
Setelah itu sukmanya Toglo nampak masuk kembali kedalam wadaknya.
Kemudian Jasad Toglo terlihat bergerak kembali, lalu Toglo mengusap wajahnya sambil membaca istigfar.
"Astagfirullah hal adzim." Ucap Toglo.
Setelah itu Toglo beranjak bangkit dari duduknya semula.
Toglo nampak lemas seperti tidak bertenaga, mungkin karena Sukmanya Toglo habis bertarung dengan Raja jin.
Toglo melangkah keluar dari ruangan meditasinya, menuju pada Andi yang lagi duduk menunggu dirinya.
Dengan sedikit lesu tidak bertenaga toglo menurunkan tubuhnya duduk di lantai.
Andi hanya menatap tidak berani bertanya? Sebelum Toglo sendiri yang memulai berkata.
"Sekarang penunggu di bengkelmu itu sudah pergi, insa Allah bengkelmu akan mulai ramai lagi." Celetuk Toglo.
"Mudah-mudahan Paman, sebenarnya siapa yang sudah berlaku jahat padaku Paman, kan kasihan tiga anak buahnya Om gito jadi nganggur." Ujar Andi.
"Nanti juga kamu akan tau sendiri, sekarang kembali lah ke bengkel di jalan ketupat, dengan ijin Allah semua akan baik-baik aja." Ujar Toglo.
"Baik Paman, sekali lagi terima kasih Paman, sudah menolongku." Ujar Andi.
"Paman cuma perantara, yang menolong kamu hanya Allah SWt." Tukas Toglo.
"Maharnya nanti aku kirimkan ke nomor rekening Paman." Ucap Andi.
"Jangan nak Andi, Paman tidak memperjual belikan ilmu, asal kamu tau jasa almarhum ayahmu pun belum bisa paman membalasnya, makanya selagi Paman masih hidup, paman akan selalu melindungi keturunannya Pak Nandi, sesuai pesan beliau waktu mau berangkat ke semarang." Ungkap Toglo.
"Aku jadi gak enak Paman, ya sudah sekali lagi terima kasih." Ujar Andi.
Setelah itu Andi pamit pada Toglo dan Wulan, untuk kembali ke Jalan Ketupat.
Andi langsung menyalakan motornya, kemudian melaju menyusuri Jalan Gang Sawah.
Tidak lama kemudian.
Andi telah tiba, di bengkel Nasi Motor, kemudian Andi melangkah turun dari motor, dan berjalan menuju Pada Gito dan Konta yang nampak masih stay di tempat.
"Assalam mu'alaikum." Sapa Andi mengucapkan salam.
"Wa alaikumsalam." Jawabmya serempak.
Lalu Andi duduk di kursi plastik, berhadapan sama Gito dan Konta..
"Giman An, apa Toglo sudah memberi petunjuk?." Tanya Gito.
__ADS_1
"Alhamdulilah Om, paman Toglo bilang, bengkel kita ini telah di tanami tanah kuburan sama orang, supaya bengkelnya jadi sepi." Jelasnya Andi.
"Oh begitu, berarti orang itu saingan bisnismu An." Ujar Gito.
Betul sekali Paman." Tukas Andi.
"Terus Toglo bilang siapa kiranya yang sudah berlaku dzolim sama kita?." Tanya Gito.
"Paman Toglo tidak menyebutkan orangnya, Paman Toglo cuma bilang, katanya nanti juga aku akan tau sendiri." Jelasnya Andi pada Gito.
"Oh begitu, mungkin pantangannya kali." Ujar Gito.
"Iya Om, Paman Toglo pun bilang begitu." Ujar Andi.
Ketika Andi, Gito dan Konta lagi adik membicarakan masalah tersebut, munculah Astuti.
"Ee'eh Andi kapan datangnya?." Tanya Astuti.
"Pertamanya aku sama dek konta Bibi, cuma aku pulang dulu sebentar." Jawab Andi.
"Kirain gak ada kamu, bibi tadi pesan makanan cuma dua porsi doang, ya sudah nanti bibi akan hubungi lagi jadi tiga porsi." Ujar Astuti
"Gak apa-apa, oh iya ada pak ada pak Rojak, suruh kesini ya Bi, ma'af." Tukas Andi.
"Iya nanti bibi bilangin." Ujar Astuti sambil melangkah kembali lagi ke kantor.
"Selamat siang pak Bos, ada apa? Barusan kata ibuk Astuti, saya di minta menemui pak Bos." Ujar pak Rojak.
"Iya pak Rojak, tolong pesenin kopi tiga, dan ini buat pak Rojak beli roko." Ujar Andi, sambil memberikan uang.
"Kopi hitam ya pak Bos?." Tanya pak Rojak.
"Iya pak." Jawab Andi.
Pak Rojak pun langsung pergi untuk membelikan kopi ke warung yang letaknya di luar pagar panel Distri butor.
Sambil menunggu kopi datang, nampak ada lima motor masuk halaman bengkel.
"Ko bengkel nya sepi sih bang." Bertanya.
"Iya nih lagi sepi pengunjung hampir dua bulan begini terus." Jawab Gito.
"Ko bisa sih bang, padahal bengkel di sini bengkel terbaik, Kinerjanya bagus dan gak penah ngecewain." Ujarnya.
"Ya namanya juga usaha sih bang, ada pasang surutnya." pungkas Andi.
"Betul sekali, ini gue mau service sama ganti oli, dan kampas rem belakang." Ujarnya.
__ADS_1
Setelah itu Gito pun sibuk bekerja yang di bantu oleh Andi dan Konta.
Kini bengkel Nasi Motor sudah mulai ramai lagi oleh pengunjung, Andi dan Konta pun jadi ikut sibuk karena ke tiga karyawan yang biasa membantu Gito untuk sementara di liburkan dulu.
Sementara di lain tempat.
Vina yang kini cuma hidup berdua sama ibuknya, semenjak meninggalnya Pajar Arya wirata, Rosa sering banyak melamun teringat pada almarhum suaminya, semua kesalahan dan dosa rosa yang terkadang suka bentak suaminya bermunculan di ingatan Rosa.
Semabri duduk di teras Rosa memandang pada mobil Honda Brio yang suka di bawa oleh suaminya.
Pukul 12:00
Biasanya Pajar selalu pulang ke rumah untuk makan siang bareng istri tercintanya, kini cuma tinggal kenangan dan bayang-bayangan di ingatannya Rosa.
"Papah ma'afkan mamah ya, yang biasa jam segini papah pulang untuk makan siang kini tinggal kenangan." Batin Rosa sambil terus menatap pada mobil suaminya.
Di sa'at Rosa lagi asik terbawa oleh lamunan, Vina datang menghampiri.
"Mah,, mamah ayo kita makan siang dulu." Pamggil Vina mengajak Rosa untuk makan siang.
Rosa pun tersontak kaget, sambil menautkan pandangannya pada Vina.
"Iih kamu ngagetin aja." Ujar Rosa.
Vina pun lalu menurunkan tubuhnya duduk di kursi rotan.
"Udah mah, mamah jangan banyak melamun dengan kepergiannya papah, mamah doakan papah supaya papah tenang di sana." Ujar Vina mengingatkan pada Rosa.
"Iya Vin, mamah belum sanggup di tinggal papah." ujar Rosa.
"Mamah, sanggup gak sanggup mamah harus terima kenyata'an ini, karena tidak ada seorang pun yang bisa menolak takdir ilahi." Tukas Vina.
"Mamah sudah mencobanya untuk iklas Vin, tapi wajah papahmu terus-terusan muncul dalam bayang-bayang mamah." Ujar Rosa.
"Sekarang aku sarankan pada mamah, coba mamah ikut pengajian bersama ibuk-ibuk di komplek ini, siapa tahu mamah dapat pencerahan jiwa." Usul Vina.
"Iya Vin, mamah juga kepingin tapi mamah malu." Jawab Rosa.
"Mamah jangan malu dengan kebaikan, kan itu buat amal kita nanti."
Sekarang mamah makan ya." Ajak Vina pada Rosa.
Vina terus membujuk Rosa dengan kata-kata yang bijak, agar Rosa mau makan.
Pada akhirnya Vina pun berhasil membujuk mamahnya untuk makan, walau hanya sedikit, tapi Vina sudah merasa senang bahwa Rosa sudah mau makan.
Perlahan-lahan raut wajah Rosa tidak terlalu pucat, sedikit-sedikit nampak ada harapan untuk kembali pada keada'an semula.
__ADS_1