THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
KEKAWATIRAN BUNDA


__ADS_3

Gadis itu berbalik badan hendak berlari ketika seorang pria meneriaki dirinya tapi Kiran dengan sigap memegang lengan gadis itu supaya tidak kabur.


"lepaskan saya tuan" kata gadis itu meronta berusaha melepaskan diri.


"kembalikan uangnya" kata Kiran datar.


"ja, jangan ikut campur urusan orang, lepaskan saya" gadis itu tetap berusaha melepaskan diri sampai mencoba mengigit tangan Kiran sekuat tenaga.


"jangan mengotori tanganku dengan air liurmu yang basi itu" ucapnya dengan dingin dan semakin mencengkram lengan gadis itu.


"ukh ka, kalo gak mau dikotori cepat lepaskan saya" gadis itu menahan sakit dengan memicing sebelah matanya.


Pria tadi sedah dekat dan mengambil uang yang dibawa gadis tadi dengan kasar.


"dasar kucing pencuri kecil, kau harus diberi pelajaran" teriak pria itu melayangkan tangannya hendak menampar gadis itu. Tat kala gadis itu langsung memejamkan matanya siap menerima tamparan sekaligus rasa sakitnya.


"siapa yang menyuruhmu memukulnya" kata Kiran datar juga dingin.


"pergi!!" nadanya mengancam. Tanpa banyak kata pria itu langsung pergi begitu saja meninggalkan mereka bertiga.


"uangku, kau menghilangkan uangku itu untuk berobat ibu hiks hiks, aku memang mencurinya tapi aku mencurinya dari orang jahat pria tadi itu suka malaki pendagang kecil" teriak gadis itu dengan air mata yang mengalir deras.


Kiran melepaskan tangannya dari lengan gadis itu, raut wajahnya berubah iba kasian melihatnya menangis, lalu dia melihat kearah Sota.


"baiklah aku ganti uang yang tadi tapi berbentuk cek aku tidak bawa uang kes" katanya datar.


"aku tidak mau cek aku mau kes ibu sedang sakit aku mau sekarang hiks hiks"


Kiran mengambil dompetnya lalu mengeluarkan semua isinya dan diberikan kepada gadis itu, uang lembaran merah kurang lebih lima belas itu berada ditangan gadis itu sekarang.


"ini untukmu semua ambillah dan jangan mencuri lagi"


"benarkah!!" ucap gadis itu dengan kagum.


"siapa namamu?" tanya Kiran.

__ADS_1


"panggil saja Mimin, terima kasih" dia langsung berlari denga gesit menjauh dari Kiran juga Sota.


"cari tahu data pribadinya secara rinci" printah Kiran sama Sota.


"baik tuan, sepertinya anda tertarik padanya tuan" jawab Sota dengan menunduk juga tersenyum.


"sepertinya begitu" jawabnya dengan pandangan lurus kedepan.


"gadis kecil yang lincah" batin Kiran melihat Mimin yang menghilang dibalik kerumunan.


Dibangsal kraton Karin tetap pada tempatnya menunggu sikakak sambil berkerja didepan laptop, Ersya tidur dibahu Johan dan Erick memperhatikan layar laptop yang berada didepan Karin.


"Erchan tidak adakah kamar tamu untuk mereka berdua?" tanya Karin tanpa melihat orang yang dituju.


Erick memperhatikan Ersya juga Johan. "ada, memang mereka sudah menikah ya?" kata Erick balik bertanya.


"sudah!!" mendengar jawaban Karin Ersya yang tadinya terlihat tidur langsung berteriak sekencang mungkin. "beluuuum!!!" teriaknya menggema diseluruh ruangan membuat ketiganya spontan memandang Ersya dengan heran.


"litle kamu jangan ngomong yang aneh-aneh hoam" katanya sambil mengucek mata.


"kamu kalo masih ngantuk tidur saja Sya" kata Johan.


Erick menggerakkan jari supaya pelayan yang berdiri tak jauh darinya mendekat.


"iya den ada yang perlu dibantu" tanyanya dengan sopan.


"siapkan kamar tamu untuk mereka istirahat juga makan siang" tintahnya dan segera dilaksanakan sama sipelayan.


"Bi kamu gak capek apa daritadi didepan laptop mulu, makan dulu yuk sudah siang nih" ajak Erick.


"sebentar lagi selesai, lagipula bebekku juga belum datang"


"kan bisa yusul Bi"


"aku masih belum laper aku mau menunggunya saja"

__ADS_1


Kruuuyuuuuk kruuuyuuuk... suara perut Karin berbunyi membuat Karin tak kuasa untuk tertawa kecut kearah lain.


"cacing diperutmu meronta minta jatah Bi" ucap Erick melihat perut Karin.


"hahaha sepertinya begitu apa ada manisan buat cacingku yang sudah meronta ini"


"gak ada manisan langsung makan sekalian lagipula aku juga laper Bi, mereka juga laper mestinya sudah ayo semua makan dulu" Erick meraih laptop yang berada didepan Karin lalu mematikannya. Setelah itu menggandeng tangannya berjalan kemeja makan bersama.


"sudah jangan sungkan kalian makan saja" kata Erick mempersilakan dijawab anggukan oleh semuanya.


Kedua orang tua Erick lewat dan memperhatikan gelagat sikap anaknya yang berbeda. Beda bersama Kiran yang dibawanya kemarin dia nampak biasa saja, tapi dihadapan mereka saat ini anaknya begitu perhatian sama Karin bahkan sampai berbagi sendok segala, tersenyum hangat seolah tidak ada yang terjadi padahal tadi Karin mengatakan kata-kata yang pedas juga menyakitkan, sorot mata Erick juga sangat beda yang dia tunjukan adalah sorot mata orang yang sedang kasmaran (jatuh cinta).


Tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiri Johan membisikan sesuatu padanya, Johan hanya mengangguk lalu berdiri dari tempat duduknya.


"mas Jo mau kemana?" tanya Ersya.


"sebentar Sya ada perlu sedikit" ucapnya setelah itu berjalan mengikuti pelayan tadi.


"hmm" ucap Ersya sambil mengangguk.


Tepat disebuah ruangan lain dengan ukiran yang khas Johan berdiri dia dipersilahkan masuk sama sang pelayan dengan sopan.


"silakan duduk le, maaf mengganggumu makan siangmu" ucap romo yang sudah menunggunya.


"ada yang ingin kami bicarakan" kata bunda bergantian.


"apa ini menyangkut mereka berdua" kata Johan yang tahu inti pembicaraan. "tidak ada yang bisa saya jelaskan tuan dan nyonya karena sepertinya anda berdua sudah tahu" lanjutnya.


"jadi benar! Tapi gak mungkin putra menyukai sesama jenis romo bunda gak setuju" kata bunda yang resah dan kawatir terhadap anaknya.


"sabar bun kita tunggu penjelasan dari putra dulu" kata romo.


"mungkin ucapan saya ini agak mengejutkan bagi anda berdua tuan juga nyonya tapi cuma satu yang belum mereka lakukan" perkataan Johan membuat mereka memandangnya seketika.


"apa itu? Katakan!!" kata mereka berdua serempak.

__ADS_1


"mandi bersama!!!"


*****


__ADS_2