Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 68 Berkunjung.


__ADS_3

Selepas kepergiannya Juragan Somad beserta tiga anak buahnya.


Pak Wikarta dan istrinya beserta anak-anaknya terutama Lastri yang sudah tumbuh dewasa.


Sontak saja kaget, atas kedermawannya Andi mau melunasi semua hutang piutangnya yang tidak sedikit bagi pak Wikarta.


"Harus bagaiman saya dan keluarga, membalas budi baikmu anak muda." Ujar Pak Wikarta sambil pasang wajah sedih.


"Bapak tidak usah berpiiran begitu, aku pun iklas menolong Bapak yang lagi kesusahan, mungkin ini juga sudah rijki dari Tuhan untuk Bapak, dari mulai sekarang Bapak jangan pernah meminjam pada rentenir ya." Ujar Andi.


"Iya nak Andi, waktu itu saya terpaksa karena ke pepet untuk berobat istri saya." Tukas pak Wikarta.


"Iya aku pun mengerti, lain kali mending pinjam pada Bank BRI aja, lalu keseharian Bapak aktipitasnya apa?." Tanya Andi.


"Saya hanya bercocok tanam, itu pun menggarap tanah milik pemerintah, ya hanya buat menyambung hidup saja nak Andi." Ujar pak Wikarta.


"Apapun kerja'an kita yang penting halal pak, ngomong-ngomong aku pun tidak bisa berlama-lama di sini, karena aku lagi ada perlu, aku Pamit ya Pak, Buk, Lastri dan adek-adek, semoga bapak sekeluarga sehat-sehat selalu." Ujar Andi sambil bersalaman pada pak Wikarta dan semuanya.


"Terima kasih ya nak Andi, semoga Allah selalu melimpahkan rjki padamu." Ujar pak Wikarta.


"Amiin, terima kasih doanya." Ujar Andi.


"Iya Mas Andi, Lastri pun sangat berterima kasih pada Mas Andi." Ujar Lastri.


"Iya sama-sama." Jawab Andi sambil memburu pada motornya yang terparkir di depan halaman rumah.


Setelah motor di nyalakan Andi pun langsung melaju meninggalkan Pak Wikarta beserta anak istri yang lagi menatap sedih kepergiannya Andi.


Sedihnya karena merasa terharu, akan kebaikan hati Andi yang baru saja di kenalnya.


Tidak lama kemudian Andi telah sampai di tempat yang ia tuju.


Lalu Andi melangkah turun dari motornya, dan berjalan ke arah teras rumah.


Tok


Tok


Tok


"Assalam mu'alaikum." Sapa Andi sambil mengetuk pintu tiga kali.


Rumah nampak sepi, tidak ada yang menjawab salamnya Andi.


"Apa mungkin Bang Jupri kerja lembur kali ya." Batin Andi.


Karena yang punya rumah tidak ada, Andi pun berjalan menuju warung yang biasa dulu ia suka ngopi bareng Jupri.


"Buk enok, Bang Juprinya kemana ya?." Tanya Andi.


Pemilik warung yang bernama enok, terperanjat kaget, lalu ia memalingkan wajahnya ke arah yang memanggil dirinya.

__ADS_1


"Uluuuuh si ganteng, kemana aja kamu kok baru kelihatan." Ujar Buk Enok.


"Iya Buk, aku sibuk kerja, Bang Jupri kemana ya?." Tanya Andi.


"Ooh, Jupri tadi keluar belum lama kok." Ujar Buk Enok.


"Kira-kira lama gak ya." Tukas Andi.


"Kurang tau ya, sambil nunggu Jupri, sebaiknya kamu tunggu aja di sini, biar Ibuk ada pencerahan hati, hehee." Ujar Buk enok genit.


"Pencerahan bagaimana maksud ibuk?." Tanya Andi belum paham.


"Iya pencerahan hati, melihat wajah gantengmu Andi, hihihi." Ujar Buk enok tertawa.


"Ih dasar Ibuk ini ada-ada saja, makanya cepetan nyari pendamping Buk, emang enak jadi jande, ma'af Buk bercanda kok." Ujar Andi tersenyum tipis.


"Iya tidak apa-apa nak Andi, ibuk pun suka bercanda, oh iya mau ngopi gak?." Tanya Buk enok.


"Iya mau dong." Jawab Andi.


"Oke, Ibuk akan bikinin yang special buat si ganteng." Tukas Buk Enok.


Tidak lama kemudian.


Buk Enok datang dengan membawa segelas kopi lalu di turunkan pada meja kecil dekat bangku yang Andi dudukin.


"Ini kopinya nak Andi." Tukas Buk Enok sambil menatap wajah tampan Andi.


"Hadeeehh.. Buk enok pinter juga ya ngegombal." Tukas Andi.


"Bukan gombal nak Andi, tapi beneran." Ujar Buk enok.


"Lalu mau di jadikan pajangan gitu di dalam rumah." Ujar Andi


"Ya iya, kalau di keluarin takut ada rebut." Timpal Buk enok.


"Hahhaha...Buat apa ganteng juga Buk, kalau hatinya jahat." Tukas Andi tertawa sambi meraih gelas kopi dan di seripitnya perlahan.


Ketika Buk Enok dan Andi lagi ngobrol, Munculah motor Supra x 125 memasuki halaman rumahnya


Jupri.


"Itu Jupri baru pulang." Tukas Buk enok.


"Ya sudah Buk biarkan saja, ia mencariku." Ujar Andi.


Sementara Jupri selepas turun dari motornya, ia celingukan seperti mencari sesutu.


"Bukan kah ini motornya Andi, lalu kemana orangnya." Gerutu Jupri sambil lirik sana lirik sini mencari sang pemilik motor Yamaha Rx king tersebut.


Lalu Jupri melangkahkan kakinya menuju warung Buk Enok, hendak menanyakan keberada'annya Andi.

__ADS_1


Begitu sampai di depan Warung, Jupri langsung semringah ketika yang ia carinya ada.


"Andiiii....Sapa Jupri." sambil melangkah mendekat.


Andi lalu beranjak berdiri. "Iya Bang, gimana kabar abang?." Tanya Andi sambil mengulurkan tangannya.


"Alhamdulilah gue baik-baik aja, elo kemana saja sampai bertahun-tahun tidak ada berkunjung ke sini." Jawab Jupri.


"Nanti gua ceritain, oh iya Buk kopiny satu lagi buat Bang Jupri." Ujar Andi.


"Ya sudah kita ngobrolnya di rumah aja." Ajak Jupri.


"Oke, tuh kopinya sekalian bawa." Tukas Andi.


Setelah Buk enok selesai bikin segelas kopi, Jupri pun langsung membawanya ke rumah.


"Buk nanti bayar kalau mau pulang ya." Ujar Andi.


"Siaap ganteng." Jawab Buk Enok sambil tersenyum genit.


Andi pun beranjak pergi dari warung Buk enok, menuju ke rumahnya Jupri.


Setiba di dalam rumah, Andi duduk di sopa berhadapan dengan Jupri.


"Sekali lagi gue tanya, elo kemana saja selama ini, sampai tidak ada kabar berita, malahan si Bos nanyain elo terus.


"Iya Sori bang, waktu itu gua mengikuti sekelompok orang yang gua curigai, yang telah membunuh bokap gua di rumah sakit." Ungkap Andi.


"Lalu gimana lanjutannya?." Tanya Jupri.


"Waktu gua dan si gery mengikuti kelompok geng yang bermarkas di sebuah tempat yang sepi di sebuah bangunan tua.


Singkatnya gua terlibat perkelahian dengan mereka, awalnya gua kalah karena di bokong dengan suntikan obat bius dan gua di sekap oleh ketua Geng." Ungkap Andi.


"Terus?." Tanya Jupri penasaran.


"Satu hari satu malam gua di ikat di sebuah ruangan kecil, akhirnya gua berpikir bagaimana cara untuk melepaskan tali yang mengikat tangan dan kedua kaki gua, setelah itu gua bisa lepas dari ikatan itu, dan gua mendobrak pintu, ketika mendengar jeritan suara wanita yang mirip dengan nyokap gua." Ujar Andi berhenti sejenak sambil minum Kopi yang sudah terasa dingin.


Kemudian Andi pun menceritakan lagi kejadian itu sampai ia berhasil membunuh ketua dari geng tersebut.


"Waktu itu juga, ada enam orang datang ke rumah gue, dan salah satu dari mereka mengaku paman elo." Cetus Jupri.


"Iya itu Paman Kamal, mereka datang tepat waktu, di sa'at gue lagi berduel hidup dan mati dengan ketua Geng yang mau menodai nyokap gua." Jelasnya Andi.


"Setelah itu lo gimana." Tukas Jupri.


"Dua bulan kemudian gua menyerahkan diri pada pihak berwajib, gua di sidang dan di vonis hukuman kurungan penjara." Ungkap Andi.


Jupri yang sudah di anggap sebagaj abangnya oleh Andi merasa terharu juga mendengar kisahnya Andi.


Akhirnya mereka pun ngobrol sambil bersenda gurau, karena lama tidak bersua.

__ADS_1


__ADS_2