
"apa Karin belum balik juga pak?" tanya Erick sama kepala pelayan rumah Karin.
Karin yang sudah hampir dua minggu tidak pulang dan tidur dihotel menamani juga merawat Johan memang tidak ada yang tahu kecuali dia, Nana juga Johan sendiri.
Dia beralasan pergi keluar kota menemui infestor sekalian mengecek pembangunan cabang hotel miliknya walau kenyataan semua itu cuma bohong belaka.
Erick cemberut menghela nafas sejenak dia meraih hpnya mencoba menelfon kekasihnya berharap untuk kali ini dia akan mengangkat telfonnya.
"hallo Bi akhirnya kamu mengangkat telfonku juga" katanya begitu panggilan itu terhubung memancarkan senyum semringah.
"maaf Erchan baru bisa angkat telfonmu, mungkin besok atau lusa baru bisa balik" balas Karin yang berdiri dikoridor hotel. Seseorang datang menghampiri Karin menundukan kepala setelah dekat dengannya.
Karin yang tahu mematikan telfonnya begitu saja. "ya, ada apa?" katanya melontarkan sebuah pertanyaan sama orang itu.
"maaf tuan, tuan Fay berserta sang istri akan terbang keParis jika anda membutuhkan sesuatu anda bisa menghubungi beliau, beliau siap membantu anda" balas orang itu yang ternyata suruhan dari Fay sendiri.
"kau punya nomor telfon tuanmu?" kata Karin datar.
"tidak punya tuan seluruh awak tuan Fay terhubung sama tangan kanannya saja dan dia akan menyampaikan langsung pada tuan Fay" jelasnya menunduk.
"berikan aku nomornya saja sampaikan itu padanya"
"baik tuan saya permisi" setelah berkata seperti itu dia langsung berlalu pergi meninggalkan Karin yang masih dikoridor.
Karin melihat hpnya dia melihat layarnya sudah beberapa pesan yang masuk berikut beberapa panggilan tak terjawab terpampang disana. Dia menghela nafas sejenak sambil memegangi dahinya menekan nomor Erick sekali lagi.
Untuk kali ini dia bercengkrama cukup lama sama pacarnya, melepas kangennya walau cuma melalui hp tanpa mempedulikan sepasang mata yang mengawasinya dari kejauhan.
Erick merasa lega dirinya sudah bercengkrama panjang lebar bersama Karin pacarnya dia berniat pamit pulang.
Plak...
Buak....
Suara tamparan juga pukilan mengejutkan Erick juga pak Aldo yang mengantar tamunya menuju pintu keluar.
"suara apa itu pak?" tanya Erick heran.
"biasa den anak-anak lagi berantem" jawab pak Aldo santai karena memang suara tamparan itu disebabkan oleh Lina yang menampar Billar.
Billar yang suka mengganggu Lina, dia suka mencuri masakan Lina atau menakut nakuti Lina, akibat dikurung digudang dulu mereka ada yang masih takut termasuk Lina.
"makananku selalu habis kau makan mulu" kesalnya mencengkram kerah baju Billar.
"perutku laper belum makan dari kemarin hahaha" kata Billar memelas.
__ADS_1
"pergi kau jangan mencuri makanan disini beli saja diluar"
"tega kamu Lin mengusirku seperti ini hiks disaat aku kelaparan" Billar berjalan lesu menuju keluar sambil mengeluarkan air mata buaya.
Duk...
Billar yang berjalan menunduk menabrak seseorang yang sedang berdiri membuatnya mengerutkan kedua alisnya.
"siapa yang berdiri didepan mengganggu orang jalan saja" teriak Billar memegangi dahinya.
Dia terkejut saat melihat Erick berdiri tepat didepannya. "kau" katanya pendek.
"kenapa kau disini bukannya bersama Chibi?" tanya Erick sama Billar.
"Baby pergi keluar kota ngurusin bisnisnya terus kenapa?" jawab Billar acuh.
"yang kupertanyakan kenapa kamu dirumah sementara majikanmu diluar kota bukannya kau itu mata-matanya siabang supaya baby aman"
"untuk kali ini dia tidak mau ditemani karena ada Johan juga dia jadi aku gak butuhkan"
"habis manis sepah dibuang hm mencurigakan"
"apa katamu dasar brengsek minta dibaigot mulutmu itu" kata Billar gak terima.
"sebenarnya aku juga bertanya tanya sih kenapa dia ogah ditemani, kenapa aku tidak mengikutinya diam-diam ya? Tapi kalo aku melakukannya bisa hancur nih badanku" gumamnya dalam diri sendiri.
"sudahlah nanti kan juga ketemu kalo sudah jodoh dia gak bakal kemana percaya sama aku" Billar berkata sambil menepuk pundak Erick membuatnya cemberut.
"kenapa aku musingin dia, dia orang hebat aku yakin dia pasti bisa mengatasi masalahnya" batin Erick lalu berjalan pergi hendak pulang.
Setelah melihat Erick sudah pergi Billar menghela nafas lega karena dia tahu Karin berada dimana sebenarnya.
Dia sempat mendatangi Karin dihotel tempat Johan dirawat, dan dia memang disuruh Karin kembali.
"kau bohong ya" ucapan Lina mengagetkan Billar dari belakang.
"apa wajahku terlihat seperti pembohong" balas Billar menunjuk diri sendiri.
"siapa tahu, mulut pria kan tak bisa dipercaya" ketus Lina.
"hei itu bukan termasuk diriku, percayalah diriku sangat jujur"
"jujur kacang ijo atau jujur beras merah" ejek Lina.
"tahu ah menyebalkan" kesal Billar berjalan sambil menghentakkan kakinya kasar.
__ADS_1
Utusan Fay kembali datang dia membawa apa yang dipesan oleh Karin. Dia langsung menghubungi tangan kanan Fay saat Karin meminta nomor telfonnya.
"berikan ini padanya" kata Fay menyodorkan kartu nama sama tangan kanannya.
"mungkin ini awal dari segalanya, semoga kita saling berkomunikasi" batin Fay menaruh dahinya diatas punggung tangan yang berada ditongkat emasnya.
"apa anda baik-baik saja tuan" tanya tangan kanannya yang setia menemaninya kemanapun dia pergi.
"aku tidak apa, pergilah dan berikan itu padanya, hanya itu harapanku satu-satunya"
"baik tuan" jawab tangan kanan Fay.
Pria berbadan sedang tidak kurus juga tidak gemuk memiliki postur tubuh tinggi rata-rata 182 cm, berumur sekitaran 67 tahunan itu sudah mengikuti Fay sejak dia masih remaja dan dialah yang tahu bagaimana kehidupan keluarga Fay.
Dia berjalan keluar menemui bawahannya yang menemui Karin memberikan apa yang dimintanya.
Setelah menerima kartu nama Fay dia berjalan menemui Karin kembali dihotel, kebetulan Karin baru saja keluar dari ruang perawatan Johan mengecek kondisinya berjalan menuju kamarnya sendirian.
"tuan..." panggil utusan itu saat dekat dengan Karin.
"ada apa?" jawab Karin melihat siapa yang memanggilnya.
"Ini permintaan anda" katanya menyodorkan kartu nama milik Fay Karin menerapkan juga melihatnya.
"terima kasih, kamu boleh pergi"
"saya permisi tuan" ucapnya menundukkan kepala lalu berjalan pergi, baru beberapa langkah dia berjalan dia dikejutkan oleh sesuatu yang jatuh kelantai.
Bruk...
Orang itu melihat apa yang jatuh dibelakang dia mendelik saat melihat Karin tergeletak dilantai tak sadarkan diri. Segera dia berlari menghampiri Karin melihat kondisinya.
"tuan anda kenapa?" kata orang itu menepuk pipi Karin.
"dimana kamarnya" teriak orang sama pegawai hotel yang kebetulan lewat, melihat majikannya pingsan pegawai hotel itu ikut berlari menuju kamar Karin yang terletak dilantai atas segera membukakan pintunya.
"cepat hubungi dokter" teriak orang itu lagi.
"tuan punya dokter pribadi sendiri dia tak pernah diperiksa dokter lain selama diIndo" jelas sipegawai hotel lalu berlari keluar berniat menghubungi Nana.
Begitu mendengar Karin pingsan dikoridor Nana berlari menuju kamarnya memeriksanya lebi lanjut, begitu juga orang suruhan Fay dia langsung menghubungi tuanya saat melihat tuan mudanya pingsan menceritakan apa yang terjadi.
*****
Terima kasih sudah like, komen dan yang lainnya dukungan kalian sangat berarti bagi author😘🥰🤗
__ADS_1