Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 130 Di Ujung Senja.


__ADS_3

Andi dan si Gery nampak letih sekali, berjalan di area perkebunan teh, yang masih jauh untuk menuju ke jalan raya.


"Gery kita istirahat dulu, badan ini tersa lelah, dan tenggorokan kering, di tambah rasa lapar sudah mulai menyerang nih." TuturAndi sambil menurunkan tubuhnya duduk bersandar pada pohon teh.


Disa'at Andi lagi dalam ke lelahan, nampak tiga orang wanita pegawai perkebunan dengan membawa keranjang berisi pucuk daun teh yang baru di petiknya, berjalan melewati Andi dan si Gery.


"Buk." Sapa Andi.


Lalu ketiga pegawai perkebunan itu berhenti sambil menoleh pada Andi.


"Ada apa, kamu memanggil saya?." Tanya Salah satunya.


"Ma'af buk kalau saya lancang, barang kali ibuk membawa sisa air minum atau makanan, saya beli buk, aku haus banget dan lapar." Jawab Andi.


"memangnya kamu habis dari mana?." Lanjut bertanya.


"Saya habis berjalan jauh dari sana, akhirnya sampai kesasar kewilayah ini." Tukas Andi.


"Apa kamu mau sisa makanan saya dari pagi, ada sih, tidak usah beli, kalau kamu mau." Ujarnya sambil menurunkan tubuhnya posisi jongkok lalu membuka sleting tasnya dan di ambil sebuah bungkusan plastik dan sisa air minum yang tinggal sedikit lagi.


Kemudian kedua rekannya pun ikut memberikan sisa makanannya dan air minumnya pada Andi.


"Bener nih gak mau di bayar Buk." Ujar Andi.


"Iyaaa, alangkah hinanya ibuk bila menjual sisa makanan pada orang yang lagi kelaparan, tapi cuma begini."


"Ih tidak apa-apa Buk, terima kasih ya semoga ibuk bertiga di gampangkan rijkinya, dan apa yang ibuk kasih ke aku, semoga Allah menggantinya yang lebih." Ujar Andi semringah karena masih bisa bertemu dengan orang baik.


"Amiiin, sama-sama, ya sudah ibuk tinggal dulu ya."


"Iya Buk, terima kadih."


Setelah ke tiga pegawai perkebunan itu beranjak pergi dari hadapan Andi.


Andi lalu membuka tiga bungkus sisa nasi dan lauk pauknya.


"Nah ini buat kamu Gery." Ujar Andi memisahkan makanannya untuk si Gery.


Si Gery pun nampak seperti kelaparan, memakan nasi yang di campur adukan dengan sisa lauk pauk beragam jenis.


Sebenarnya si Gery belum pernah di kasih nasi sama Andi, berhubung binatang itu lagi kelaparan.


"Ayo habiskan gery supaya energi kita bisa kumpul lagj, nanti kalau sudah di tempat keramaian gua beliin makanan kesuka'anmu." Ujar Andi sambil menyantap makanannya.


Si Gery tidak bersuara sedikutpun, binatang itu pikus pada makanannya yang lagi di santap.


Dua puluh menit kemudian.

__ADS_1


Setelah terasa terkumpul kembali energinya, Andi mulai bangkit berdiri.


"Ayo Gery kita lanjutkan lagi perjalanan kita, ini hari semakin siang." Ajak Andi.


Gok gok gok


Binatang itu hanya menjawab dengan suara gongongannya, yang kini sudah mulai kembali energinya.


Tidak lama kemudian Andi dan si Gery telah sampai di pinggiran jalan raya, ketika kendara'an yang melaju di jalan agak sepi, Andi dan si Gery berjalan menyebrang menuju pada motornya, yang nampak masih terparkir di pinggiran jalan.


"Alhamdulilah Gery, tunggangan kita msih setia menunggu, ma'af ya kawan kamu harus menunggu terlalu lama." Ucap Andi sambil menepuk jok motor.


Lalu Andi melangkah naik sambil menyalakan motornya.


"Ayo Gery naik." Ajak Andi sambil pasang pembatas supaya si Gery tidak langsung besentuhan dengannya, karena Andi menganut agama muslim.


Preng peeng peng...


Weeenng...


Suara motor yamaha Rx king melaju dengan cepat Terkadang Andi cuma memegang kemudi motor dengan satu tangan, karena tangan kirinya masih terasa sakit akibat luka merobek oleh senjata bintang besi tersebut.


Perjalanan Andi menuju Gang Si'iran masih cukup lumayan jauh, masih banyak jalan yang harus Andi lalui.


Pukul 16:00


Lalu Andi berhenti di depan gerbang Masjid Attaqwa Jalan Delima.


"Kamu tunggu di sini yang Gery, saya akan melaksanakan dulu solat ashar, takut waktunya keburu habis." Ucap Andi melangkah turun dari motor dan menyantolkan plastik pembatas di setang motor.


Andi berjalan memasuki pekarangan Masjid, Lalu masuk ke tempat mengambil air wudhu, walau tangan kirinya kini semakin terasa sakit Andi tetap melaksanakan ibadah solat selaku umat muslim.


Setelah selesai Wudhu Andi masuk kedalam Masjid, untuk me mulai melaksanakan solat.


Lima menit Kemudian


Andi telah keluar dari Masjid, dan berjalan menuju pada motornya yang lagi di jaga sama si Gery.


"Ayo kita pulang Gery, sebentar lagi nyampe." Ucap Andi sambil melangkah naik pada motornya.


Motor pun kini melaju kembali menyusuri sepanjang jalan Delima Raya.


"Gery kita jangan dulu pulang kerumah." Ujar Andi.


Gok gok gok


"Kita ke tempat Paman Toglo dulu di Gang Sawah." Tukas Andi.

__ADS_1


Gok gok gok


"Oke kalau begitu kamu memang sahabat gua yang bisa mengerti dengan ke ada'an."


Setelah mendekati pertiga'an jalan yang mau mengarah ke Gang Si'iran Andi terus lurus.


Setelah melewati pertiga'an jalan, kira-kira Lima ratus meteran, Andi berbelok ke kanan menuju Gang Sawah, jalanan yang tidak terlalu lebar, dengan kondisi jalan yang berbatu, tempat tinggalnya keluarga Toglo.


Ketika Senja telah tiba, Andi sudah tiba di depan rumahnya Toglo.


Andi melangkah turun dari motor, yang di ikuti oleh si Gery langsung melompat turun.


Cahaya merah jingga nampak menggurat di angksa .


Di ujung senja, Andi duduk sambil menikmati suasana senja di Gang sawah, di temani olehToglo dan Wawan.


Kemudian Wulan datang bersama Ali membawakan tiga gelas kopi.


"Ini kopi pelepas senja, biar ngobrolnya tambah seru." Ujar Wulan, sambil mendarat tiga gelas kopi di meja.


"Wah aku jadi ngerepotin Bibi nih." Ujar Andi.


"Tidak ko, Bibi tidak merasa di repotkan, ayo silahkan di minum." Tukas Wulan.


"Iya terima kasih Bibi." Ujar Andi.


"Sama-sama nak Andi." Tukas Wulan.


"Ini Ali kan?." Tanya Andi?." Lanjut Andi bertanya.


Kemudian Ali langsung menjawab pertanya'annya Andi.


"Iya Bang aku Ali." Jawab Ali.


"Wah sudah gede lavi lo', kelas berapa Al?." Tanya Andi pada Ali.


"Baru kelas satu SMP Bang." Jawab Ali.


Lalu Wawan melihat di pangkal lengan kirinya Andi seperti membengkak.


"Itu tanganmu kenapa An?." Tanya Wawan.


Kemudian Andi pun menceritakan kejadian, waktu dilrinya dan si Gery terlibat duel antara hidup dan mati dengan tiga orang pembunuh bayaran yang sudah mencelakai Jaroni yang hampir tewas.


"Jadi kamu sudah menemukan orang yang menyerang Jaroni Waktu itu?." Tanya Toglo.


"Iya Paman." Jawab Andi.

__ADS_1


"Bagaimana caranya An, ko elo bisa dengan mudah menemukan pelaku itu?." Tanya Wawan.


__ADS_2