Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 66 Menolong


__ADS_3

Selepas kepergiannya Vina, Andi Kamal, Toglo, Jaroni, Pandi, Gito dan Hasan duduk di bangku sambil ngopi dan makanan cemilan.


Walaupun mereka sudah menginjak usia empat puluh ke atas, cuma Hasan yang usianya lebih tua.


Mereka masih asik sama seperti dulu, ketika mereka kumpul bareng Almarhum Nandi.


Cuma Doni yang tidak nampak hadir karena sudah lama Doni ikut bersama istrinya ke semarang, dan membuka usaha di sana.


"Bos Kamal, mana si kemabar?." Tanya Hasan.


"Ada sama ibuknya di dalam, oh iya kok istrimu tidak nampak Hasan bin maun?." Kamal balik bertanya.


"Istriku lagi ada halangan, berkunjung ke tempat besan." Jawab Hasan.


Gito dan Pandi tersenyum tipis saling menautkan pandangannya.


"Haha, kalian itu sudah tua juga masih sama kaya dulu, kalau bertemu pasti ada aja celotehan yang bikin kita ketawa." Pungkas Pandi.


"Tau tuh, Kamaludin, inget kamu itu sudah hampir setengah abad, masa mau kaya ABG aja." Celetuk Hasan sambil menyeripit kopi di gelas kaca.


"Kamu Hasan bin Maun sudah setengah abad, sudah punya cucu, dan di panggil kakek, hahaha." Ujar Kamal tertawa mengejek.


Andi tertawa tipis sambil memandang pada Kamal dan Hasan.


"Emang Om Kamal sama Paman Hasan dari dulu begitu, paman Gito, Paman Pandi?." Tanya Andi.


"Iya Andi, Om mu dan Paman Hasan memang bawa'annya sudah begitu, kaya Anjing dan kucing." Celetuk Gito.


"Tapi lucu deh, dan asik membuat suasana jadi lebih berwarna." Tukas Andi.


"Apa kamu bilang Andi, lucu, emang Om ini group srimulat." Cetus Kamal.


"Oh iya Andi, pacarmu itu orang mana?." Pungkas Pandi bertanya.


"Bapaknya orang Tasik dan ibuknya orang sini, tinggalnya di Grand City."


"Wah orang kaya dong." Ujar Gito.


"Kok Paman Gito bisa menyimpukan orang tua Vina Kaya." Tukas Andi.


"Ya kalau tinggalnya di situ, bisa di golongkan orang kaya, karena itu komplek perumahan elite, apalagi dia di kawal sama Bodygar." Ujar Gito.


"Iya benar sih Paman, Bapak nya Vina seorang pengusaha ternama di kota ini." Ujar Andi.


"Ya syukur deh, semoga aja kamu dan Vina berjodoh."


"Amiin." Jawab Andi.


Tidak terasa mereka ngobrol ngaler ngidul, sehingga waktu telah menunjukan pukul 15:00, Pandi, Gito dan Hasan pun langsung pamit pulang


Sementara Toglo dan Jaroni masih menemani Andi dan Kamal, berhubung Toglo masih punya tugas mengajarkan Konta dan Kanti bela diri yang sudah mendekati pada tahap sempurna.


Singkat Cerita.


Konta dan Kanti kini sudah menguasai ilmu bela diri Silat cimande dengan sempurna.


Kedua orang tuanya Konta dan Kanti merasa berterima kasih pada Toglo dan Jaroni yang sudah meluangkan waktunya untuk mengajarkan anaknya bela diri.


Sebagai rasa terima kasihnya Astuti dan Kamal, memberikan upah pada Toglo dan Jaroni.


Mulanya Toglo dan Jaroni menolaknya, karena merasa tidak enak hati, padahal Toglo dan Jaroni iklas menurunkan kepandaian bela dirinya pada siapa saja yang mau belajar.


Dengan sangat berat hati Toglo dan Jaroni untuk menerima upah tersebut.


Akhirnya Toglo dan Jaroni terpaksa menerimanya.


Ke esokan harinya.

__ADS_1


Andi Sudah bersiap-siap untuk Otw, ke tempat temanya yang sudah di anggap abangnya sendiri, yang sudah menolongnya ke tika lagi dalam kesusahan.


Motor Yamaha Rx king telah di nyalakan untuk memanaskan mesin.


Lalu Andi melangkah masuk kedalam menuju kamarnya, mengambil Jaket levis berwarna hijau kecoklatan dan sebuah helm.


Setelah keluar dari kamar Andi melangkah menuju dapur untuk menemui Ibuknya.


"Buk aku pamit dulu ya, mau ke rumah teman." Ujar Andi sambil memberi salam lalu di ciumnya punggung telapak tangan ibuknya.


"Emang kamu mau ke tempat siapa?." Tanya Sindi.


"Aku mau ke tempat temanku Buk." Jawab Andi.


"Oh ya sudah, kamu hati-hati dan jaga keselamtan." Ujar Sindi.


Andi pun lalu beranjak keluar rumah menuju motonya yang masih menyala, lalu melangkah menaiki motornya.


Kemudian telapak kaki kiri yang di beralaskan sepatu menginjak pedal porseneleng untuk memasukan gigi pertama dan jari-jari tangan kanan menarik kopling bersama'an dengan menarik gasnya perlahan.


Setelah itu motorpun melaju keluar dari halaman rumah.


Andi Terus mengemudi kendara'annya menyusuri sepanjang jalan Gang Si'iran


Setiba di Jalan Delima raya, Andi menarik gasnya


motorpun melaju dengan kecepatan maximal.


Lalu Andi mengurangi kecepatannya karena lampu stopan sudah berwarna merah.


Dua menit kemudian lampu sudah berwarna hijau, para kendara'an pun sudah melaju, begitu juga Andi langsung mengambil jalur kiri mengambil jalan Angkasa.


Dalam kecepatan yang tidak terlalu cepat ketika melalui jalan yang di disi kiri kanannya di penuhi oleh pohon mahuni, andi terperanjat sambil mengurangi kecepatannya.


Tolooong


Lalu Andi berhenti untuk memastikan suara itu datangnya dari arah mana.


Ketika Andi menoleh kesamping kiri di bawah jalan sebuah lokasi tanah yang miring, nampak terlihat ada se orang wanita yang lagi di kejar tiga pria.


"Wah kasihan tuh wanita itu, gua haris menolongnya." Gerutu Andi bermonolog sambil melompat turun dari motornya.


Andi berlari menuruni tanah miring itu, untuk memberi pertolongan pada wanita yang nampak seperti kerakutan di kejar ke tiga pria.


Ketika wanita itu sudah berhasil di tangkap oleh tiga pria.


Ia menjerit sambil berkata


Toloooong


Tolooong


Seorang pria sudah menindih wanita itu, sepertinya tiga pria itu ingin melakukan hal yang tidak pantas pada wanita tersebut.


Sekelebatan bayangan melesat menendang punggung lelaki tersebut.


Hiiuuukkk


Deeeaasss...


Gurubakkk


Lelaki itu jatuh memutar kesamping.


Kemudian ke dua temannya menoleh pada Andi sambil berkata dengan tatapan matanya yang terlihat garang.


"Woi diapa lo'?." Bentak lelaki itu bertanya.

__ADS_1


"Tidak usah tau siapa gua, kalian para ldlaki bejad , tidak tau malu, cuuiihh." Tukas Andi


"Bangsat apa urusannya, jangan ikut cpur masalah kami, lo' tidak tau masalahnya." Bentaknya.


"Apa pun masalahnya, bila mrlihat ke sewenang-wenangan menari di depan mata, gua pasti akan ikut campur." Ujar Andi.


"Bedebah, cari mati rupanya, heaaa." Kedua lelaki itu langsung menyerang Andi.


Pertempuran pun terjadi.


Andi di keroyok oleh ke tiga lelaki berwajah sangar.


Sementara wanita itu langsung berlari menjauh, lalu menyelinap ke balik pohon yang besar sambil mengintai perkelahiannya Andi dan ke tiga lelaki tersebut.


"Terima kasih ya Allah, engkau telah mengirimkan malaikat penolong pada hamba." Batin wanita tersebut sambil menengadahkan wajahnya ke angkasa.


Sementara Andi dan ketiga lelaki itu, masih terus berlangsung dalam suatu pertempuran yang tidak se imbang.


Sebruuut


Ke tiga lelaki itu menyerang Andi dengan brutal, srpontan Andi melompat mundur sambil menolakan kakinya ke tanah, dan tubuhnya mdlesit ke aats sambil memutarkan tendangannya.


Buk


Buk


Buk


Sapuan tendangan Andi mendarat di ketiga lelaki tersebut.


Blak


Blqk


Blak


Tiga tubuh tinggi besar telah terjatuh.


Lalu ketiga lelaki itu bergerak bangkit dengan wajahnya yang memerah, karena amarahnya yang sudah tidak bisa di bendung lagi.


"Setan alas, ku bunuh kau anak muda." Teriaknya sambil kembali membangun serangan.


Andi tersenyum tipis sambil berkata.


"Ayo maju kalian semua, akan gua jadikan kalian perkedel." Ejek Andi.


Ke tiga lelaki itu semakin memuncak amarahnya, srcepatnya mereka bergerak melakukan serangan pada Andi dengan membabi buta.


Tentu saja itu sangat menguntungkan pada Andi, untuk bisa melumpuhkan nya dengan cepat.


Begitu tiga bogem melesat tanpa karuan, Andi bergerak dengan membungkukan badannya, sambil melakukan serangan balasan dengan menyusupkan pukulannya pada ulu hati salah se orang.


Buuuuukkk.


Hheeeuuu...Lelaki itu lang membungkuk menahan sakit dan sesak di pernapasannya.


Lalu kedua lelaki merubah serangannya, sambil melompat dengan luncuran tinjunya mengarah pada wajah tampan Andi.


Andi mengeserkan kuda-kudanya kesamping, sambil mrnggunting serangan dari salah satunya dengan tangan kiri, dan tangan kanannya bergerak cepat dalam sebuah tusukan elbo.


Duuukkk.


Elbo yang sangat keras begitu akurat menusuk lehernya.


Auuugghhh.


Blaaak.

__ADS_1


Salah satu dari kedua lelaki itu terjungkal, meringis menahan rasa sakit di lehernya yang serasa remuk.


__ADS_2