil kegirangan.


"Sya dia bukan baby" ucap Johan memperingatkan. Nana memegangi dahinya dan menunduk.


Kiran sendiri hanya diam saja melihat dia dipeluk Ersya, cuma melihatnya dengan mata dinginnya juga wajah datarnya.


"apaan sih mas Jo jelas-jelas dia ini comut, cowok terimut yang aku kenal" ucap Ersya yang masih belum melepas pelukannya.


"mau kemana? kau baru sembuh tidak boleh kemana-mana lebih baik kau tidur saja di..." Ersya berbicara sambil melihat kearah ranjang tempat Karin tertidur.


Matanya langsung mendelik begitu melihat tubuh Karin masih berada disana.


*****

__ADS_1


__ADS_2