Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 38 Menebus Dosa 2


__ADS_3

Ketika Andi mendengar ungkapan kejujuran dari kata hati Vina, Andi merasa tidak percaya.


"Suka sebagai teman atau..." Ujar Andi tidak di terusin karena Vina langsung memotongnya.


"Gue suka sama lo' lebih dari sekedar teman." Tukas Vina.


"Kamu tidak sedang bercanda kan Vin?." Tanya Andi.


"Apakah kau menganggap perkta'anku ini sebuah lelucon, sungguh kejam kau An." Tukas Vina merasa kecewa dengan perkata'an Andi.


"Bukan begitu maksud gua Vin, mana mungkin kau suka pada gua, sementara lo' orang kaya, punya segalanya, pasti kedua orang tuamu menginginkan cowo yang sepadan dan sederajat untuk jadi teman hidupmu nanti." Ujar Andi.


"Ini bukan Jaman lagi Siti Nurbaya Andi Nayaka.." Tukas Vina.


"Beneran lo suka sama gua, lalu bagaimana kalau gua nanti di penjara." Ujar Andi.


"Tidak apa-apa, lo di penjara karena bukan pe jahat, melainkan sebagai bakti lo pada orang tua, dan ketika itu lo' gelap mata, hati dan jiwamu yang sudah di kuasai oleh dendam, gue yakin itupun bukan niat dan ke inginanmu untuk membunuh." Timpal Vina.


"Terima kasih Vin, hanya lo' dan keluarga gua yang mengerti posisi gua sa'at ini, jujur aja sebenarnya gua juga suka sama lo', dari semenjak gua kelas dua, secara diam-diam gua suka curi pandangan sama lo'." Ujar Andi.


"Benarkah itu An?." Tanya Vina semringah.


"Suer." Jawab Andi sambil mengangkat ke dua jarinya.


Kini gelembung-gelembung Cinta keluar dari mata dan bibir Vina bertebaran memenuhi dirinya, tidak bisa di bayangkan kini hati Vina merasa bahagia sekali setelah apa yang ia dengar dari mulut nya Andi, bahwa Andipun memendam perasa'an yang sama.


"Terima kasih ya An, sekarang gue merasa lega setelah mendengar jawaban dari lo'." Ujar Vina.


Perlahan tangan Andi bergeser sedikit demi sedikit meraih kedua telapak tangannya Vina, Perasa'an Vina seperti tidak karuan, jantungnya pun mulai berdegup kencang, bibir terasa bergetar ketika tatapan Andi seperti menusuk hati sanubari, lalu Andi menarik kedua tangan Vina di bawa mendekat ke bibir merah nan manis Andi.


Muuach..


Andi mencium punggung telapak tangannya Vina.


"Jaga hatimu di sana untuk gua, mungkin ini terakhir kita bertemu, karena besok gua mesti menyerahkan diri demi menjalani proses hukum, pesan dari gua giatlah belajar agar lo bisa mencapai mimpimu di masa depan." Ujar Andi.


"Jangan bilang yang terakhir An, gue jadi sedih se olah-olah kita tidak akan berjumpa lagi, selama lo' menjalani hukuman nanti jangan lupa ya kabarin gue, meski kita berjauhan tapi hatiku selalu dekat padamu." Ujar Vina.


"Insa Allah Vin."


Selepas itu Vina langsung membayar semua makanan dan minumannya.


Kemudian bergegas keluar dari Restauran tersebut, untuk melanjutkan ke toko butik untuk membeli pakaian.


Dan setelah itu merekapun langsung pulang, kali ini Vina yang nyetir, karena Vina tidak akan mampir dulu di rumah Andi, untuk persiapan keberangkatannya ke singpura.


Setibanya di depan rumah Andi, Vina Mematikan mobilnya.


"Terima kasih ya, sudah mengantarkan gua pulang." Ujar Andi.


"Ya elah An, kan gue yang minta lo' untuk temenin ke butik, dan gue juga harus bertanggung jawab mengantarkan' pulang kerumah lo'." Tukas Vina.

__ADS_1


"Sekali lagi lo' hati-hati ya, Jaga diri baik-baik di sana, ma'af gua tidak bisa mengantrakan lo' ke Bandara." Ujar Andi.


"Tidak apa An, gue pun mengerti posisi lo'." Timpal Vina.


Sebelum Andi membuka pintu mobil, perlahan Andi menggeserkan tubuhnya mendekat ke Vina, lalu Tangan Andi menarik tubub Vina, dan di peluknya erat-erat.


"Ma'apin gua ya." Lirih Andi.


Sa'at tubuh Andi merabat dengan tubuhnya Vina, ada pearsa'an bahagian di hati Vina, darah pun terasa mengalir keseluruh organ se olah membangkitkan gairah cintanya.


Vina pasrah dalam rangkulnya, ingin rasanya Vina mencium pipi Andi yang mulus dan bersih tapi ia merasa malu.


Ke inginan Vina se akan terkabul, Vina merasakan ada sebuah sentuhan lembut di pipinya.


Ke tika itu pula Vina membalasnya, bibir manis Vina menyentuh dengan lembut di pipi Andi.


"I love you Vina Artiyana." Lirih Andi.


Vina lalu mendonggakan wajahnya, menatap pria jangkung berparas tampan, dengan kedua tangannya memegang kedua pipi Andi.


"I love you too Andi Nayaka." Bisik vina bernada sendu.


Setelah itu Andi pun mulai membukakan pintu mobil, lalu melangkah keluar, dan di tutup kembali sambil melambaikan tangannya.


"Hati-hati Vin." Ujar Andi.


"Iya An Sama-sama." Jawab Vina sambil memegang kemudi setirnya.


..................


Ke esokan harinya.


Andi berpamitan pada ibunya, kakaknya dan seluruh keluarganya, seperti yang telah di bicarakan sebelumnya bahwa Andi akan menyerahkan dirinya pada pihak berwajib untuk menjalani proses hukum setelah semuanya terasa kondusip.


Ada perasa'an duka yang mendalam di hati Sindi dan Anggita beserta keluarga besar pak Dirman, tapi apa hendak di kata, akhirnya merekapun menyadari bahwa Andi memang harus bertanggung jawab atas apa yang telah di perbuatnya.


Singkat cerita, Andi sudah menyerahkan dirinya pada pihak berwajib, dan menceritakan semuanya sampai mendetail.


Kemudian Andi pun menjalani proses hukum, atas tindakan yang main hakim sendiri, telah menghabisi nyawa manusia.


Dan Andi kini telah di giring ke ruangan kecil berjeruji besi.


Para penghuni sel langsung terperanjat bangkit begitu petugas penjara membawa pemuda tampan.


"Ada penghuni baru nih, sepertinya orang kaya." Ujarnya sambil memandang temannya yang lain.


Kemudian petugas penjara membuka kunci sel tahanan sambil berkata.


"Atas perbuatanmu kau harus mendekam selama masa tahananmu selesai." Ujar petugas.


Andi pun cuma menganggukan kepalanya, sambil tertunduk tapi bukan takut pada para navi, tapi tertunduk pada rasa bersalahnya.

__ADS_1


Lalu orang yang berbadan kekar, berwajah sangar menghampiri petugas dan bertanya.


"Emangnya anak ini kasusnya apa pak?." Tanya orang itu, yang selaku ketua Gengnya di dalam penjara.


"Anak ini telah membunuh pimpinan Geng Ricard." Jawabnya sambil membalikan badannya meninggalkan jeruji besi.


Semua yang ada di dalam penjara tersontak kaget sambil melangkah mundur, ketika mendengar jawaban dari petugas, se olah tidak percaya, karena di lihat dari tampangnya Andi tidak ada tampang seorang pembunuh.


Lelaki yang berbadan kekar lalu berbisik sama temannya.


"Pemuda ini pembunuh Geng Ricard, kalian percaya gak." Bisiknya.


"Kalau gue sih tidak percaya, sebelum kita tau buktinya." Bisiknya.


"Iya benar, kita kerjain aja penghuni baru itu." Ujarnya sambil menatap bringas pada Andi.


Kemudian lelaki itu memanggil pada Andi dengan kedua netranya menatap sangar.


"Woi penghuni baru, sini lo'." Bentaknya.


"Iya bang ada apa?." Tanya Andi.


"Ada apa, ada apa, lo' selaku warga baru jangan songong lo', cepat perkenalkan siapa namamu." Dengusnya penuh keji.


"Oh iya Bang ma'ap gua lupa, semuanya kenalkan nama Gua Andi Nayaka." Sapa Andi lalu menurunkan bokongnya duduk di lantai sambil bersandar.


"Bangsat lo' belagu amat, setiap ada warga baru harus menuruti perintah gua." Bentaknya.


"Sori Bang gua lagi gak ****." Ujar Andi dengan santainya.


"Setan alas, rupanya penghuni baru ini, harus dihajar, ayo habisin pemuda ini." Serunya memberi komando.


Kedelapan para Navi itu langsung menyerang Andi yang lagi duduk bersandar.


Tidak di sangka dan tidak terduga sebelumnya oleh mereka.


Andi melompat ke atas sambil memutarkan tubuhnya, tidak bisa di hindari lagi tendangan memutar Andi menghntam mereka satu persatu.


Buk buk buk buk buk


Deeeaassss........


Blak blak blak blak blak.


Satu persatu para navi itu berjatuhan menimpa lantai.


Mampukah Andi menjalani kerasnya kehidupan di dalam penjara.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=Bersambung\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™atas dukungannya.

__ADS_1


Salam sehat dan sukses selalu.


__ADS_2