
Pukul 23:00
Andi telah sampai di depan rumah, tapi Andi langsung terkejut ketika di depan rumahnya nanyak berkumpul saudaranya dan tetangga dekatnya.
Andi langdung keluar membuka pintu mobilnya, begitu pula Rara, Andi masuk melewati pintu gerbang yang terbuka.
"Ada apa ini Paman, Bibi?." Tanya Andi pada Astuti dan Kamal.
"Jaroni." Jawabnya singkat.
"Kenapa dengan Paman Jaroni?." Tanya Andi sedikit panik.
Lalu Andi menoleh pada balik kerumanan orang-orang, bergegas Andi menghampiri mereka.
Nampak terlihat oleh Andi Jaroni yang berlumuran darah dengan banyak luka bacok di sekujur tubuhnya dalam pangkuannya Konta.
"Paman." Teriak Andi sambil menurunkan tubuhnya dalam posisi jongkok.
Lalu Andi menggegam pergelangan tangan kanan Jaroni, yang masih terasa denut nadinya masih berdenyut.
"Ayo kita bawa ke Rumah sakit, Paman jaroni masih hidup." Ujar Andi.
Beramai-ramai orang-orang menggotong tubuh jaroni ke dalam mobil Andi yang masih terparkir diluar.
"Dek konta, Paman Kamal dan Pak Rt ikut ke rumah sakit, sementara yang lainnya saya minta tolong ya jaga dulu ya di sini sebelum aku pulang." Ujar Andi, merasa cemas akan kezelamtan ibuk dan kakaknya.
"Iya nak Andi tenang aja, sekarang cepat bawa jaroni ke Rumah sakit sebelum terlambat." Ucap salah seorang warga Gang Si'iran.
Kemudian Andi pun masuk kedalam mobil, dan Konta duduk di depan di samping Andi, sedangkan Kamal dqn Pqk Rt duduk di belqkqng sambil menjqga tubuh Jaroni yang lagi tidqk sadarkan diri.
Setelah mobil di nyalakan Andi langsung menginjak gasnya, mobil pun melaju dengan cepat menuju Rumah Sakit Harapan.
Baru saja Andi pulang dari Rumah Sakit Harapan kini harus balik lagi ke sana.
Apa sebenarnya yang telah di rencanakan semesta, apa mungkin itu hanya sebuah kebetulan saja, ataukah mungkin sudah menjadi takdir Andi harus bertemu lagi dengan Vina.
Pukul 23:35 menit.
Andi sudah sampai di Rumah sakit di depan pintu masuk yang ke Ruang Unit Gawat Darurat.
Andi keluar dari dalam mobil, dan berlari masuk untuk meminta bantuan pada suster dan para petugas rumah sakit.
"Sus cepetan, pasen korban pembacokan." Lapor Andi.
Suster dan petugas Rumah Sakit langsung dengan sigap membawa Branker menuju pada mobil Andi.
Sedangkan Kamal dan Pak Rt telah siap, setelah Suster datang Kamal dan Pak Rt langsung mengankat tubuhnya jaroni ke atas ranjang besi.
Andi, Kamal dan Pak Rt ikut mrndoring ranjang besi itu menuju ruangan unit gawat daruratuntuk di periksa terlebih dahulu.
__ADS_1
Setibanya di depan pintu ruangan, suster berkata.
"Ma'af ya Bapak, tunggu dulu di luar, biar Dokter memeriksa dulu pasen." Ujar Suster.
"Baik Sus, cepat lakukan yang terbaik sus." Tukas Andi.
"Iya bapak yang tenang ya, pihak Rumah sakit akan melakukan yang terbaik untuk pasennya." Ujar Suster sambil menutup pintu ruangan.
Setelah itu, Andi, Konta, Kamal dan Pak Rt duduk di bangku yang telah di sediakan oleh pihak Rumah Sakit.
Sepuluh menit kemudian
Pintu ruangan nampk terbuka, lalu Andi, Koanta, Kamal dan Pqk Rt langsung beranjak berdiri.
"Bagaimana Dok dengan kondidi Paman saya?." Tanya Andi.
Dokter pun tersenyum lalu berkata.
"Alhamdulilah pasen masih bisa di selamatkan, dan akan di pindahkan ke ruang oprasi karena ada beberpa urat yang terputus, dan bapak siapanya pasen?." Tanya Dokter pada Andi.
"Saya ponakannya Dok, cepat lakukan yang terbaik, agar paman Jaroni bisa selamat, berapapun biayanya saya akan bayar." Ujar Andi.
"Ya sudah, sekarang Bapak silahkan urus dulu masalah Administrasinya di sana, dan bapak harus menanda tangani dulu sebuah surat keputusan sebelum oprasi di lakukan." Tukas Dokter sambil menunjukan telunjuknya ke arah ruangan resepsionis.
"Baik pak." Ucap Andi sambil berjalan kencang menuju ruang resepsionis.
Setelah Andi membereskan semua administrasi, dan menandatangani surat persetujuan oprasi yang biayanya lumayan cukup besar.
"Buk Pitri mau kemana." Panggil Andi.
Karena Sapitri merasa panik tentang kabar jaroni yang ia terima dari warganya, sampai-sampai tidak mengetahui pada Andi yang lagi berjalan berpapasan dengannya.
Sapitri lalu menoleh pada pusat suara yang menyapanya.
"Andi, kebetukan dimana suami ibuk di rawatnya?." Tanya Sapitri.
"Mari ikut aku Buk." Jawab Andi.
"Sebentar, Ibuk mau ke ruang resepsionis dulu." Ujar Sapitri.
"Mau ngapain?." Tanya Andi.
"Mau membereskan Admistrasi nya dulu." Tukas Sapitri.
"Sudah ko Buk sama saya, dan ini surat persetujuan oprasinya sudah saya tanda tangani, dan masalah Admistrasinya sudah saya lunasin semua." Timpal Andi.
"Waduuh terus gimana." Sapitri bingung.
"Tenang aja Buk, ma'af sebelumnya kalau aku sudah mendahului ibuk, tapi kan aku juga merasa bertanggung jawab atas keselamatannya Paman Jaroni." Ujar Andi.
__ADS_1
"Ya sudah nanti ibuk transper ke nomor rekening kamu ya." Ujar Sapitri.
"Sudah jangan dulu memikirkan masalah biaya, yang penting sekarang berdoa untuk keselamtan suami ibuk." Tukas Andi.
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita kesana, aku pingin menemani suami ibuk." Ujar Sapitri.
Setelah itu Andi dan Sapitri langsung bergegas berjalan menuju ruangan tempat Jaroni di oprasi.
Setiba di dalam ruangan Andi dan Sapitri duduk tidak Jauh dari Konta, kamal dan pak Rt.
"Ini gimana kejadian pak Kamal?." Tanya Sapitri gugup.
"Anak saya Buk yang pertama menemui Jaroni bersimpuh darah." Ucap Kamal sambil mengarahkan jempolnya pada Konta.
Lalu Sapitri menaitkan pandangannya pada Konta dan berkata.
"Gimana nak Konta detik-fetik kejadiannya?." Tanya Sapitri.
"Aku pun tidak tau kejadian awalnya, pas aku ke situ berniat mau ngopi sama Bang Andi, Aku melihat ada tiga bayangan berkelebat melompati pagar yang begitu tinggi, pas aku tengok ke sekitar pos yang biasa paman jaroni berjaga, paman Jaroni lagi tergeletak dengan banyak luka sabetan senjata tajam, dan hanya senjata ini yang masih menancap di tubuh paman Jaroni." Jelas Konta sambil memperlihatkan senjata yang terbuat dari logam tipis berbentuk bintang.
"Mana sini dek Abang lihat." Pinta Andi memotong pembicara'an.
Andi melihat senjat itu di bolak balik dengan intens.
"Sudah jelas sekarang, senjata ini biasa di gunakan oleh perguruan aliran Ninja, jelas sekali mereka bukan orang sembarangan yang bisa melumpuhkan paman Jaroni." Ungkap Andi.
Tidak terasa ke dua netra Sapitri nampak berkaca-kaca, dan akhirnya berjatuhan membasahi pakaiannya.
Andi yang merasakan sakit yang lagi di alami oleh Sapitri, ia pun langsung menenangkan Sapitri.
"Ibuk yang sabar ya, biar nanti aku bersama temanku dan pihak polisi akan melacak pelaku yang sudah berbuat kurang ajar pada Paman Jaroni." Ujar Andi.
Kemudian ketika mereka lagi bersedih, munculah petugas medis dari balik pintu ruangan oprasi.
"Ma'af sebelumnya apa? Di antara kalian ada yang bergolongan darah Ab, biasnya dari keluarga pasen suka ada yang cocok, soalnya stock darah yang bergolongan Ab lagi kosong." Ujar petugas medis.
"Saya Ab Dok." Ucap Kamal sambil berdiri.
"Saya juga Ab." Sahut Pak Rt.
"Bagus, ini akan sangat memudahkan pasen bisa melewati masa kritisnya, Sekarang bapak berdua datang ke ruangan donor guna di ambil semple darah, untuk pak Jaroni." Jelas petugas medis.
Lalu Pak Rt dan Kamal beranjak dari tempat duduknya untuk mrnunu ke ruang donor.
Sapitri sangat berterima kasih, atas ke rela'annya Kamal dan pak Rt menyumbangkan darahnya untuk suaminya.
\=\=\=\=\=\=\=\=Bersambung\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya di eps Gejolak Jiwa 2.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya.
Salam sehat sejatera dan sukses selalu.