Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 96 Bela sungkawa


__ADS_3

Pukul 18:30 menit.


Andi telah melaju dengan sepeda motornya menyusuri jalan pedesa'an di daerah Gandasoli.


Medan jalan yang gelap dan banyaknya tikungan tajam tidak mempengaruhi dalam melajukan motornya, malahan Andi sangat menyukai medan jalan seperti itu.


Ketika Andi tiba di pertiga'an jalan yang mau memasuki jalan raya yang mengarah ke kota, Andi tersontak ketika melihat se orang bocah berusia sepuluh tahun lagi menangisi se orang lelaki tua yang tergeletak di teras ruko, dan ada beberapa orang yang yang menghampiri bocah tersebut.


Lalu Andi berhenti dan melangkah turun dari motornya, ingin mengetahui apa yang telah terjadi, dan berjalan menghampiri mereka.


"Ada apa ini Pak, kenapa dengan bocah itu?." Tanya Andi.


Lelaki paru baya menautkan pandangannya pada Andi.


"Ada pembunuhan mas, dan anak itu lagi menangisi ayahnya yang sudah tidak bernyawa lagi." Jawabnya


"Innalilahi wa ina ilaihi rojiun, kenapa kalian tidak cepat lapor polisi." Saran Andi.


"Sudah mas, tapi masih juga belum datang." Ujarnya.


"Barang kali bapak-bapak ada yang tau, permasalahan apa smapai terjadi pembunuhan, dan si bapak itu kesehariannya kerja apa?." Tanya Andi.


"Korban namanya Jabrig, biasa di panggil Bang Jabrig, ia kesehariannya di jalan sebagai tukang parkir, kalau masalah nya sih, kita-kita ini gak ada yang tau, yang saya dan Pemilik toko lihat bang Jabrig di tikam oleh dua orang yang mengendarai motor, sepertinya pelaku seorang preman." Jelasnya yang merupakan saalah satu saksi atas penikaman terhadap Jabrig.


Lalu Andi menghampiri bocah tersebut, sambil menurunkan tubuhnya dalam posisi jongkok.


"Ade udah jangan nangis ya, Doakan ayahmu semoga meninggalnya dalam keada'an khusnul khotimah." Ujar Andi.


Bocah itu pun langsung menautkan wajahnya ke atas memandang pada Andi dan berkata.


"Heee hik hik hik, Abang siapa?." Tanya Bocah itu sambik terisak-isak.


"Nama abang Andi, sekarang iklaskan kepergian ayahmu biar tenang menghadap ilahi." Tukas Andi.


"Hik hik hik, semua orang berkata sama seperti abang, mereka tidak merasakan nasibku, ayah adalah satu-satunya tempatku berlindung dan sekarang aku tidak punya siapa-siapa lagi, hiik hik hik." Ratap Bocah itu.


"Kan kamu masih punya ibuk, atau saudara." Timpal Andi.

__ADS_1


"Ibuk ku pergi entah kemana semenjak aku masih umur lima tahun, dan ayah berjuang untuk mencari makan aku sebagai tukang parkir, setelah ayah tiada ku harus sama siapa lagi." Ungkap bocah tersebut.


"Memangnya kamu tidak punya saudara dari ayah mu atau ibukmu gitu?." Tanya Andi.


"Ayah adalah anak satu-satunya dari kakek dan nenek, ya seperti aku sekarang, saudara dari ibuk ada, cuma begitu tidak menganggap aku sebagai saudaranya, mungkin karena aku orang miskin." Jelas si Bocah.


"Itu kan baru prasangka kamu, siapa tau baik." Ujar Andi.


"Aku berkata apa adanya Bang." Tukasnya.


"Kamu yang sabar ya, dan jangan berkecil hati, di negri ini masih ada ko orang yang peduli sama kamu." Ujar Andi sambil mengelus kepalanya di bocah.


"Iya Bang terima kasih, sudah membuat aku lebih semangat lagi untuk hidup." Ujarnya.


"Ya harus dong." Timpal Andi.


Setelah itu polisi datang, dan menanyakan detik kejadian pelaku penusukan itu, pemilik toko dan salah satu tukang ojeg pengkolan yang menjadi saksi atas terjadinya penusukan terhadap Bang Jabrig.


Setelah semua data-data di perolehnya , para aparat krpolisian pun langsung dengan sigap memburu pelaku penudukan terhadap Jabrig.


Sedangkan Jenajah Jabrig, langsung di bawa oleh warga dan Andi untuk di urus sesuai dengan agama yang di anutnya (Islam).


Setelah jenajah Jabrig selesai dikebumikan, sebagian Warga pun sudah pulang karena sudah malam.


Tinggal Andi, Rt dan dan tetangga dekatnya Jabrig yang masih menemani si bocah itu.


"Oh iya, abang brlum tau namamu." Cetus Andi pada si bocah.


"Namaku Ragil Bang, lalu Abang sendiri namanya siapa?." Jawabnya bertanya balik.


"Nama abang, Andi Nayaka, panggil saja Bang Andi." Jawab Andi.


Pak Rt dan tetangga dekatnya Ragil sangat kagum pada kedermawanannya Andi, orang yang baru kenal tapi begitu baik dan berbudi luhur, dan dengan tulus mau merangkul Ragil yang sekarang sudah menjadi anak yatim.


"Saya selaku Rt di sini mewakili warga, sangat berterima kasih sekali pada Pak Andi yang mau merangkul nak Ragil yang sudah sebatang kara." Ujar pak Rt.


"Itu sudah kewajiban kita pak Rt, sesama manusia harus saling tolong menolong, apalagi dek Ragil ini yatim piatu, dan saya merasa terpanggil untuk membiayai hidupnya." Jelas Andi.

__ADS_1


"Selanjutnya, Pak Andi mau nginap dulu apa gimana?." Tanya pak Rt.


"Kalau pak Rt dan warga di sini tidak keberatan, saya akan membawa dek Ragil ke rumah saya." Usul Andi.


"Kami ya setuju-setuju aja, itu tergantung nak Ragilnya." Sahut pak Rt.


"Gimana dek Ragil, kamu mau ikut abang?." Tanya Andi.


Sejenak Ragil terdiam, merenungkan tawaran baiknya Andi.


"Gimana ya bang, untuk sa'at ini aku belum bisa memberi jawaban atas kebaikannya abang." Ujar Ragil.


"Iya gak apa-apa, itu pun hak kamu untuk menentukan hidupmu, kan kamu sendiri yang jalanin, dan ini kartu nama Abang, bila nanti kamu berubah pikiran, kamu bisa datang ke alamat yang tertera di kartu nama itu." Ujar Andi.


Ragil lalu menerima kartu nama yang Andi berikan dan di masukin kedalam saku bajunya.


"Iya bang terima kasih." Ucap Ragil.


"Sama-sama." Jawab Andi.


Malam pun semakin bergeser.


Andi lalu berpamitan pada Rt dan warga untuk krmbali pulang ke kota.


Motor Yamaha Rx king tdlah menyala, Andi menoleh pada Ragil dan Pak Rt yang lagi berdiri di droan pintu.


Tid tidid.


Klakson berbunyi, kemudian Andi menarik gasnya, dan motorpun mulai melaju meninggalkan Ragil dan Pak Rt yang terus memandang Andi sampaii hilang di telan jarak yang semakin jauh.


Sepeda motor yang banyak di minati oleh kamu adam ini melaju dengan cepat di jalan Raya yang mengarah ke pusat kota.


Kepergiannya Andi dari rumah Ragil, telah di ikuti oleh empat orang lelaki bertato dengan rambutnya pirang di cat. Ke empat lelaki bertato itu, sedari pemakaman umum telah mengawasi dari jauh, dengan rasa penasarannya terhadap Andi, siapa Andi sebenarnya.


"Kira-kira siapa pemuda itu, rasanya gue tidak kenal, masa iya temannya si Jabrig." Ujarnya sambil terus memegang kemudi motornya.


"Ya bisa jadi bang."

__ADS_1


"Kita harus tetap waspada, siapa tau dia se orang aparat atau yang mau mengintai keberada'an kital." Ujarnya.


Ke empat lelaki bertato terus saja mengikuti Andi dari jarak yang yudak terlalu jauh.


__ADS_2