
"hoamm..." Karin bangun dan bingung mendapati dirinya berada diatas ranjang, dia celingukan mencari kakaknya.
"beb, kamu dimana? Bebek!!" ucapnya sedikit keras.
Cklek... seseorang membuka pintu dan berjalan mendekat dengan muka datarnya.
"sudah bangun!!" katanya setelah dekat yang tak lain adalah Kiran.
"ini dimana sih bukannya aku cek in dihotel harusnya aku tidur disana hoam" kata Karin yang masih menguap khas orang tidur.
"masa kamu sudah lupa segalanya"
"lupa segalanya!!?"
Karin terkejut dengan ucapan kakaknya lalu mencoba memikirkan apa yang terjadi kemarin. Setelah beberapa saat berfikir tetap saja dia menemui jalan buntu.
"sudahlah kamu mandi sana sudah ditunggu semuanya tuh dimeja makan, satu lagi kamu dicariin begejel tuh dari kemarin" kata Kiran sambil berjalan pergi tiba-tiba dia menghentikan langkahnya.
"mulai sekarang kamu akan tidur disini soal hotel biar kakak yang gantikan" ucapnya lagi.
"gak mau, temani aku disini beb, ya!" mendengar itu Kiran mengangkat sebelah alisnya.
"bukannya ada dia ya yang nemeni kamu disini"
"itu kan beda ayolah ya kamu disini saja" katanya ngeyel.
"iya baiklah sekarang mandi sana" ucapnya lalu berjalan keluar.
Karin berjalan mengambil handuk dilemari segera dia kekamar mandi membersihkan dirinya dan segera keluar.
Tapi begitu membuka pintu matanya langsung mendelik dan menganga mendapati Erick sudah stain didepan pintu sambil menunjukan giginya yang putih.
"halo Bi selamat pagi, gimana tidurnya nyenyak gak semalam" katanya mengucapkan selamat pagi.
__ADS_1
"tumben banget habis mimpi apa semalem" ketusnya.
"mimpi ketiban bulan Bi" Erick lalu megandeng tangan Karin menuju meja makan.
"bebek bilang katanya kamu mencariku dari kemarin, ada apa?" ucapan Karin membuat Erick menghentikan langkahnya lalu menghadap Karin.
"iya kemarin kamu tidur dipangkuan kakakmu membuatku iri" ketusnya. "Bi jangan hindari aku soal cewek kemarin ya, aku cuma menganggapnya seperti saudara sendiri karena kami berdua besar bersama sama seperti kamu dan kakakmu" ucap Erick seraya berharap.
"kamu kenapa sih aneh sekali kaya takut ditinggal sama pacar saja, sudahlah ayo makan sudah laper banget nih" katanya.
"jadi kamu gak menghindariku kan masih mau bersamaku" kata Erick dengan semringah.
"terserah kaulah mau gimana" balas Karin dengan ketus juga sinis.
Mereka berdua lalu berjalan kemeja makan tanpa bergandengan tangan, Karin duduk ditengah antara Erick juga sang kakak. Terlihat disana Fani juga ada dengan wajah kesalnya.
"makanan apa ini?" tanya Karin sedikit heran melihat berbagai makanan khas Jogja itu.
Kiran mengambil sendok lalu mengambil sedikit makanan yang terbuat dari buah nangka yang masih hijau bernama gudeg itu dan diberikan kepada adiknya.
Erick yang melihatnya pun langsung panas entah setan apa yang berada dibelakangnya saat ini, tanpa sadar dia lanngsung melahap sendok berisi gudeg yang berada didepan mulut Karin tanpa sisa.
Karin yang melihat sikap Erick cuma cemberut melirik tak suka kearahnya. Fani sendiri tambah kesal sekaligus heran melihat sikap Erick.
"rasanya enak Bi mantep rasa rempah-rempahnya" katanya tanpa bersalah.
Pletak lemparan sendok dari Kiran tepat mengenai kepala Erick membuatnya mengadu.
"aduh sakit kak" ucapnya sambil mengelus kepalanya. Kiran hanya berdecih tak suka.
"apa yang kamu lakukan kenapa melempar sendok kekepala mas Erick" teriaknya seketika lalu mengulurkan kedua tangannya mengelus kepala Erick. Hal itu juga membuat panas Karin yang berada disampingnya.
"sudah gak apa kamu makan saja sana" katanya sedikit menghindar.
__ADS_1
"bener gak apa semoga gak ada yang benjol" balasnya sambil tetap menggerakan tangannya mengelus kepala Erick.
"apa kalian sudah selesai, kalo sudah mari makan dan jangan bicara" sahut sang romo membuat mereka semua diam.
Seperti biasa perhatian Erick yang ditunjukan kepada Karin membuat semua memandang heran sama dirinya. Berikut bundanya sendiri wajahnya begitu sedih juga tak kuasa jika melihat anak kandungnya harus suka sesama jenis, Kiran mengetahui sikap bunda Erick namun karena keadaan makan jadi dia tak bisa berbuat sesuatu.
Setelah selesai makan Erick berencana membawa Karin kekamarnya untuk memberikan sesuatu.
"mas Erick kita main yuk kepantai mumpung cuaca lagi cerah" kata Fani yang langsung memeluk lengan Erick didepan Karin.
"kamu kesana sendiri saja sana, oh iya Bi kamu mau gak kepantai parangtritis mumpung disini" balas Erick yang berbicara kearah Karin tanpa mempedulikan Fani.
"males ah daripada jadi baygon" sinis Karin.
"kalo kamu gak mau ya udah aku juga gak mau meles ah panas"
"mas Erick kenapa ngajak dia sih kan aku yang ngajak mas" kata Fani gak suka.
"lha emang kenapa Fan? Gak apa kan ngajak Chibi sekalian daripada berdua, kamu sendiri kenapa masih disini bukannya pulang sana nanti dicariin paman juga tante gimana"
"kenapa sih mas aku kan kangen sama kamu emang gak boleh apa nemenai kamu mas" ucapnya dengan manja.
Karin cemberut melihat semuanya dan berbalik badan ingin pergi dari keduanya. Melihat itu Erick langsung merangkul pundak Karin berjalan pergi.
"aku tinggal dulu ya Fan" ucap Erick sambil mengangkat tangan.
Fani langsung meremas pakaian yang dipakai terlihat diwajah Fani memendam kekesalan yang teramat sangat kepada Karin, hal itu disaksikan secara langsung oleh sang bunda.
Sang bunda berjalan kekamar dengan tatapan sedih dan lesu seolah seluruh tulang-tulang kakinya remuk tak berdaya menghampiri suaminya yang berada disana.
"ada apa bun? Kenapa berwajah sedih begitu?" tanya romo sama istrinya yang mulai mendekat.
"itu romo soal putra" jawabnya dengan lesu.
__ADS_1
******