Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 100 Pagi yang cerah.


__ADS_3

Malam itu suasana di Gang Si'iran nampak sunyi sepi.


Tidak terlihat lagi lalu lalang kendara'an ataupun orang yang lewat.


Andi duduk manis bersama Jaroni, sambil mengompres lukanya oleh sabetan pisau.


"Wah luka mu ternyata dalam juga den, secepatnya harus segera di obati, takutnya jadi impeksi di dalam, kan tidak tau pisau yang para preman yang kau gunakan itu." Ujar Jaroni.


"Tadi sebelum bikin kopi aku minum dulu anti bioatik yang selalu tersedia di kotak obat P3K." Tukas Andi.


Kemudian Jaroni teringat pada mendiang ayahnya Andi tentang kekuatan yang ada pada kalung Nandi yang mempunyai daya penyembuh yang sangat luar biasa.


"Oh iya den, Paman serasa di ingatkan sama kalung Almarhum ayah nya den Andi, kalung itu punya daya penyembuh yang luar biasa." Celetuk Jaroni.


Sontak saja Andi kaget lalu bertanya?


"Masa iya paman, emang Paman bisa lihat sendiri?." Tanya Andi.


"Kalau lihat langsung sih belum, cuma dengar dari Toglo yang menyaksikan begini, kalumg itu di rendam dengan air lalu air rendaman kalumg itu pakai buat basuh luka atau mandi, dengan ijin Allah luka itu langsung sembuh dengan sendirinya." Tukas Jaroni.


"Wah hebat juga ya kalung ayah itu." Ujar Andi pura-pura tidak tahu, padahal kalung itu sekarang sedang melingkar di lehernya yang selalu di tutupi oleh pakaiannya.


Hanya Toglo yang tau kalung itu kini sudah berada pada diri Andi.


"Masa iya sebuah kalung bisa menyembuhkan luka, gua jadi penasaran, akan ku coba nanti." Batin Andi.


"Iya benar den, kalau kamu penasaran coba aja tanya pada Paman Toglo, lalu kalung itu kemana ya, sampai tidak terdengar kabarnya." Tukas Jaroni.


"Gak tau Paman, mungkin kalung itu pergi bersama ayah kali." Timpal Andi menutupi.


"Iya kali karena setiap benda bertuah biasanya suka begitu, kadang menghilang tanpak jejak." Timpal Jaroni.


"Iya bisa jadi begitu Paman." Ujar Andi sembari meminum kopinya yang hampir sedikit lagi.


"Oh iya Paman, berhubung ini malam sudah sangat larut, ku mau istirahat dulu ya, dan Paman istirahat saja." Pamit Andi.


"Iya den silahkan." Jawab Jaroni.


Andi lalu beranjak bangkit dari tempat duduknya, berjalan memasuki kedalam rumah.


Setiba di kamarnya, Andi langsung mengambil handuk, lalu berjalan keluar menuju kamar mandi.


Setelah Andi berada di dalam kamar mandi, Andi melepaskan pakaiannya, lalu menatap pada kalung yang melingkar di lehernya sembari di pegang Batu giok gantungan kalung tersebut.


"Ya Allah, aku percaya pada kekuatanmu, jika kalung ini bisa menyembuhkan luka di tanganku, aku mohon melalui perantara kalung ini, luka ku bisa sembuh. Bismilah hirohman nirohim." Batin Andi sambil mengeluarkan kalungnya.


Lalu Andi membuka keran air, dan kalung itu di simpan di dalam ember yang sudah terisi air. Setengah, kemudian Andi mencampurkannya dengan air hangat, dengan membuka keran warna merah.

__ADS_1


Setelah itu Andi merendamkan tangannya di dalam ember yang sudah terisi air bersama kalung tersebut.


Sepuluh menit sudah tangan Andi direndam didalam air, lalu di elap pakai kain bersih, nampak luka yang masih membekas yang lumayan dalam, setelah itu Andi menutup lukanya dengan kain perbal.


Kemudian Andi mengambil lagi kalungnya dan di lingkarkan lagi di lehernya, lalu di tutup pakai kaos yang menutupi leher.


Andi keluar dari kamar mandi dengan jalan pelan, supaya ibuknya tidak mengetahui bahwa dirinya sedang terluka.


Setelah Andi berada di dalam kamarnya, ia pun langsung merebahkan badannya di atas kasur empuk dan di tutupi oleh selimut tebal.


Beberapa menit kemudian Andi nampak sudah tertidur dengan pulasnya.


Dan tangan yang telah di lilit oleh kain perbal di letakan agak jauh dari tubuhnya.


Ke esokan harinya.


Ketika suara adzan subuh berkumandang Andi mulai menggerakan badannya.


Perlahan membuka kedua netranya.


Lalu Andi beranjak bangun dari tempat tidurnya, sambil menggeliat, sampai-sampai tangannya yang terluka terpentok sandaran tempat tidur.


Andi terbelalak kaget, lalu menarik tangan kanannya yang telah di bungkus kain kasa itu.


"Ko gua tidak merasakan sakit waktu tangan ini kepentok." Batin Andi keheranan.


Setelah itu, Andi sampai membulatkan kedua bola matanya, se olah-olah tidak percaya dengan apa yang terjadi pada lukanya itu.


"Masa Allah, Alhamdulilah ya Allah. Terima kasih ya Allah atas kuasamu akhirnya luka ku sembuh tidak berbekas." Ucap Andi sambil mengangkatkan kedua tangan di depan muka.


Tidak ada yang tidak mungkin bila Tuhan sudah berkehendak semua nya akan menjadi mungkin, seperti yang telah di alami oleh Andi.


Kemudian Andi segera keluar dan membuang kain bekas membungkus lukanya itu pada tong sampah yang ada ada di luar gerbang.


Kemudian Andi menoleh ke arah pos, nampak Jaroni lagi tertidur pulas.


"Kasihan Paman Jaroni, tidurnya pulas banget, sepertinya ke lelahan, ya sudah aku tidak berani membangunkannya." Batin Andi.


Kemudian Andi pun langsung menuju Masjid untuk melaksanakan solat subuh berjama'ah.


Sepulang dari Masjid nampak Sindi sudah sibuk di dapur memasak yang di bantu oleh Anggita, guna menyiapakan sarapan pagi.


Pukul 05:30 menit.


Andi sudah mengenakan pakaian olah raga.


"Mau kemana kamu?." Tanya Sindi.

__ADS_1


"Biasa Buk mau olah raga' biar badan ini tidak kaku." Jawab Andi.


"Ibuk pun pingin sekali berolah raga' sudah lama ibuk tidak pernah olah raga semenjak kepulangan ayahmu, rasanya badan ini sering pegel-pegel." Tukas Sindi.


"Iya itu karena aliran darah di dalam tubuh kurang lancar Buk, akibat kurangnya keluar keringat, ayo Buk kita lari pagi." Ajak Andi.


"Tapi Gimana, ibuk lagi masak tanggung, ya sudah kamu duluan aja." Timpal Sindi.


"Baiklah, kalau begitu ku duluan ya Buk." Ujar Andi.


"Iya." Jawab Sindi singkat.


Andi lalu melangkah keluar, setiba luar rumah Andi langsung menuju kandangnya si Gery.


"Ayo Gery kita berolah raga mengencangkan otot-otot yang kaku." Ajak Andi.


Si Gery pun langsung berdiri dengan suara gonggongannya yang membuat Jaroni terbangun.


Jaroni sampai terperanjat mendengar suara si Gery di kira ada bahaya, ketika melihat ke arah kandang si Gery Jaroni cuma bengong sambil bergumam.


"Di kira ada bahaya, iih taunya sudah pagi." Gumam Jaroni.


Andi pun lalu melangkah menuju pos tempat Jaroni berjaga, yang di ikuti oleh si Gery.


"Eh Paman, sudah bangun rupanya, ma'af Paman aku mengganggu, mau ambil kunci gerbang." Ujar Andi.


"Ya sudah biarin Paman bukain." Tukas Jaroni sambil melangkah turun dari bangku kayu yang sekaligus tempat tidurnya.


Ceklek


Ceklek


Suara kunci di buka.


"Terima kasih Paman." Ujar Andi.


"Iya den sama-sama." Jawab jaroni.


Kemudian Andi bersama si Gery langsung lari-lari di suasana pagi yang nampak cerah.


Langitpun nampak terlihat bersih, awan putih yang begumpal telah menghiasi langit.


Hembusan angin bertiup dari pegunungan, terasa sejuk bersama kabut yang masih menyelimuti perbukitan dan gunung di selatan Gang Si'iran.


Andi yang masih berlari yang di ikuti oleh si Gery, menjadi sebuah pemandangan dari ibuk-ibuk yang lagi berjalan untuk belanja sayuran.


"Wah nak Andi bersama si Gery nampak lucu ya." Gerutu salah satu Ibuk-ibuk.

__ADS_1


"Iya benar, binatangpun bisa nurut ya sama nak Andi." Balasnya.


__ADS_2