Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 44 Bunga Trotoar.


__ADS_3

Lalu lalang kendara'an di jalan raya, masih terus memadati arus jalan.


Bisingnya suara mesin kendara'an dari berbagai macam jenis kendara'an membuat suasana tambah gersang, apalagi terik panasnya matahari yang kian membakar kulit.


Gunung-gunung yang tadinya hijau berjejer memagari kota tersebut, kini tidak lah nampak ke asriannya, karena pengaruh globalisasi yang kian hari kian memanas, dan ketatnya persaingan bisnis, banyaknya para investor yang mengembangkan modalnya di dunia bisnis property, membuat lahan-lahan para penduduk yang tadinya di jadikan ladang buat menyambung hidupnya harus di jual karena terdesaknya ke butuhan ekonomi.


Setelah kepergiannya Nandi alias si Kidal, dunia jalanan kini di guncang lagi, dengan banyaknya muncul para premanisme, yang banyak meguasai pusat pertokoan, lahan parkir dan pusat keramaian yang selalu ramai di kunjungi oleh kalangan orang-orang dengan berbagai macam kebutuhan, dari situ para preman banyak meraih ke untungan dengan memalak pada setiap pedagang dengan dalih buat ke amanan.


Pasar Delima yang selalu ramai di kunjungi oleh berbagai kalangan masyarakat kecil, dan menengah ke atas, kini di hebohkan oleh para preman yang selalu me mungut upah dengan paksa, itu semua membuat para pedagang kecil menjadi tidak nyaman untuk berjualan, karena besarnya pemungutan pajak oleh para preman.


Andi Nayaka, yang belum lama ini keluar dari penjara, merasa tergugah hatinya untuk membebaskan penderita'an pada masyarakat kecil yang meraih ke untungan tidak seberapa dengan berdagang kecil-kecilan, harus membayar pajak pada sang penguasa pasar tersebut.


Kala itu Andi yang lagi sibuk kerja di bengkel bersama Toglo dan ke tiga anak buahnya, kedatangan se orang pedagang kaki lima yang selalu mangkal di depan pasar Delima.


Sebuah motor beat kini di parkir di depan bengkel, lelaki paruh baya berpakaian sederhana melangkah turun dari kendara'an roda dua miliknya, berjalan menghampiri Andi dan Toglo.


"Assalam mu'alaikum." Sapanya.


"Wa alaikum salam, eeh mang Dadan ada apa mang?." Tanya Andi.


"Ini nak Andi, saya mau service sekalian ganti oli." Ujar mang Dadan.


"Oh ya sudah, Mamang silahkan duduk dulu, olinya mau pakai oli apa mang?." Tanya Andi.


"Biasa setandar Honda saja." Jawab mang Dadan.


"Oke mang." Ujar Andi sambil mendorong motor mang Dadan ke ruangan oprasional, tapi baru saja Andi mau membongkar motor tersebut, Asep datang menghampiri.


"Bos biarin ini kan kerja'an aku, masa Bos harus susah payah mengerjakan hal begini." Ujar Asep.


"Ooh ya sudah mang kalau begitu, silahkan kerjakan yang rapi ya." Ujar Andi.


"Oke Bos."


Lalu Andi melangkah menghampiri mang Dadan yang lagi duduk menunggu.


"Oh iya mang, gimana dagangannya lancar?." Tanya Andi.


"Justru itu nak Andi, saya kesini mau sekalian minta tolong, saya mewakili dari seluruh pedagang kecil di pasar Delima." Ujar mang Dadan.


"Emang ada masalah apa dengan para pedagang di pasar Delima?." Pungkas Toglo memotong pembicara'an.


"Begini, sekarang ini para pedagang kecil seperti saya dan rekan yang lainnya lagi ruwet." Ujarnya.


"Ruwet kenapa mang?." Tanya Toglo.


"Para pedagang yang tadinya aman, nyaman dan bisa mencukupi kebutuhan keluarga, kini banyak mengeluh, semenjak pasar Delima di kuasai oleh Si ladev dan anak buahnya, yang meminta pungutan pajak dari para pedagang dengan paksa, kalau tidak memberi upah pungutan pajak itu, pedagang selalu di ancam, tidak boleh lagi berjualan di situ." Jelasnya mang Dadan.

__ADS_1


"Kurang ajar, ko bisa mereka bikin aturan sendiri, ini tidak boleh di biarkan berlarut-larut." Tukas Toglo.


"Iya benar sekali Paman, dimana mereka bermarkas?." Tanya Andi pada mang Dadan.


"Entahlah, tapi sepertinya mereka bermarkas tidak jauh dari wilayah pasar." Tukas mang Dadan.


"Baiklah besok ku akan ke sana dengan si Gery, sambil melihat seberapa kuatkah mereka." Ujar Andi.


"Paman sarankan, kamu jangan bertindak gegabah melawan para preman itu Andi." Pesan Toglo.


"Tidak Paman, saya akan kabari Abeng, temanku waktu di dalam penjara." Timpal Andi.


"Oke kalau begitu, nanti sore selepas kerja kita ke bukit yang biasa kita sering kesana." Ujar Toglo.


"Oke Paman."


Setelah itu Motor mang Dadan pun telah selesai di Service dan ganti oli.


"Itu Mang Motornya sudah beres." Ujar Asep.


"Oh iya, terima kasih ya."


"Berapa semuanya Nak Andi?." Tanya mang Dadan.


"Sama Paman Toglo aja mang, karena bengkel ini di pegang oleh Paman Toglo." Tunjuk Andi.


"Jadi berapa semua Glo?." Tanya mang Dadan.


"Service sama ganti oli, semuanya Tujuh puluh lima ribu rupiah mang." Jawab Toglo.


Kemudian mang Dadan pun mengeluarkan dompetnya di balik saku celana bagian belakang, lalu di ambilnya uang senilai tujuh puluh lima ribu.


..............


Pukul 16:15 menit.


Toglo pun langsung mengajak pada Andi untuk mendatangi bukit yang berada di sebelah barat Gang Si'iran.


Dengan mengendarai kendara'an roda dua, Toglo dan Andi, akhinya telah sampai di atas bukit tersebut.


Toglo dan Andi lalu melangkah Turun dari atas motornya, kemudian berjalan ke tengah.


"Ayo Andi, sekarang kamu coba dulu semua jurus yang pernah kamu kuasai, paman ingin melihatnya." Ujar Toglo.


"Baik Paman."


Andi lalu melompat ke tengah, dengan bergerak cepat memulai memainkan jurus-jurus ci Mande dari mulai jurus dasar sampai ke tingkatan Jurus jurus yang mematikan.

__ADS_1


Kemudian Toglo melemparkan sepotong kayu pada Andi, dan Andi langsung menangkapnya, kemudian di putarnya potongan kayu tersebut, dalam permainan jurus menggunakan senjata.


Whuuk whuuk whuukk...


Whees whess...


Putaran potongan kayu begitu cepat, sehingga menciptakan hembusan angin yang begitu kencang.


Toglo sampai terkesima dan kagum, melihat permainan jurus-jurus ci mande yang Andi mainkan begitu sangat sempurna sekali, lalu Toglo berteriak.


"Sekarang kolaborasikan antara silat cimande dengan Taekwondo, lalu kamu hiasi dengan pukulan tarung derajat." Teriak Toglo.


"Baik Paman." Balas Andi, sambil melakukan gerakan-gerakan yang sangat memukau dan mematikan.


Ketika hari sudah mulai senja, Toglo pun me minta pada Andi untuk menghentikan latihannya.


................


Ke esokan harinya.


Ketika matahari sudah naik dengan kemiringan tiga puluh derajat, tepatnya sekitar pukul sepuluhan.


Andi mengeluarkan si Gery dari kandangnya, lalu mendorong motornya keluar dari halaman rumah.


Dan setelah itu Andi menyalakan motornya, kini motor melaju meninggalkan Gang Si'iran menuju pasar Delima raya.


Setiba di pasar Delima, Andi berhenti lalu melangkah turun dari motornya, kemudian berjalan memasuki sebuah warung kopi.


"Mang bikinin kopi." Pesan Andi pada pemilik warung kopi tersebut.


"Baik Bos." Ujar sang pemilik warung kopi.


Sambil duduk di bangku, ke dua netra Andi menjelajah ke seluruh penjuru dan peloksok pertokoan dan area parkiran, untuk mengintai targetnya.


Sedangkan si Gery duduk di bawah bangku yang andi dudukin, dengan lidahnya yang menjulur panjang.


Kemudian pemilik warung datang dengan membawakan segelas kopi panas lalu di daratkan di atas meja.


"Ini kopinya Bos."


"Iya mang terima kasih, Oh iya mang, saya dengar di pasar ini banyak sekali sampah." Ujar Andi.


"Ya namanya juga di pasar Bos, pasti banyak sampah itu hal biasa." Ujarnya.


Rupanya pemilik warung kopi itu belum paham dengan perkata'annya Andi.


Andi pun cuma tersenyum tipis, sambil menatap pada bunga-bunga Trotoar yang mulai mekar memancarkan keharumannya.

__ADS_1


__ADS_2