THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
DRAMA PAGI


__ADS_3

"katakan padaku kenapa kamu bersikap seperti itu?" teriak Erick sama Fani didalam mobil.


"gak ada, cuma ingin tahu reaksi Karin saja" ketus Fani.


"kau ingin membuat Karin cemburu, tapi aku tidak suka dengan caramu"


"tapi aku suka, nah sekarang aku laper ayo kita makan"


"aku sudah makan kau makan sendiri saja"


"kalo begitu kita pulang sekarang atau jalan-jalan"


"kita pulang saja sekarang, Felix kita pulang" titahnya sama sang supir.


"baik tuan muda" Felix segera menghidupkan mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang.


"pagi-pagi sudah melihat drama pasutri bertengkar" gerutu Felix dalam hati lalu melirik kebelakang melalui kaca spion diatasnya. terlihat Fani bersandar dibahu Erick sambil senyum-senyum sedangkan Erick cuma memalingkan muka melihat keluar.


Dihotel semua masih terpaku pada adegan yang baru saja terjadi, dimana istri tua mengambil suaminya setelah bermalam bersama istri muda. Walau hati masih kesal juga teriris tapi Karin mencoba mengesampingkan masalah Erick, dia ingin memfokuskan dirinya pada sebuah masalah dia membunuh anak Mateo.


"my angel" panggil Louris sama cucunya sambil tersenyum.


Karin melihat Louris berjalan mendekat sambil tersenyum bersama Fay.


"oh selamat pagi madam Louris dan mr, Fay" sapa Karin.


"sudah kubilang panggil grandma dan grandpa saja"


"sorry lupa madam eh grandma" Karin diam sejenak memperhatikan Fay yang berada dibelakang Louris.


"oh iya tuan Fay kan hadesnya Paris apa dia tahu soal masalah waktu itu ya" batin Karin.


Dilihat oleh cucunya seperti itu dia jadi merasa bingung sendiri. "ada apa?" tanyanya datar.


"aku bosan melihat mukamu huh" ketusnya lalu berjalan pergi.

__ADS_1


"dasar bocah kurang ajar" geramnya sama cucu sendiri.


"sabar sayang sabar" kata Louris mengelus dada suaminya.


Seorang pelayan hotel menghampiri sambil membawa napan berisi dua kopi latte juga teh kearah Karin. Karin segera mengambil dua kopi didepannya satu untuknya dan satu lagi untuk kakeknya.


"kurangi amarah dan minum kopi dulu nih, nanti kalo mati biar tenang" katanya santai membuat Louris tak bisa berkata-kata sama ucapan tajam cucunya karena Karin memang sangat mirip sama suaminya baik sikap maupun bicaranya ketimbang sama papanya sendiri.


"kenapa gak terus terang kau menginginkan kematian orang tua ini"


"aku kan berkata apa adanya" katanya sambil meneguk kopinya hingga tak tersisa.


Fay tambah geram dengan kelakuan cucunya sendiri, dirinya merasa kalo dia berhadapan langsung sama diri sendiri waktu remaja. Fay tidak memungkiri kalo sikap dan nada bicara Karin memang mirip dengannya, dulu dia sering sekali membuat orang tuanya geram dengan kata-kata santainya tapi pedas didengar. Kini dia terkena karmanya sendiri.


Ersya cuma melongo saja jadi pendengar setia berikut serta lainnya. Karin meletakan gelas kosong kenapan kembali, lalu berjalan pergi.


"kau mau kemana? apa gak sarapan bareng kita dulu" kata Louris menahan.


"aku masih ada urusan nanti saja" ucapnya sambil berjalan, tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya lalu berbalik badan membuat Fay juga Louris terkejut.


Karin mendekat kearah Fay kakeknya yang sedang memegang kopi latte. "maaf pak tua kopinya buat aku saja anda bisa memesannya lagi, didapur masih banyak" katanya sambil meraih kopi ditangan sang kakek dan berlalu, sedangkan Fay hanya terkejut dan melongo dengan kelakuan Karin.


"sabar sayang nanti darah tinggi dan asam uratmu kumat" sahut Louris menenangkan suaminya.


Karin menyetir sendiri mobilnya tanpa ada orang disampingnya, sementara Johan, Ersya dan Nana mengikuti dari belakang. Tujuan mereka adalah klinik tempat Key dirawat, tadi pagi Karin mendapat kabar dari dokter Alex kalo Key sudah sadar dan keadaannya juga sudah membaik.


Setelah tiba dan memarkir mobilnya Karin segera berlari menuju ruangan Key dirawat.


Cklek.... Pintu terbuka dan Karin masuk dengan senyum merekah bak mentari pagi.


"hallo" sapanya sambil berjalan mendekat dan duduk didekat Key, disusul oleh tiga lainnya dibelakang.


"oh kakak" balas Key. "terima kasih sudah mau mengobati lukaku kak" lanjutnya.


"justru kakak yang harus berterima kasih berkat kamu kakak selamat"

__ADS_1


"tapi kamu hebat ya bisa tahu dari jarak segitu rinci pula" sahut Ersya.


"mungkin karena sering jalan kaki jadi tahu arah dan jarak hahaha" kata Key.


"rumah kamu dimana?" tanya Karin.


Mendengar itu Key langsung mendelik. "astaga aku harus pulang kak nanti ibu nyariin, pasti aku tidur disini lama" Key hendak mencabut jarum infusnya dan bangkit tapi Karin segera menahannya.


"badanmu masih lemah tahan dulu"


"gak bisa kak Key harus pulang, aku mau rawat jalan saja"


Karin menghela nafas sejenak. "apa kamu gak apa rawat jalan, yakin kuat"


Key mengangguk, "lebih baik aku tidur dirumah daripada disini" katanya tegas.


"baiklah" Karin meraih tangan Key dan melepas jarum infus yang melekat disana dengan pelan.


"Na siapkan obatnya" titahnya tanpa melihat orang yang diajak bicara.


"baik litle" jawabnya lalu segera berlalu menyiapkan apa yang diperlukan Key.


"terima kasih kak, aku bon dulu ya kak" mendengar itu Karin hanya ketawa saja.


"semuanya gratis Key, ayo kuantar kau pulang tapi setelah itu temani kakak makan dan jalan-jalan sebentar ya"


"tapi kak"


"gak usah takut santai saja, ayo" Key masih terpaku dengan ucapan Karin.


"anggap saja rezeki dan gak boleh ditolak" sahut Ersya sambil tersenyum saat melihat wajah ragu Key.


"i, i, iya" katanya menunduk.


"tunggu apalagi ayo jalan kita makan bersama" merekapun berjalan bersama menuju sebuah warung yang berada tidak jauh dari klinik.

__ADS_1


"sebenarnya tadi aku sangat senang sekali saat diajak Erchan jalan-jalan, bukan hanya senang tapi sangat ingin sejak datang kesini hari-hariku bersama dia sangat berkurang, aku ingin sekali selalu bersamanya tapi rasanya agak sulit disituasi yang seperti ini ya" batin Karin tak bersemangat.


*****


__ADS_2