
Ketika Andi dan Pak Rojak mau mendekat pada kedua orang itu, mereka nampak menggerakan tubuhnya bangkit perlahan dan berdiri agak sempoyongan.
Andi dan Pak Rojak melangkah mundur, berdiri menatap pada kedua lelaki berotot itu, sambil berkata.
"Gimana bang mau di lanjut gak?." Tanya Andi.
Kedua lelaki berotot memalingkan wajahnya pada Andi, walau sedikit meringis kesakitan, nampaknya kedua lelaki itu masih ada rasa dendam pada Andi.
"Heh, Andi sekarang gue mengaku kalah, tapi lain kali elo akan gue bikin masuk UGD." Ancam lelaki itu sambil memandang penuh dendam pada Andi.
Andi hanya tersemyum, sambil memiringkan kedua alisnya.
"Ooh takut." Ujar Andi sambil tertawa tipis.
Kedua lelaki itu tidak banyak berkomentar lagi, mereka langsung menaiki sepeda motornya, lalu melaju keluar dari halaman toko.
Kemudian Andi berteriak memanggil kedua orang itu.
"Heh bang, gua belum tau nama kalian siapa? Supaya gua gampang mencarinya." Teriak Andi.
Tapi sepeda motor yang di kemudinya melaju dengan cepat meninggalkan Andi.
"Dasar pengecut lo' badan aja dii gedein." Teriak Andi sambil jingkrak.
Kini hari pun sudah mulai senja, pak Daud yang bertugas menjaga toko dan bengkel Andi yang baru bekerja beberapa hari, telah datang hampir bersama'an dengan keluarnya kedua orang itu.
"Assalam mu'alaikum, wah tumben bos masih ada di sini." Sapa Daud.
"Iya pak, tadi sempat ada sedikit gangguan." Ujar Andi.
"Gangguan apa? Bos." Daud bertanya.
"Ada dua orang gila bikin gara-gara." Jawab Andi.
"Orang gila, perasa'an di sini belum pernah ada orang gila masuk ko, iya gak pak Rojak." Tukas Daud sambil menoleh pada pak Rojak.
Rojak hanya tersenyum tipis, rupanya Daud belum paham yang di maksud oleh Andi.
"Yang barusan keluar dari sini." Ujar Andi.
"Oh itu, mereka tidak gila ko." Tukas Daud.
"Memang pak Daud kenal sama kedua orang yang keluar dari sini barusan?." Tanya Andi.
__ADS_1
"Mereka Si Vedro dan si Vodka, orang Gang Handeuleum." Ujar Daud.
Andi manggut-manggut, seperti ada jawaban dari pertanya'annya yang ia teriakin tadi pada kedua lelaki itu.
Daud masih belum paham, kenapa Andi bilang orang gila pada Vedro dan Vodka.
"Sebentar-sebentar, saya belum paham, memang apa yang telah terjadi di sini tadi, dan kenapa Bos bilang orang gila pada mereka?." Tanya Daud.
Kemudian Andi menceritakan detik-detik kejadian perkelahian antara dirinya dan kedua lelaki berotot itu.
"Oh begitu, Bos harus hati-hati, mereka itu orang rese dan suka bikin gara-gara." Ujar Daud mengingatkan.
"Iya pak terima kasih." Ujar Andi.
Setelah itu Andi langsung pamit pada pak Rojak dan pak Daud, karena hari sebentar lagi akan gelap.
Di senja hari, Andi melaju dengan sepeda motornya di jalan ketupat.
Sinar merah jingga menggurat di atas cakra wala di sebelah barat.
Suasana kota Bandung nampak terlihat begitu ramai oleh lalu lalang orang pejalan kaki dan anak-anak yang bermain sepeda.
Jalanan pun masih terlihat padat oleh berbagai macam kendara'an.
Ketika Andi mau memasuki bunderan play over jalan Delima, nampak dari arah jalan mengkudu dua orang pengendara motor Rx king berteriak memanggil.
Andi pun langsung menoleh pada pusat suara, lalu Andi balik menyapa ke tika yang di lihatnya adalah kedua sahabatnya.
"Erik, Abeng, habis dari mana kalian?." Tanya Andi sambil menghentikan laju sepeda motornya.
Erik dan Abeng pun langsung menyapa dengan salam mengadukan tinjunya pada Andi.
"Kebetulan kita ketemu di sini, kami mau ke rumah lo' An." Ujar Erik.
"Oh gitu, ya sudah." Tukas Andi.
Kemudian ketiga orang yang mengendarai motor Rx king langsung melajukan sepeda motornya di sepanjang Jalan Delima Raya.
Ke tiga sahabat itu melaju dengan santai, karena tidak jauh lagi mereka akan segera sampai ke tempat kediamannya Andi Nayaka.
Sepuluh menit kemudian.
Andi, Erik dan Abeng telah sampai di tempat.
__ADS_1
Kemudian mereka melangkah turun dari motornya, bersama'an dengan itu terdengar suara Adzan berkumandang.
Andi, Erik dan Abeng pun langsung menuju ke masjid untuk melaksanakan ibadah solat maghrib berjama'ah.
Sepulang dari masjid mereka berkumpul sambil menikmati secangkir kopi dan sebatang roko.
Mereka asik ngobrol ngaler ngidul, ke tiga sahabat itu memang tidak bisa di pisahkan, saling dukung dan saling bantu satu sama lain, dalam suka maupun duka.
Abeng dan Andi pertama mereka saling kenal di dalam penjara, berkat Andilah kini Abeng menjadi orang baik.
Dari Andi pula Abeng banyak belajar tentang kehidupan, dan berkat Andi pula kini Abeng lebih banyak mengenal tentang agama.
Abeng yang sebelumnya merupakan penjahat kelas kakap, keluar masuk Bui sudah menjadi seperti jalan ke rumah bagi Abeng.
Mungkin Tuhan telah memberi hidayah pada Abeng melalui tangan Andi.
Karena kalahnya Abeng bertarung di dalam penjara oleh Andi waktu di penjara, dan sudah menjadi tradisi para tahanan siapa yang kuat dialah yang patut di jadikan pimpinan.
Nah dari situlah perlahan-lahan Abeng tertarik dengan kepribadiannya Andi.
Hingga akhirnya Abeng bisa menjadi orang baik, kejahatan yang pernah Abeng lakukan ia bayar dengan berbuat baik pada semua orang, seperti halnya yang lagi di obrolkan Abeng malam ini pada Andi.
"Gua sangat bersyukur bisa kenal sama lo' An, sekarang gua bisa mendekatkan diri pada yang kuasa walau masih ragu apakah semu dosa-dosa gua bisa di ampuni." Cetus Abeng.
"Allah maha pengampun Bang, yang penting kita bertobat dan tidak mengulangi lagi kesalahan yang kedua kalinya." Ujar Andi.
Kemudian Erik pun ikut bicara membenarkan apa kata Andi.
"Iya Bang, lo' jangan merasa begitu, sejahat apapun manusia kalau mau beetobat pasti Allah ampuni." Timpal Erik.
"Ya mudah-mudahan aja, yang gua pikirkan sekarang kan gua punya tato, menurut keterangan yang pernah gua dengar, serajin apapun orang melakukan solat, tidak akan di terima kalau badannya penuh dengan tato." Ungkap Abeng.
"Yang penting kita dudah berniat bertobat, masalah di terima dan enggaknya itu bukan urusan, ustad, kiai atau ualama, pasrahkan aja pada Allah, karena fialah yang mempunyai segalanya." Jelas Andi.
"Iya An, teeima kasih kalian berdua memang sahabat gua yang paling jempol." Ujar Abeng.
"Gua juga manusia biasa Bang, yang tidak lepas dari salah dan lupa." Tukas Andi.
Andi sangat bersyukur dan kagum pada Abeng, yang tadinya seorang penjahat kakap, kini telah kembali pada jalan yang benar.
Lalu Andi berpikir supaya Abeng tidak di hantui oleh rasa was-was dan ragu dalam ibadahnya karena masalah tato yang banyak terlukis ditubuhnya.
"Gua punya teman ahli bikin tato dan menghilangkan tato, dengan sinar laser." Ujar Andi.
__ADS_1
"Iya itu juga gua tau An, tapi biayanya bisa mencapai puluhan juta rupiah." Tukas Abeng.
"Iya gua tau, insa Allah kalau gua ada rijki nanti gua bantu." Ujar Andi.