
Sinar merah jingga yang menggurat di atas cakrawala sebelah barat, begitu sangat indah sekali penomena alam yang sering terjadi bila hari sudah mendekati senja.
Secangkir kopi dan sebatang roko masih terus menemani Andi, kepulan asap putih yang berhemus keluar dari mulutnya Andi menari-nari di terpa angin senja yang sepoi-sepoi.
Kesendiriannya Andi telah di temani oleh Konta, yang kini lagi melangkah memasuki halaman rumah, berpakaian baju koko dan kepalanya di tutup pakai peci.
"Buset Bang Andi, jam segini masih asik dengan kopi, emang gak ke masjid." Celetuk Konta.
"Ya ke masjid dong, santai aja, adzanpun belum." Sahut Andi.
"Sebentar lagi adzan sih bang." Ujar Konta.
"Ya sudah elo' duluan dek, nanti abang nyusul." Ujar Andi.
"Entar ajalah kita sama-sama." Ujar Konta.
"Ya sudah kalau begitu."
Setelah itu konta pun ikut duduk di bangku, menunggu adzan maghrib berkumandang.
Perlahan sinar merah jingga menghilang di telan hari yang sudah mulai gelap.
Suara adzanpun sudah mulai di perdengarkan di mana-mana.
Andi dan Konta sudah siap-siap untuk berangkat ke masjid untuk melaksanakan ibadah solat maghrib berjama'ah.
Sepulang dari masjid Andi tidak langsung pulang ke rumah, melainkan ikut bersama Konta ke rumah Pamannya yaitu Kamal.
"Assalam mu'alaikum." Sapa Konta dan Andi mengucapkan salam.
"Wa alaikum salam." Terdengar dari dalam menjawab salamnya Andi dan Konta.
Bersama'an dengan itu pintu pun nampak terbuka sedikit, kemudian terbuka melebar, se iring dengan munculnya se orang wanita yang tak lain adalah Astuti ibuk nya Konta, atau Bibinya Andi.
"Andi, tadi kamu kemana, Pamanmu mau masukin mesin ke bengkel, tapi kuncinya tak ada." Ujar Astuti.
"Kuncinya sama Paman Hasan, Bibi bukankah tau." Ujar Andi.
"Bibi gak tau kalau bengkel Castam kan di pegang sama Doni dan Hasan, jadi Bibi gak tau menau." Ujar Astuti.
"Ya susah besok saja, sekarang kan sudah malam, apalagi mesinnya berat, harus ada bantuan porklip atau Tackel." Ujar Andi.
"Memang kamu habis dari mana sih tadi, ibukmu pun gak tau memangnya kamu gak bilang sama ibuk mau kemana."
"Aku habis nganter kak Anggita menghadiri acara ulang tahun teman kuliahnya waktu di singpur, sama ibuk bilang ko, cuma gak bilang ke mana-mananya." Jelas Andi.
"Pantesan ibukmu gak tau, seharusnya kamu itu bilang bila bepergian walau cuma sebentar." Tutur Astuti.
"Iya Bi."
Setelah itu Astuti beranjak dari tempat duduknya, sambil berkata.
"Kamu mau ngopi Andi?." Tanya Astuti.
"Tidak usah repot-repot Bi, kalau mau nanti aku bikin sendiri." Sahut Andi.
__ADS_1
"Bibi tidak merasa repot, maksud Bibi kalau mau ngopi sekalian bibi bikinin, karena Bibi akan menyediakan kopi untuk ayahnya Konta." Jelasnya Astuti.
"Oh ya sudah kalau begitu." Tukas Andi.
Kemudian Astuti melangkah menuju ruang dapur, untuk bikin kopi buat suaminya (Kamal).
Di sa'at Andi dan konta lagi duduk menunggu datangnya segelas kopi, Kamal datang menghampirinya.
"Eeh Andi, abis dari masjid ya." Sapa Kamal.
"Iya Paman, ko Paman tidak berjama'ah di masjid." Ujar Andi.
"Tadi ada kerja'an yang belum paman selesaikan, jadi Paman solatnya di rumah." Ujar Kamal.
"Oh begitu." Tukas Andi.
Kemudian Astuti datang membawa nampan berisikan tiga gelas kopi dan satu gelas teh hangat.
"Nah biar lengkap ngobrolnya di kopian dulu." Ujar Astuti sambil meletakan gelas kopi di meja satu persatu.
"Widiih mantap nih, oh iya Bibi dari tadi aku tidak melihat Kanti, kemana?." Tanya Andi.
"Kan Kanti kuliah, paling sebentar lagi pulang." Ujar Astuti.
"Oh bagus kalau begitu, dan kamu dek Konta kenapa tidak melanjutkan pendidikan seperti dek Kanti?." Tanya Andi pada Konta.
"Untuk sa'at ini aku belum kepikiran untuk melanjutkan pendidikan, intinya belum niatnya aja." Jawab Konta apa adanya.
"Jawabanmu cukup masuk akal juga, ya kalau di hati tidak ada niat, di paksakan juga akan berantakan nantinya." Cetus Andi.
............................
Sementara di tempat lain.
Pemuda yang bernama Brian, dari semenjak ia bertemu dengan wanita yang bernama Anggita Eka Putri.
Brian selalu duduk menyendiri di teras rumah, terkadang mengurung diri di kamar.
Tentu saja sikapnya itu menjadi pertanya'an bagi adik perempuannya yaitu Bela Puspita, yang selalu memperhatikan abangnya itu berbeda dengan biasanya.
Waktu itu tepat pukul 20:30 menit.
Bela berjalan menuju kamarnya Brian, kemudian Bela mengetuk pintu kamarnya Brian yang terkunci dari dalam.
Tok
Tok
Tok
"Bang, bang Brian buka pintunya dong." Panggil Bela.
"Iya sebentar." Jawab Brian dari dalam.
Setelah itu pintu terbuka perlahan bersama'an dengan munculnya sosok Brian dari balik pintu.
__ADS_1
"Ada apa sih dek?." Tanya Brian.
"Boleh aku masuk." Ujar Bela.
"Oh silahkan." Tukas Brian.
Bela pun melangkahkan tungkai kakinya memasuki kamarnya Brian, lalu bela menurunkan bokongnya duduk di tepi ranjang tempat tidur.
"Aku mau nanya pada abang." Ujar Bela.
"Mau tanya apa Bel." Tukas Brian.
"Begini, setelah aku perhati'in, ko Abang sekarang sering menyendiri, ada apa sih Bang, jawab dengan jujur siapa tahu aku bisa bantu cari solusinya." Desak Bela.
"Gak ada apa-apa ko, mungkin perasa'an kamu aja." Jawab Brian.
"Jangan bohong, aku tau ko." Sahut Bela.
"Tau apa lo', jangan sotoy." Ujar Brian.
"Ya taulah, Abang suka kan pada Anggita, ayo jawab, kali ini abang tidak bisa bohongin aku." Paksa Bela.
"Kagaklah." Jawab Brian singkat.
Bela hanya tersenyum tipis mendengar pengakuannya Brian.
"Bener, abang gak menaruh hati pada Anggita." Desak Bela.
"Ya a a nggak." Jawab Brian sedikit ragu.
"Hahaha, Abang-Abang, masalah hati itu harus di ungkapkan, nanti bila Anggita di gaet orang nyesel lhoo." Ujar Bela sembari beranjak dari kamarnya Brian.
Brian hanya terdiam, merenungkan dari perkata'an Bela.
"Ucapan Bela ada benar juga." Batin Brian.
Kemudian Brian beranjak berdiri, lalu ia melangkah keluar dari kamarnya, ingin menemui Bela(adiknya).
"Bel Bela, buka dulu bentar ada yang ingin abang tanyakan padamu." Panggil Brian.
"Besok aja bang, aku ngantuk nih." Jawab Bela.
Tapi Brian tetap keukeuh, sehingga Bela merasa tidak nyaman mau tidur, berisik oleh suara Brian yang terus memanggil.
Dengan agak sedikit kesal Bela bangun dari tempat tidurnya lalu melangkah menghanpiri pintu.
Ceklek..
Suara kunci terbuka, bersama'an dengan begeraknya Handle pintu ke bawah, kemufian Bela menati pintu tersebut.
"Ada sih Bang?." Tanya Bela.
"Boleh kah abang masuk sebentar aja." Ujar Brian.
"Silahkan." Jawab Bela. Sambil melangkah, lalu duduk di pinggiran ranjang tempat tidurnya.
__ADS_1
Brian pun begitu duduk di ujung ranjang tempat tidurnya Bela.