Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 24 Mencari Jejak.


__ADS_3

Pukul 18:30 menit


Para warga Gang Si'iran sudah mulai memenuhi rumah dan halaman rumahnya Nandi Almarhum, untuk mendorong doa dengan mengaji dan baca-baca surat-surat pendek sebisa dan semampunya.


Andi dan Anggita yang berada di dalam bersama pak Dirman, Buk sari, Buk Suminar, Astuti, kamal beserta para Sahabatnya Nandi, mendorong doa atas kepergiannya Nandi menghadap ilahi, dan meminta petunjuk pada sang kholiq atas hilangnya Sindi semoga cepat di ketemukan.


Satu minggu kemudian.


Selepas acara tujuh harinya Almarhum Nandi.


Andi yang di temani sama Gery pergi tanpak memberi tahu tahu pada kakaknya, ataupun neneknya akan kemana Andi, cuma ia bilang akan main ke tempat temannya, bermodalkan motor Rx king peninggalan Almarhum Ayahnya, dengan pakaian Jaket levis dan celana jens itu semua peninggalan ayahnya, cuma bedanya Andi lebih sering pakai topi.


Kini Andi memburu pada motornya yang terparkir di halaman, setelah itu ia pun langsung menyalakan motornya, dan Si gery sudah duduk sambil memandang keatas pada sang majikan.


"Ayo Gery kita pergi main, kali ini kamu tidak usah lagi berjalan, kamu ikut saja naik ke atas jok di belakangku, tapi ingat kamu harus jaga jarak, jangan sampai menyentuh bagian tubuhku ya." Ujar Andi.


Si Gery cuma menggonggong, dengan kedua netranya memandang seperti tidak bersahabat.


Lalu Andi melangkah naik ke atas motor.


"Ayo cepetan kamu naik di jok belakang Gery." Ajak Andi.


Tapi si Gery tetap duduk sambil mengonggong, seperti enggan menuruti Pada perintah Andi.


"Eh kenapa kamu tidak mau Gery?." Tanya Andi.


"Oh ya sudah, kalau memang kamu pinginnya jalan, oke nanti kita adu lari, siapa yang paling cepat, kalau kamu bisa menandingi larinya Rx king ini, berarti kamu sudah jago." Lanjut Andi berkata pada si Gery.


Kemudian Andi langsung melajukan motornya keluar dari halaman rumah, si Gery mengikutinya dari belakang.


Kini motor Yamaha Rx king cobra sudah melaju menelusuri jalan Gang Si'iran.


"Ibuk tunggulah, aku akan mencari Ibuk, walaupun kelubang semut sekalipun." Gumam Andi dalam hati.


Bermodalkan tegad yang membaja dan sebuah dendam yang kini bergejolak di hati Andi, ingin membalaskan rasa sakit yang di alami ayahnya.


"Aku yakin hilangnya ibuk, masih ada sangkut pautnya dengan kecelakaan Ayah." Batin Andi bermonolog sambil tetap pokus pada kemudi kendara'annya.


Setibanya di jalan Delima, Andi menengok Kebawah ke arah si Gery yang nampak terlihat lagi berjalan, Andi tersenyum tipis.


"Ayo Gery kita adu lari." Ujar Andi.


Gok gok gok gok.


Si Gery menjawab dengan semangat, seperti telah siap menerima tantangan Andi.


Preng preng peng peng..


Setelah itu Andi langsung menarik gasnya, motorpun langsung meluncur dengan cepat, si Gery dengan sepontan langsung melompat dan berlari dengan kencang mengejar Andi Nayaka.

__ADS_1


Aksi Andi dan si Gery kini menjadi bahan tontonan orang, banyak kendara'an lain yang melintas di jalur berlawanan arah pada berhenti melihat aksi si Gery yang dengan cepatnya mengejar motor Rx king.


"Widiiih Sungguh luar biasa, itu binatang larinya hampir mengimbangi kecepatan kendara'an." Ujar salah seorang pengendara yang berhenti memberi pujian pada si Gery.


Setelah mencapai puluhan Kilo, tepat di depan Rumah sakit Andi langsung menghentikan motornya dan berkata.


"Kita sudah sampai Gery." Ujar Andi sambil menengok kebelakang.


Nampak si Gery seperti kelelahan, dengan lidahnya menjulur panjang dengan perutnya yang kembung kempis melepaskan napas. Andi tertawa kecil.


"Hehee kamu capek ya, ma'af ya lagian di suruh naik ke jok kamu tidak mau." Ujar Andi.


Kemudian Andi melajukan motornya memasuki area parkiran di rumah sakit, lalu Andi melangkah turun dari motor.


"Kamu tunggu di sini ya, ini kan Rumah Sakit, aku mau masuk kedalam." Ujar Andi berkata pada Si Gery.


Si Gery terdiam dengan kedua matanya memandang melas pada Andi.


Ketika Andi mau melangkah menaiki tangga teras Rumah Sakit, seorang security datang dan menyapa.


"Ma'af mas itu binatang piara'annya jangan di bawa masuk." Tegur sapa security.


Andi pun menoleh ke arah security tersebut dan berkata. "Oh tentu tidak pak, si Gery cuma tunggu di sini saja ko." Jawab Andi.


"Ooh ya sudah."


Lalu Andi melangkah masuk kedalam, langsung menuju ketempat ruang resepsionis.


"Iya mas, ada yang bisa saya bantu." Jawab petugas resepsionis.


"kepala Rumah sakit ini siapa ya, atau yang bertanggung jawab penuh di rumah sakit ini?." Andi bertanya.


"Memangnya ada apa sih mas? Menanyakan kepala Rumah Sakit ini?."


"Perkenalkan Nama saya Andi Nayaka, anak dari almarhum Pak Nandi Suryaman, yang di rawat di sini." Jawab Andi.


Petugas resepsionis saling pandang dengan temannya sambil mengerlingkan pandangannya.


"Ko pada diam sih?." Tanya Andi.


"Ooh iya, sebentar saya coba hubungi dulu Dokter Ridwan, dan mas silahkan tunggu dulu." Jawabnya sambil mempersilahkan pada Andi untuk duduk di kursi yang telah di sediakannya.


Setelah petugas menghubungi Dokter Ridwan, Andi pun kini di panggil kembali.


"Mas Andi."


"Iya Sus." Jawab Andi sambil beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menghampirinya.


"Mas Andi di suruh datang ke ruang Dokter Ridwan, dari sini lurus, terus belok kiri lurus lagi dan belok kanan nah dari situ nanti kelihatan atau tanya saja pada security Ruangan Dokter Ridwan, ada yang mau di tanyakan lagi." Ungkapnya.

__ADS_1


"Sudah cukup Sus, terima kasih ya." Ujar Andi.


"Iya sama-sama Mas."


Singkat cerita.


Andi sudah berada di dalam ruangan Dokter Ridwan, dokterpun sedikit kaget dengan kedatangan anaknya pak Nandi Suryaman.


"Silahkan duduk Nak Andi." Sapa sang Dokter.


Andi lalu menurunkan bokongnya duduk di sopa, lalu berkata.


"Iya Dok terima kasih." Jawab Andi.


"Apa maksud kedatangan Nak Andi ini, masih ada sangkut paut dengan Almarhum Ayahmu?." Tanya sang Dokter.


"Iya Dok, tapi ma'af sebelumnya, bukannya aku tidak percaya pada takdir, dan bukan pula tidak percaya pada kinerja para dokter di rumah sakit ini, cuma ada sedikit kejanggalan dengan kematian ayahku, sewaktu di mandikan wajah, dan kuku-kuku ayah agak membiru, seperti keracunan, secara tidak di sengaja disapu tangan yang ayah biasa dipakai seperti ada bekas muntahan, mungkin waktu itu ayah sempat mengelapnya pake sapu tangan itu, lalu aku ambil dan tercium bau tak sedap, karena ku sekolahnya mengambil jurusan Ipa Kimia, diam-diam ku bawa ke laboratorium untuk di cek, ternyata ada senyawa racun di sapu tangan tersebut, yang mau saya tanyakan, apa mungkin ada kesalahan obat, ataukah ada penyusup yang ingin membinasakan ayah, karena aku tau banyak orang jahat yang mengincar keselamatan ayahku Dok." Ungkap Andi dengan sangt mendetael.


Sontak saja Dokter Ridwan merasa kaget dengan penjelasannya Andi, tidak menyangka apa yang di tutupi oleh pihak rumah sakit akan terguar, Dokterpun bertanya-tanya dalam hatinya kenapa tidak dari pertama saja Andi mempermasalhkan hal itu.


Pikiran Dokter Ridwan menjadi kacau, harus bagaiman menjelaskan kejadian sebenarnya yang menimpa pada pak Nandi.


"Tolong jelaskan Dok, Dokter jangan takut, saya percaya dengan kinerja dan managamen rumah sakit ini sangat baik, kalau pun ada hal lain diluar dugaan dokter, saya segenap keluarga tidak akan menuntut itu, dan sudah saya anggap sebagai takdir." Desak Andi.


Dokter Ridwan menarik napas perlahan, ada sedikit lega di dada.


"Sebelumnya pihak rumah sakit meminta ma'ap, mungkin karena kurang ketatnya perjagaan di setiap pintu, memang benar Nak Andi, Ayahmu keracunan, sepertinya ada penyusup masuk keruangan ayahmu ketika ibukmu keluar untuk membeli makanan, dan menyuntikan racun kedalam botol cairan infus." Tutur Sang Dokter membeberkan masalah yang sebenarnya.


Rasa sesak di dada kini Andi rasakan, kenapa pihak rumah sakit sampai menyembunyikan hal itu.


"Terus kenapa pihak Rumah sakit tidak berterus terang, apa takut di tuntut." Ujar Andi.


Dokter Ridwan selaku kepala di Rumah sakit tersebut, hanya diam dan tertunduk malu, karena sudah berlaku tidak jujur pada keluarga pak Nandi yang sudah me legenda di kota itu karena kebaikannya.


Cukup lama Andi beradu Argumen di ruangan Dokter Ridwan.


Setelah masalah ayahnya, sudah Andi anggap usai, lalu Andi mendatangi pada petugas cctv untuk mencari jejak siapa kiranya yang sudah berbuat jahat pada ayahnya,, dan Ibuknya yang di culik kini masih belum ada kabar beritanya.


Tapi setelah semua cctv di cek hasilnya tetap sama seperti yang di bilang oleh Bibinya (Astuti) dilayar Tv tidak memberikan gambar yang ada cuma gambar gelap.


Selepas itu Andi mendatangi pada pimpinan satpam, untuk mengorek keeterangan barang kali Ibuknya sempat bilang pada security, atau sempat melihat ibuknya keluar.


Pimpinan dari security pun langsung memanggil semua Anggotanya untuk di mintai ke terangan.


Ada titik terang yang andi dapatkan dari satpam yang jaga di pintu keluar.


"Terakhir ku melihat Ibuk Sindi, keluar mau beli makanan, malahan ku sempat bertanya, "Ibuk mau kemana?."


Ibuk Sindi menjawab, "mau beli roti bakar." Katanya. "Karena waktu itu pak Nandi sudah agak membaik dan pingin roti bakar begitu pembicaraan dengan Ibukmu." Tutur Sekurity.

__ADS_1


Setelah Andi mendapatkan titik terang akhirnya ia pun langsung pergi keluar menuju pada si Gery dan motornya yang di parkir di area parkiran.


__ADS_2